
Marsel berhenti sebentar. Ingin rasanya ia menengok dan membuka matanya. Namun, ia masih terngiang perintah dari Kang Ridwan.
"Marsel, kenapa kamu pergi ninggalin aku! Tunggu aku, Sel! Kemarilah, sayangku!"
"Aku yakin, itu bukanlah, Mawar! Lebih baik, aku lari lagi," ucap Marsel dalam hatinya.
Dengan pendirian teguh, Marsel berlari kembali tanpa menghiraukan suara-suara yang berusaha menggoyahkannya.
***
Mawar berada di kamarnya, ia masih memikirkan cara untuk keluar dari dalam rumah Ndoro Kusuma, ia mondar mandir sambil menggigit jarinya.
"Ya Alloh, apa yang harus aku lakukan, aku dan Mira harus bisa keluar dari sini, apalagi dengan kondisi Mira yang sudah memprihatinkan, berilah hamba petunjuk," Mawar mengadah ke langit, kedua tangannya diangkat.
Tiba-tiba ada suara datang memanggil namanya.
"Assalamu'alaikum, Mawar! Mawar!"
Mawar menajamkan pendengarannya, ia tak mengenal suara tersebut. Mungkinkah petunjuk dari Tuhan?
"Mawar, jika kamu mendengar suaraku, jawablah aku!" ucap Pak Kyai lewat meditasinya.
"Iya, aku mendengar suaramu, siapa kamu?" tanya Mawar sambil melihat ke atas, ia memutar kepalanya mencari sumber suara tersebut.
"Aku adalah hamba Alloh, yang diperkenankan untuk membantumu. Mawar, dengarkan aku baik-baik, aku akan menuntunmu keluar dari rumah Ndoro Kusuma, ikuti setiap arahan yang aku berikan, dan jangan lupa berhati-hatilah,"
Mawar terharu mendengar suara tersebut, ia bersyukur karena do'a yang ia panjatkan telah di dengar oleh Sang Pencipta.
"Iya, aku akan mengikutimu, apa yang harus aku lakukan!" tanya Mawar.
"Apakah kau tau sebuah pusaka dengan bentuk Naga?"
"Iya, aku melihatnya, pusaka itu ada di singgasana Ndoro Kusuma, tapi, singgasana itu cukup tinggi, tanganku tidak akan sampai menggapainya,"
"Apakah ada diantara temanmu yang masih bisa kau ajak pulang?" tanya Pak Kyai.
"Iya, aku punya teman yang bisa aku ajak," jawab Mawar dengan cepat, raut wajahnya terlihat bahagia.
"Ajaklah dia, bekerja sama lah dengan dia, kau bisa mengambil pusaka itu dengan bantuannya,"
"Iya, lalu kapan aku bisa mengambilnya?"
"Apakah akan ada pertunjukan lagi?"
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi, Burhan akan datang menghampiriku, mengantarku ke tempat pertunjukan itu,"
"Dengarkan aku, Mawar! Burhan sudah mati, yang akan menjemputmu adalah Ndoro Kusuma, dengan wujud Burhan. Kamu perlu berhati-hati dengan–nya, dia bisa merubah wujudnya menjadi siapa pun. Kamu jangan sampai tekecoh. Apabila kamu tak lagi mendengar suaraku, itu berarti, orang yang berada di sampingmu adalah Ndoro Kusuma. Jika kamu sedang sendiri, atau kamu merasa, Ndoro Kusuma tidak ada di sampingmu, takbirlah, maka, aku akan segera memberi petunjuk lagi untukmu. Apakah kamu paham dengan nasehatku?"
"Iya, aku paham. Aku akan mengingat baik-baik perintahmu,"
"Dengarkan aku juga, saat kau berhasil mengambil pusaka itu, segeralah berlari ke belakang panggung, teruslah berlari jangan sampai menengok ke belakang,"
Mawar merasa gugup dengan petunjuk suara Pak Kyai. Belum sempat menjawab, Burhan masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya memang wajah Burhan, tetapi, tatapannya sangat berbeda. Tatapan Burhan kali ini lebih seram, lebih menyeringai, dan menyelidik.
Mawar mundur beberapa langkah, ia mencoba mengatur nafasnya. Dirinya sangat gugup beberapa kali Mawar menelan ludahnya sendiri.
"Dia pasti Ndoro Kusuma!" kata Mawar dalam hatinya.
"Ikuti aku!" perintah Burhan dengan wajah sangarnya.
Mawar mengangguk kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Burhan yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Kalo Ndoro Kusuma menjadi Burhan, lalu siapa yang akan duduk di singgasananya! Setelah menuruni tangga panjang ini, aku pasti menghadap Ndoro Kusuma," ucap Mawar kembali dalam hatinya.
Mata barong yang menempel di dinding mengikuti langkah Mawar. Para dayang yang berjajar juga menatapnya dengan tajam.
Mawar kembali menghadap Ndoro Kusuma, ia sesekali menatap pusaka dengan bentuk Naga tersebut.
Sampai lah para gadis tersebut di lapangan, mereka berbaris rapih seperti biasanya, alunan musik gamelan terdengar kalem. Mawar mencari sosok Mira, ia celingukan kesana kemari.
"Mawar, dapatkah kamu mendengar suaraku kembali?" tanya Pak Kyai dari seberang sana.
"Iya, aku mendengar," ucap Mawar dengan suara lirih.
Pak Kyai merasa, suara Mawar terdengar samar. Ia sedikit menggerakan kepalanya sekedar menajamkan pendengarannya.
Wulan, Saras, dan Ruman memperhatikan Pak Kyai dengan perasaan was-was.
***
Marsel terus berlari, namun tiba-tiba, ia merasa menabrak sesuatu, dengan mata yang masih terpejam, ia berhenti dan mencoba meraba dengan tangan–nya, ia merasakan benda hidup, menggeliat, kenyal, dan berlendir. Seketika, jantungnya memompa darah lebih cepat. Dadanya berdebar berkali lipat, keringat mulai bercucuran, badannya bergetar hebat, ia mencoba mundur beberapa langkah, namun terasa berat kakinya.
"Ya Alloh, makhluk apa yang tengah berdiri di depanku?" ucap Marsel dalam hatinya.
Marsel merasa ketakutan, kemudian ia berdo'a dalam hatinya, mengucap kalimat Alloh yang ia ketahui.
Makhluk di depannya berdesis, Marsel merasakan nafas berat tepat di wajahnya. Ia mampu mencium bau lendir, yang amis.
__ADS_1
Marsel menarik kedua tangannya ke belakang.
Lalu suara Kang Ridwan terdengar di telinganya.
"Teruslah berlari, fokuskan hati dan pikiranmu, bahwa tidak ada apa-apa di depanmu, jangan takut, dan ingat, jangan sekali-kali kamu membuka mata,"
Marsel kemudian mencoba untuk fokus. "Tak ada apa-apa di depanmu, yang ada di depanmu hanyalah jalan lurus menuju pintu keluar, Marsel!"
Marsel meyakinkan dirinya sendiri. Ia kemudian mengambil ancang-ancang dan siap berlari menembus Makhluk berlendir tersebut. Nafasnya menderu. Panas di tubuhnya semakin ia rasakan.
Rasa haus begitu mencekat di tenggorokan.
Saat dirinya hampir menyerah, ia melihat cahaya, kemudian ia berhasil keluar dari jalan yang baru saja di babad.
"Hosh, hosh, hosh!" Marsel ngos-ngosan.
Marsel terjatuh tepat di hadapan Saras, Ruman dan Wulan. Ketiga sopir yang terkejut kemudian memberanikan diri untuk menolong.
"Ya Alloh, Marsel! Ada apa?" tanya Wulan terlihat panik.
"Air, air," pinta Marsel dengan nafas yang tidak beraturan.
Salah satu sopir berlari untuk mengambil air mineral, kemudian ia memberikannya kepada Wulan.
"Ini, Mbak!" ucap Sopir.
"Terimakasih," ucap Mawar segera menyaut botol mineral, dan membukanya.
Ruman membantu Marsel untuk duduk, dan disandarkan di tubuhnya.
"Ini, Sel! Minumlah dulu," kata Wulan.
Marsel meraih botol tersebut dan segera meneguknya sampai habis.
Perlahan, ia membuka matanya, masih terlihat samar. Apalagi cahaya matahari terik menyilaukan matanya.
"Sel, kamu tidak apa-apa?" tanya Wulan.
"Apa yang terjadi, Nak Marsel?" tanya Saras.
Marsel masih mengatur nafasnya, ia bersyukur karena bisa sampai di tempat semula dengan selamat.
"Sekarang jam berapa, Lan? Aku berlari sangat jauh, aku pikir tidak akan sampai di sini," tanya Marsel heran, di dalam hutan yang ia babad, tidak ada cahaya matahari, hanya ada kegelapan.
__ADS_1