
"Maaf, Nek! Kalo boleh tau, tujuan nenek pergi ke mana?" tanya Ruman lagi.
"Jalan xxxxx,"
Ruman kaget karena alamat tersebut merupakan alamat rumahnya.
"Jadi benar, mungkin Bi Minah, yang sudah menghubungi nek Jamilah," ucap Ruman dalam hatinya.
Karena merasa tidak enak, akhirnya Ruman membawa serta nek Jamilah untuk ke rumahnya. Padahal ia sendiri lebih percaya kepada dokter.
"Kalo begitu, naiklah ke mobil saya, Nek! Kebetulan, wanita yang akan melahirkan bayi kembar itu adalah istri saya sendiri," kata Ruman.
Nek Jamilah tersenyum menyeringai. Ruman dan Nek Jamilah akhirnya segera pergi dari tempat tersebut.
Setalah sampai di rumah, Bi Minah sedikit kaget saat melihat Ruman pulang bersama nenek tua yang belum pernah ia lihat. Biasanya, tuan-nya itu akan memanggil dokter bukan dukun.
Bi Minah tidak berani untuk bertanya soal nek Jamilah kepada Ruman.
"Dimana istrimu?" tanya Nek Jamilah.
"Ada di kamarnya, Nek ... Bi, tolong kamu antarkan nek Jamilah ke kamar, saya akan berganti pakaian dulu," ucap Ruman dengan keadaan basah kuyup.
"Baik, Pak!" jawab Bi Minah.
Bi Minah kemudian mengantarkan Nek Jamilah ke kamar Saras yang sudah tidak tahan menahan sakit.
"Bi, gimana, suami saya sudah sampai belom?" tanya Saras sambil memegangi perutnya.
"Sudah, Bu! Beliau sedang membersihkan badan," jawab Bi Minah.
Nek Jamilah tersenyum kegirangan melihat Saras dengan perut buncitnya itu.
"Siapa dia, Bi?" tanya Saras menunjuk nek Jamilah.
"Dukun bayi, Bu! Bapak yang membawanya pulang," jawab Bi Minah.
"Saya akan membantu kamu melahirkan, jangan takut. Ikuti aba-aba dari saya yah!" ucap Nek Jamilah mulai mendekati Saras.
Saras merasa ketakutan melihat ekspresi nek Jamilah, yang terkesan ingin memangsa. Tetapi, rasa sakit yang ia rasakan mampu mengalahkan ketakutannya.
Nek Jamilah sudah membentangkan kedua kaki Saras. Dia perlahan mulai menyentuh perut Saras dan mendorongnya ke bawah.
"Sakit, Nek!" teriak Saras.
"Hirup nafasmu, dan hembuskan secara perlahan. Lakukan itu berulang," ucap Nek Jamilah.
Mata Jamilah berbinar, bibirnya mengembangkan senyuman yang tiada lepas hingga memperlihatkan giginya yang hitam dan runcing. Saras yang merasa ketakutan mencoba untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
Bi Minah mencoba untuk mendekat membantu nek Jamilah, tapi, nek Jamilah malah mengusirnya. Sedangkan Ruman masih sibuk membersihkan badannya yang tak kunjung selesai.
Ayah Ruman merasa gelisah di dalam angkutannya. Ia terus berdo'a untuk keselamatan mantu dan calon cucunya.
"Pak, bisakah kita lebih cepat lagi?" tanya Ayah Ruman kepada sopir bus.
"Sudah cepat ini, Mbah!" ucap pak sopir.
"Njenengan mau turun dimana?" tanya sang sopir lagi.
"Di terminal K," jawab ayah Ruman.
"Oh, sebentar lagi koq, Mbah!" jawab sang sopir.
Setelah selesai, Ruman menuju kamarnya untuk menemui istrinya.
Nek Jamilah begitu sumringah ketika bayi pertama lahir bersama ari-arinya. Nek Jamilah bukannya menggendong si bayi, ia justru menggendong ari-ari tersebut dengan tatapan yang tidak sabar ingin menyantapnya. Bi Minah berangsur maju mengambil bayi pertama yang keluar karena tidak menangis.
"Hihihi, akhirnya, ari-ari bayi kembar dapat ku nikmati lagi, hahaha!" seru nek Jamilah diiringi tawa.
Bi Minah dan Saras begitu shock melihat dan mendengar suara nek Jamilah.
"Siapa kamu ini, kembalikan ari-ari itu," ucap Bi Minah sambil menggendong bayi pertama.
"Hihihi, terimakasih yah sudah mau membantuku hihihi," nek Jamilah menimang ari-ari tersebut sambil sesekali menjilatinya.
Saras ingin ikut berbicara, namun tenaganya sepertinya habis, dan ia ingin melahirkan lagi.
"Siapa kamu sebenarnya, kembalikan ari-ari anakku," ucap Ruman dengan berang, saat melihat nek Jamilah menjilati ari-ari tersebut.
"Bapak, bayinya tidak mau menangis, diam saja, bagaimana ini," ucap Bi Minah.
Ruman terlihat sangat panik. Ia kemudian mendekati bayinya, dan kemudian beralih ke Saras yang hendak melahirkan lagi.
"Bi, tolong telepon dokter, suruh ke sini cepat!" teriak Ruman.
"Baik, Pak!" ucap Bi Minah berlari menuju telpon rumah yang berada di ruang tamu, sambil menggendong bayi pertama.
"Hihihi, terimakasih Ruman karena sudah mengantarkan aku ke rumahmu sendiri, aku pergi dulu yah, hihihi," nek Jamilah kemudian berjalan keluar sambil terus menjilati ari-ari tersebut.
Cepok, Cepok, terdengar suara dari ari-ari yang nek Jamilah jilati sambil berjalan. Ruman yang merasa bingung dan panik lebih memilih membantu istrinya untuk melahirkan lagi. Bayi kedua kemudian keluar dengan tangisan yang sangat keras.
Ruman menangis seketika, Saras terkulai lemas di atas ranjangnya. Darah segar berceceran di spray dan juga lantai.
Bi Minah berhasil menghubungi dokter, dan ia hendak berbalik ke kamar Saras. Ia kaget hampir terjerembab ke belakang karena melihat nek Jamilah dengan giginya yang hitam dan runcing tengah mengigit ari-ari tersebut sedikit demi sedikit, seperti seorang anak kecil yang sedang makan jajan di sayang-sayang agar tidak cepat habis.
"Astagfirulloh!" pekik Bi Minah.
__ADS_1
Brak!
Suara dobragan pintu utama terdengar sangat keras. Ayah Ruman berdiri diambang pintu dengan tasbih di tangan kanannya. Ia melempar tas rangselnya begitu saja.
Bi Minah dan nek Jamilah spontan melirik ke arah Ayah Ruman.
"Mbah Kakung," ucap Bi Minah merasa sangat senang.
"Kembalikan ari-ari cucuku," teriak Ayah Ruman.
"Hihihi, tidak mungkin, Hiyaaaa!" Nek Jamilah melompat dengan langkah lebar hingga bisa melewati ayah Ruman dengan gampang.
Nek Jamilah sudah berada di luar rumah. Ayah Ruman berbalik dan mulai menyerang nek Jamilah, beberapa kali ayah Ruman melempar tasbihnya ke arah nek Jamilah. Namun, dengan lihai, nek Jamilah mampu menghindar.
Hujan sudah berhenti, malam yang sunyi terdengar begitu ramai akibat perkelahian ayah Ruman dan Nek Jamilah. Sedangkan suara tangis bayi Ruman terdengar di seluruh penjuru rumah.
Para tetangga Ruman sebagian terbangun dan keluar dari rumah menyaksikan pertarungan ayah Ruman dan Nek Jamilah. Sementar ibu-ibu yang lain menolong Saras di dalam.
"Tangkap aku kalo kamu bisa," ucap Nek Jamilah kemudian ia terbang.
Memang aneh, tapi nek Jamilah benar bisa terbang, seperti berlari di udara sambil membawa ari-ari ditangannya. Bunyi pok pok terdengar lirih.
Ayah Ruman mengejar nek Jamilah dengan terbang juga menggunakan sorban putih yang ia kalungkan di lehernya.
"Bismillah, Allohu Akbar!" teriak ayah Ruman mengejar nek Jamilah.
Semua tetangga Ruman yang menyaksikan kejadian itu hampir tidak percaya. Tapi itu nyata, dan mereka melihat dengan mata mereka sendiri.
"Astagfirulloh, astaghfirulloh," ucap tetangga Ruman.
"Apa yang harus kita lakukan!"
"Ayo, ikuti mereka. Kita tolong Mbah Kakung,"
"Ayo!"
Beberapa tetangga Ruman ikut mengejar nek Jamilah dan ayah Ruman dengan berlari sambil memandang ke atas supaya tidak kehilangan jejak.
Mereka sampai di sebuah rawa yang besar, ayah Ruman dan Nek Jamilah bertarung dengan sengit. Sedangkan pada warga hanya menyaksikan dengan terheran-heran. Seperti dalam film-film, ada kekuatan yang tidak dapat di lihat oleh mata telanjang, namun, bisa mengenai lawannya.
"Hiya, hiya, bismillah," ayah Ruman membacakan suatu ayat.
Dengan seluruh tenaga ia menangkal kekuatan dari nek Jamilah yang tampak mengigit separuh ari-ari tersebut.
"Dengan izin Alloh penguasa alam semesta dan isinya, terkutuklah kamu iblis setan, terkurunglah kamu untuk selama-lamanya di sini, Allohu Akbar!" Ayah Ruman berseru sambil melemparkan tasbih miliknya yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah rantai yang bersinar-sinar.
Tasbih tersebut kemudian melilit tubuh nek Jamilah, nek Jamilah menjerit sehingga sebagian ari-ari tersebut terjatuh dari mulutnya. Sebagian lagi menancap di mulutnya, tanpa bisa masuk ke dalam tenggorokannya.
__ADS_1
"Arrgghhhhh! Sakitttt! Lepaskan aku, lepaskan aku!" Nek Jamilah terus menceracau tidak jelas.
"Hiyaa!" Ayah Ruman terbang dan menangkap ari-ari yang terjatuh ke dalam rawa.