Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
46. Aneh


__ADS_3

Setelah selesai memasak dan sarapan bersama, Umi Fatma dan Abi Ilham bersiap-siap menuju alamat yang diberikan oleh Wulan.


Mereka berdo'a terlebih dahulu, sebelum berangkat ke alamat tujuan tersebut.


"Bismillah, semoga tidak ada hal buruk ya, Bi," ucap Umi Fatma.


"Amin," jawab Abi Ilham diiringi senyuman.


***


Marsel menunggu Mawar, ia memegang tangan Mawar dan mengelusnya pelan. Sudah tak sabar rasanya, ingin bercengkrama dan bersendau gurau seperti dulu. Kalo saja, ia sudah menjadi suami, Mawar, ia ingin sekali memeluk tubuh yang kini tengah berbaring di atas kasur tersebut.


"War, cepatlah bangun, aku ingin sekali mendengar ceritamu. Dan kita berdua akan segera membuat cerita baru bersama," batin Marsel.


Marsel terus menatap Mawar dengan penuh kasih sayang.


Saras dan Ruman melihat itu dari balik pintu, mereka terharu.


"Pak, setelah keadaan membaik, kita harus segera nikahkan mereka. Itu sudah menjadi janji kita yang harus di tepati," ucap Saras kepada suaminya.


"Iya, Bu," jawab Ruman.


Mawar tengah bermimpi, ia sedang duduk di tepi danau bersama Mira, mereka berdua tersenyum bahagia menikmati senja di sore hari.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa keluar bersama dari rumah, Ndoro Kusuma ya, Mir," ucap Mawar dengan senyuman yang terus mengembang dari bibirnya.


"Iya, War. Aku minta maaf ya, karena sudah membawamu masuk ke dalam rumah terkutuk itu," ucap Mira merasa bersalah.


"Tak apa, Mir, andai saja aku tidak masuk ke rumah, Ndoro Kusuma, mungkin aku tidak akan pernah berjumpa denganmu,"


Mereka berdua saling memandang dan tersenyum bahagia. Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Mir, setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mawar sambil memperhatikan Mira yang terlihat muram.


"Tidak ada, War. Aku sudah cukup lelah, aku mungkin akan beristirahat panjang,"


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Mawar.


"Aku sudah tidak peduli dengan kuliahku, War. Aku tak mau memikirkan apapun lagi. Oh iya, jika nanti kamu bertemu orangtua ku, sampaikan lah permohonan maaf ku yang teramat dalam ya, bilang pada mereka, aku sangat berterimakasih atas semua pengorbanan yang mereka berikan kepadaku. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menepati keinginan mereka. Tolong ya, War," ucap Mira dengan tatapan sendu dan tersenyum.


"Memangnya kamu mau kemana, Mir? Kenapa tidak kamu sampaikan sendiri saja?"


"Aku tak kuasa melihat kedua orangtua ku lagi, War. Aku tak sanggup jika harus melihat mereka menangisi ku. Lebih baik aku pergi saja. Aku juga merasa bersalah kepada mereka," ucap Mira menunduk kembali.


"Lalu, kamu mau pergi kemana?" tanya Mawar sambil mengelus pundak Mira.


"Ke tempatku yang sesungguhnya, War ... Terimakasih ya, berkat dirimu, aku bisa keluar dari sana ... Aku akan selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu, War, selamat tinggal," ucap Mira.

__ADS_1


Tubuh Mira perlahan sirna seperti debu yang tertiup angin, Mawar merasa heran, dan hanya bisa memandang butiran debu itu menghilang terbawa angin.


Seberkas cahaya kemudian muncul kembali, Mawar kemudian tersadar.


Ia mengerjapkan matanya perlahan, melihat pantulan cahaya lampu yang menyilaukan mata.


"Mawar, kamu sudah sadar," ucap Marsel gugup melihat Mawar yang membuka matanya.


"Mir, Mira ...." gumam Mawar sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


Ruman dan Saras yang kebetulan berdiri di balik pintu, langsung masuk ke dalam kamar setelah mendengar Marsel memanggil nama Mawar.


"Mawar sudah sadar, Sel?" tanya Ruman.


"Iya, Om," jawab Marsel senang.


"Mawar, kamu sudah sadar, Nak," ucap Saras.


"Ibu, Bapak, Marsel," ucap Mawar sambil memandang mereka satu per satu.


Mawar tersenyum bahagia saat melihat wajah Marsel yang begitu terharu melihat dirinya.


"Marsel," gumam Mawar diiringi senyuman.


Marsel mengangguk, ada air mata yang menggenang di sudut pelupuk matanya. Ia tersenyum tatkala calon istrinya itu memandangnya dengan senyuman yang begitu mendamaikan hatinya.


"Pelan-pelan, sayang," ucap Saras.


"Bapak, ambilkan bubur dulu, ya," ucap Ruman.


"Biar saya saja, Om," cegah Marsel kepada Ruman.


Ruman kemudian mengangguk, "iya, terimakasih, Nak Marsel,"


Marsel kemudian pergi meninggalkan kamar Mawar dan pergi ke dapur.


"Mawar sudah sadar, Sel?" tanya Wulan yang hendak pergi ke kamar Mawar.


"Alhamdulillah sudah, Lan," jawab Marsel diiringi senyuman.


"Alhamdulillah," jawab Wulan kemudian langsung masuk ke dalam kamar Mawar.


Marsel melanjutkan langkahnya kembali ke dapur. Dia mencari bubur untuk di bawa ke kamar Mawar.


"Bi, Minah dimana ya? Koq gak ada di sini ... Buburnya di taruh dimana?" gumam Marsel sambil menggaruk kepalanya.


"Tau harus cari begini, aku tidak menawarkan diri tadi, salahku sendiri, sok-sok an membantu, padahal aku kan tidak tau tempat-tempatnya," ucap Marsel kembali sambil celingukan.

__ADS_1


Tiba-tiba, Marsel melihat ada seseorang yang berjalan ke halaman belakang, dimana ada Mushola di sana. Marsel mengira kalo itu adalah Bi Minah. Marsel kemudian mengikuti orang tersebut.


"Bi Minah, Bi, bubur buat Mawar, Bibi taruh dimana!" seru Marsel mengikuti langkah wanita tersebut.


Marsel mengamati wanita tersebut yang menggunakan celana jeans panjang, dengan kaos berwarna putih, berlengan panjang pula, serta rambut panjang yang tergerai, dari belakang.


Marsel menggaruk kepalanya kembali.


"Loh, sejak kapan, Bi Minah merubah penampilannya menjadi seperti anak muda?"


Marsel membatin, kemudian ia memberanikan diri untuk menghampiri wanita tersebut yang kemudian duduk di teras belakang.


"Bi, Bi Minah, bukan?" tanya Marsel sambil menepuk pundak wanita tersebut.


Wanita yang disangka Bi Minah itu, perlahan memutar kepalanya melihat Marsel. Marsel tercengang, ketika melihat sosok yang dikenalnya itu. Wanita itu tersenyum kepada Marsel.


"Mawar? Koq kamu sudah di sini saja. Mas yang akan ambil bubur, buat kamu, kamu gak usah ikut ke dapur," ucap Marsel.


Wanita itu hanya tersenyum, Marsel pun ikut tersenyum.


Tiba-tiba, suara Bi Minah mengagetkan Marsel.


"Mas Marsel! Mas, Mas Marsel, ngapain di situ?" tanya Bi Minah dengan membawa nampan yang berisikan mangkok bubur dan air putih hangat dan teh manis hangat.


Marsel memandang ke arah Bi Minah, "loh, Bi! Koq bibi ada di situ?"


"Lah, justru saya yang nanya, Mas, ngapain mas Marsel di situ? Ini loh buburnya," kata Bi Minah heran.


"Saya ini, sama Maw–ar, loh! Dimana, Mawar?" Marsel menggaruk keningnya perlahan, ia tampak bingung, Mawar sudah tidak ada di hadapannya.


Marsel kemudian menghampiri Bi Minah yang berada di ambang pintu.


"Mas Marsel, saya dari tadi manggilin loh, njenengan malah diem aja, terus malah jalan ke belakang," ucap Bi Minah.


"Ini buburnya, Mas," kata Bi Minah kembali sambil menyerahkan nampan tersebut.


"Eh, iya kah, Bi? Tadi saya panggil-panggil, Bi Minah, tapi gak ada juga. Saya cari-cari buburnya juga gak ada," terang Marsel menceritakan apa yang ia rasakan.


"Loh, saya dari tadi berdiri di sini, nunjukin, ini buburnya, begitu! Malah mas Marsel sibuk nyari sendiri, emangnya, Mas Marsel gak lihat saya berdiri di sini?" tanya Bi Minah menyadarkan Marsel.


"Masa sih, Bi! Aduh, maaf deh kalo begitu, saking bahagianya, saya sampai gak lihat ada Bi Minah," ucap Marsel tersenyum sambil membungkuk sebentar guna minta maaf.


"Iya, Mas, gak papa, saya maklum. Ya sudah, bapak sama ibu udah nungguin, cepat bawa buburnya, Mas," perintah Bi Minah diiringi senyuman.


Marsel kemudian permisi kepada Bi Minah, dan segera pergi menuju kamar Mawar kembali.


Marsel sebenarnya merasa aneh, jelas-jelas tadi tidak ada Bi Minah, yang ada justru Mawar yang berjalan ke arah belakang. Marsel kemudian mencoba menepis pikirannya itu. Mungkin karena efek bahagia bertemu kembali dengan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2