Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
44. Mira


__ADS_3

Mawar melihat ke sekelilingnya, ia terlihat kebingungan.


"Mira, Mir!" seru Mawar sambil celingukan.


"Mawar!" seru Saras ketika melihat Mawar yang tengah celingukan mencari seseorang.


Mawar mencari sumber suara tersebut. Ia mengenal suara itu.


Dari kejauhan, Saras dan Ruman berlari menghampiri anak semata wayangnya. Mawar melihat Ruman dan Saras dengan tatapan rindu yang teramat dalam, air matanya tanpa terasa menetes, melihat dua sosok berlari menghampiri dirinya.


Semua yang menyaksikannya ikut terhanyut dalam suasana sendu itu. Adam dan Wulan merasa bahagia melihat Mawar dalam keadaan baik-baik saja.


"Ibu! Bapak!" seru Mawar dengan lantang, ketika melihat sosok yang sudah lama ia rindukan itu berlari ke arahnya.


Saras dan Ruman terus menangis tersedu melihat anak yang selama ini hilang dari pandangan mereka, kini hadir kembali dengan penampilan yang memprihatinkan.


Kang Ridwan dan yang lainnya ikut bahagia melihat Saras dan Ruman. Mereka menghampiri Mawar bersama dengan langkah cepat. Sementara Ruman dan Saras sudah memeluk putrinya dengan erat.


"Anakku, ya Alloh, Anakku!" ucap Saras terisak memeluk Mawar.


Ruman dan Saras memeluk erat putri mereka, dengan air mata yang terus mengalir. Bahkan, Ruman tak sanggup berkata apa-apa lagi melihat kondisi putrinya.


"Mawar! Alhamdulillah, kamu baik-baik saja!" ucap Wulan terharu.


Mawar mengangguk dalam pelukan Saras, mendengar penuturan Wulan.


Setelah puas memeluk putrinya, Saras melepaskannya, dan membiarkan Mawar bernafas dengan lega.


"Ini, minumlah, Nak! Ibu sengaja membawa air minum untukmu," ucap Saras sambil memberikan botol.


Mawar tersenyum kemudian langsung menyaut botol tersebut dan meminumnya dengan beringas.


Rasa hausnya sudah tidak tertahankan.


"Pelan-pelan, Nak!" ucap Saras sambil mengelus punggung Mawar.


"Aw," Mawar mengeluh memegang perutnya yang perih dan nyeri.


Iya, itu wajar terjadi, karena dia tidak makan apa-apa, dan langsung minum dengan porsi banyak.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Ruman.


Mawar menggeleng dengan masih tersenyum.


"Pak Ruman, sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini," ucap Kang Ridwan memperingatkan.


"Iya, Kang ... Ayo Mawar, kita segera keluar dari sini," ucap Saras sambil memegang tangan Mawar dengan erat.


Saras masih tidak percaya, setelah sepuluh bulan berlalu, ia berhasil bertemu dengan puterinya kembali.


Mereka semua kemudian kembali berjalan, tiba-tiba, Mawar menghentikan langkahnya.


"Tunggu!" Mawar berhenti di tempatnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Saras.


Kang Ridwan dan yang lainnya pun ikut berhenti, melirik ke arah Mawar yang terpaku.


"Ibu, Mawar harus cari Mira," ucap Mawar celingukan.


"Mira? Siapa dia?" tanya Saras.


"Kamu bersama seseorang, War?" tanya Wulan.


"Iya, Lan, dia pasti di sini juga, ayo, cari dia!" Mawar kemudian mulai berjalan ke sana kemari, diikuti yang lain.


"Mawar, kamu jangan jauh-jauh dari ibu, tunggu ibu, Nak!" teriak Saras, yang masih ketakutan jika ditinggal puterinya lagi.


"Mira, Mir ...." Mawar berteriak memanggil Mira.


Semuanya kemudian berpencar untuk mencari Mira. Dimas kemudian berteriak ketika melihat jasad seorang perempuan dengan kondisi mengenaskan. Darah mengering disekujur tubuhnya, sebagian rambutnya hilang. Tubuhnya sudah pucat dan kaku.


"Di sini, di sini ada jasad," teriak Dimas.


Semua orang berlari menghampiri Dimas yang tampak kaget melihat jasad di depannya.


"Inalillahiroji'un," ucap semua orang.


Mawar menerobos masuk melewati celah Dimas dan juga Aziz. Mawar terbelalak. Ia tertegun, dan air matanya kembali menetes.

__ADS_1


"Miraaaaaa!" pekik Mawar kemudian jatuh pingsan melihat sahabatnya terbujur kaku.


"Mawar!" teriak Saras dan Wulan.


Kang Ridwan kemudian memerintahkan Aziz dan Dimas untuk membawa jasad Mira dengan di bantu kedua sopir. Sementara, Mawar dibopong oleh Ruman.


Mereka kemudian pergi meninggalkan makam dan berjalan menuju ke perahu.


Wulan tampak berpikir sepanjang jalan.


"Mira, apakah dia Mira anak dari Umi Fatma?" batin Wulan dengan penasaran.


Dua perahu sudah terisi dengan dua motor dan satu diantaranya dengan jasad Mira.


"Pelan-pelan saja, Pak! Karena kita kelebihan muatan, takut kalo terjadi sesuatu," ucap Adam kepada Pak Sopir.


Adam, Wulan, dan satu sopir beserta satu motor siap berangkat.


Aziz, Dimas, Sopir, dan juga satu motor sudah siap berangkat juga. Sementara, jasad Mira ikut bersama rombongan Mawar.


Mereka menyebrangi rawa kembali dengan hening tanpa suara sedikitpun. Sementara Wulan, terus berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia teringat dengan tas yang dibawanya. Perlahan ia mencoba membuka isi dompet yah berada didalam tas tersebut.


Adam hanya memperhatikan istrinya itu tanpa mengeluarkan suara apapun.


Dompet itu dingin, dan lembab, isinya ada beberapa kartu dan juga uang yang sudah luntur. Wulan terpana ketika melihat satu Poto terpampang di sana. Hampir saja Wulan memekik, jika saja Adam tidak segera membukam mulutnya.


Adam membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya ke arah Wulan, yang tengah terbelalak kaget. Jantungnya bertalu-talu melihat Poto tersebut.


Wulan mencoba mengatur nafasnya, kemudian menunjukan Poto tersebut kepada Adam. Meskipun sudah luntur, tapi wajah dalam Poto tersebut masih bisa dikenali.


Adam sama kagetnya dengan Wulan. Ia benar-benar tak menyangka, jika anak Umi Fatma ternyata ikut keselong bersama Mawar.


***


Pak Sopir berpegang kuat pada kedua sisi batu yang hampir saja terlepas dari genggaman tangannya. Ia menangis ketakutan merasakan guncangan yang besar di dalam perut ikan tersebut.


Tiba-tiba saja, air yang seperti danau itu, mendadak tersedot ke bawah. Pak Sopir merasa ketakutan.


"Ya Alloh, mau dibawa kemana ini saya, huwuwuwu," Pak Sopir menangis tersedu.

__ADS_1


Pak sopir kemudian ikut tersedot masuk kedalam sebuah lubang hitam.


__ADS_2