Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 18 : Kabar Dari Pak Kyai


__ADS_3

Setelah tiga jam menunggu, akhirnya Pak Kyai bangun dari tidurnya, tubuhnya terlihat lebih bugar, meski raut wajahnya masih pucat.


Bu Nyai membantu Pak Kyai untuk bersandar.


"Abah, makan dulu yah?" kata Bu Nyai dengan nada membujuk.


"Tidak, Mah, Abah ingin minum saja." Kata Pak Kyai sambil menahan tenggorokannya yang terasa kering.


Bu Nyai kemudian memberikan segelas air putih hangat untuk Pak Kyai.


Pak Kyai meminumnya sampai habis tak tersisa.


"Terimakasih, Mah."


"Sama-sama, Bah." Bu Nyai mengambil gelas kosong yang berada di tangan, Pak Kyai. Kemudian meletakannya di meja samping kamar.


"Abah, apa yang terjadi dengan, Abah? Kenapa Abah sampai muntah darah? Bahkan, hidung Abah juga mimisan!" Bu Nyai bertanya dengan perasaan yang masih khawatir.


Sementara Aziz dan Dimas hanya menyimak tanpa berkata apapun.


"Tidak apa-apa, Mah. Abah, hanya bermeditasi seperti biasa," jawab Pak Kyai diiringi senyuman.


"Abah, bohong! Katakanlah kepada kami, Bah. Apa yang sebenarnya terjadi dalam meditasimu?" tanya Bu Nyai kembali.


Pak Kyai mengehela nafas, dengan mengucap bismillah, beliau kemudian bercerita.


"Ini tentang pertolongan dari, Nak Wulan, perihal hilangnya, Mawar yang sudah empat bulan ini." Tutur Pak Kyai dengan nada bicara yang pelan, Namun penuh keraguan.


"Apa yang terjadi, Pak Kyai? Apakah, Pak Kyai sudah bisa menemukannya?" tanya Aziz.


Pak Kyai menggelengkan kepalanya.


"Saya baru saja berada di tempat hilangnya Mawar." Pak Kyai terdiam sejenak sambil membayangkan, betapa mengerikannya sosok mahkluk yang ia jumpai.


"Dimas, tolong kamu sambungkan telepon dengan, Nak Wulan. Saya akan mengobrol dengannya." Kata Pak Kyai dengan perasaan yang tidak tenang.

__ADS_1


"Nggeh, Pak Kyai." Dimas mengambil hape dari dalam tasnya, ia segera mencari nomor Wulan, dan segera menghubunginya.


Di sisi lain, Wulan tengah selesai menjemur cuciannya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, begitu mendengar suara hapenya berdering, Wulan segera bangun dan mencabut hapenya yang sedang di cas di samping kasurnya.


"Pak Kyai!" Ucapnya, Wulan segera menekan tombol jawab.


"Hallo, assalamu'alaikum," jawab Wulan dari rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, Mbak Wulan kan?" Dimas mencoba memastikan.


"Iya, saya sendiri, Mas, ada apa yah?" jawab Wulan, kemudian duduk di samping kasurnya.


"Begini, Mbak, Pak Kyai mau berbicara sama sampean," Dimas memberikan hapenya kepada Pak Kyai. "Ini, Pak Kyai,"


Wulan menunggu dengan perasaan deg-degan.


"Assalamu'alaikum, Nak Wulan," sapa Pak Kyai dari dalam telepon.


"Wa'alaikumsalam, Pak Kyai, bagaimana kabarnya, Pak Kyai? Sehat kan?" tanya Wulan senang.


"Alhamdulillah, saya dan keluarga sehat juga, Pak Kyai. Saya sangat senang karena Pak Kyai mau menghubungi saya, saya sangat berterimakasih,"


"Iya, iya," Pak Kyai menghela nafasnya lagi, dan bergumam. "Begini, Nak Wulan, maksud saya menghubungi, Nak Wulan karena ingin membicarakan tentang temanmu yang hilang itu."


Wulan merasa sangat gembira begitu dengar kalimat dari Pak Kyai.


"Alhamdulillah, bagaimana, Pak Kyai, apakah njenengan sudah bisa menemukannya? Bagaimana kondisi, Mawar sekarang?"


Wulan bertanya dengan tergesa-gesa.


Pak Kyai tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Wulan.


"Begini, Nak Wulan. Saya baru saja mencobanya, Namun, saya belum dapat menemukannya. Saya hanya menemukan sebuah motor matic, dan sebuah hape.


Kalo tidak salah, plat nya bernomor B 3221 NG, silahkan cek terlebih dahulu, apakah benar plat nomor tersebut milik Mawar, temanmu yang hilang itu!"

__ADS_1


"Baiklah, Pak Kyai, nanti saya akan mengeceknya, dan segera menghubungi Pak Kyai kembali. Tapi selain itu, apa ada lagi yang Pak Kyai lihat?" Wulan bertanya sambil mencatat nomor plat yang diberitahu Pak Kyai.


"Iya, kalo memang benar itu motor temanmu, bisa saya katakan disini, kalau temanmu, benar keselong, dan masuk ke dalam sarang demit."


Kata Pak Kyai dengan nada bergetar. Aziz, Dimas, dan Bu Nyai yang mendengarnya saling berpandangan.


Wulan di dalam telepon juga merasa deg-degan, jantungnya memompa lebih cepat lagi dari sebelumnya. Tanpa, Wulan sadari, ia sampai berkeringat mendengar penuturan Pak Kyai.


Pak Kyai kemudian melanjutkan kalimatnya lagi.


"Ini, akan memakan waktu lama, Nak Wulan, saya sendiri tidak sanggup, tapi saya akan terus mencobanya. Baru bertemu ajudannya saja, saya sudah kalah, apalagi dengan Ratunya! Pesan saya, kamu, dan keluarga Mawar jangan berhenti untuk berdo'a, seusai sholat jangan lupakan untuk berdzikir dan mengirim do'a kepada Mawar. Saya akan membantu sebisa saya, selebihnya, kita serahkan kepada Alloh SWT."


Wulan merinding dan merasa takut mendengar ungkapan Pak Kyai. Pak Kyai saja bisa berkata seperti itu, lantas bagaimana dengan Mawar yang berada di sana?


"Baiklah, Pak Kyai, saya akan mengingat pesan Pak Kyai, dan saya juga sangat berterimakasih kepada Pak Kyai karena sudah mau membantu kami disini. Semoga, Pak Kyai selalu di berikan kesehatan oleh Alloh SWT, saya akan menunggu kabar lagi, Pak Kyai," kata Wulan sebelum mengakhiri percakapannya.


"Insya Alloh, Nak Wulan, saya akan memberi kabar lagi, saya minta maaf juga karena tidak bisa datang ke kotamu. Saya akan membantu dari sini. Kalo begitu, saya tutup teleponnya, assalamu'alaikum," Pak Kyai menutup telepnya, dan memberikan hapenya kepada Dimas.


"Wa'alaikumsalam," jawab Wulan dengan badan yang terasa lemas, setelah mendengar kabar dari Pak Kyai.


"Abah, memangnya seperti apa wujud ajudan yang, Abah temui?" Bu Nyai bertanya kembali.


"Entahlah, Mah. Abah hanya melihat bagian hidungnya saja. Tubuhnya sangat besar sekali, dan juga bau busuk. Suaranya menggelegar. Demit itu hanya mengeluarkan aura negatifnya saja, tapi Abah sudah tidak kuat." Jawab Abah sambil bergidik ngeri.


"Pak Kyai hanya belum fit saja, tapi sudah berani merogo sukmo, Pak Kyai pikir, Pak Kyai menghadapi sejenis Mak Lampir dan Genderuwo, makanya dengan tubuh yang kurang sehat, Pak Kyai berani merogo sukmo." Aziz memberanikan diri untuk berkomentar.


"Benar, Pak Kyai habis perjalanan jauh, dan tubuh Pak Kyai sedang kurang sehat, saya sarankan untuk menunda dulu pekerjaan ini, tunggulah sampai, Pak Kyai benar-benar pulih, jangan memaksakan karena setelah mendengar cerita dari Pak Kyai, sepertinya, lawan Pak Kyai kali ini, bukan demit kaleng-kaleng." Dimas membumbuhi.


"Aziz dan Dimas benar, Bah. Sebaiknya, Abah istirahat total dulu, sebelum melanjutkan pekerjaan ini karena resikonya besar untuk Abah sendiri, Ummah tidak mau terjadi sesuatu dengan, Abah." Kata Bu Nyai dengan tatapan memohon.


"Iya, kalian benar, saya akan istirahat dulu. Dimas, nanti kamu tolong hubungi Pak Ridwan yah, kalau beliau sedang tidak sibuk, suruh beliau untuk main kesini, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan dengannya." Kata Pak Kyai dengan memejamkan matanya.


"Nggeh, Pak Kyai." Dimas mengangguk.


Kemudian mereka bertiga meninggalkan Pak Kyai sendiri di kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2