Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 13 : Masuk Kedalam Lemari


__ADS_3

Mawar kembali menuruni tangga dengan jumlah yang sangat banyak. Mawar memperhatikan setiap detail gambar-gambar maupun pusaka yang tertempel di dinding-dinding rumah Ndoro Kusuma. Banyak keris-keris dan kepala barong, seperti banteng, leak, dan semacamnya. Jika diamati, pusaka dan Barong-barong yang dipajang ditiap dinding bisa bergerak mengikuti langkah Mawar, seperti mempunyai mata. Begitu menghadap Ndoro Kusuma, Mawar diberikan pertanyaan seperti dulu lagi.


Mawar berpura-pura bahwa Ia bahagia tinggal dirumah Ndoro Kusuma. Ndoro Kusuma tertawa menggelegar memenuhi isi rumahnya. Mawar tertarik dengan benda berukuran besar, kira-kira panjangnya selengan Mawar, berbentuk Naga yang terletak di singgasana Ndoro Kusuma. Pusaka itu tidak seperti keris, melainkan hanya sebuah ukiran dengan bentuk Naga. Tapi mata naga tersebut menyala. Kemudian, bentuk Naga itu terlihat tidak lengkap. Bagian tengah tubuhnya sampai ekor tidak ada. Hanya separoh saja. Mawar dibawa kembali keruang makan bersama gadis-gadis yang lain. Disana sudah disajikan makanan yang seperti biasanya Ia makan. Mawar kali ini tau, tempat duduk kosong yang ada dihadapannya itu, adalah tempat duduk Mira. Seperti biasa, Burhan bertepuk tangan sebagai simbol perintah. Semua gadis makan dengan lahap. Mawar yang teringat cerita Mira, merasa tidak selera untuk mengambil makanannya, namun Burhan mendekatinya dan kemudian mencekokinya. Mawar menahan rasa mualnya itu dan mencoba untuk melepehnya saat Burhan tidak melihat kearahnya. Mawar ingin menangis dengan kejadian ini. Menangis pun percuma. Dia tidak bisa melakukan hal apapun, kecuali hanya berpura-pura dan mencoba untuk mencari jalan keluar. Mawar sudah bersiap ingin menjajal lemari yang berada didalam kamarnya itu. Mawar beserta para gadis yang lainnya, yang mungkin berkurang jumlahnya, karena sudah dimakan oleh Ndoro Kusuma, pergi menuju sawah lagi untuk bekerja. Mawar kali ini menuruti perintah Mira. Dengan terpaksa, Mawar meminum air yang ada disawah yang tengah ia pijak. Mawar minum dengan rakusnya sambil matanya melirik kesana kemari, supaya tidak ketauan Burhan. Mira yang melihat Mawar dari kejauhan, merasa senang karena Mawar mau menuruti perintahnya. Setelah selesai menanam padi dengan waktu yang sangat lama, Mawar dibawa kembali kedalam kamar. Mawar dimandikan oleh dayang-dayang, dan juga diganti pakaiannya. Yah, seperti biasa juga. Mawar direbahkan diatas tempat tidur, dan ada satu dayang yang datang kembali membawa satu piring bubur, satu piring ayam goreng, dan satu gelas air putih. Mawar kali ini bingung, bagaiman caranya agar Ia tidak ketauan oleh Ndoro Kusuma? Karena Mawar akan didampingi oleh Burhan dan juga Ndoro Kusuma saat makan nanti.


"Ya Alloh, bagaimana ini! Kalo aku berdo'a dan baca sholawat, otomatis aku akan melihat wujud asli makanan yang aku makan. Tapi kalo tidak.."


Belum sempat berkata lagi, Ndoro Kusuma sudah datang bersama Burhan. Mawar kali ini berpura-pura tersenyum dan terlihat bahagia, supaya Ndoro Kusuma tidak meniupkan mantra ke telinganya. Ndoro Kusuma merasa jika Mawar, sudah mulai terpengaruh dengan tempatnya karena sudah makan, makanan yang disajikan oleh dayangnya. Ndoro Kusuma tersenyum menyeringai dan menuntun Mawar untuk duduk dibangku dan memakan makanan yang sudah disajikan. Mawar memakan semuanya sampai habis tanpa tersisa. Ndoro Kusuma merasa senang, kemudian menitah Mawar untuk tidur, Mawar dengan ekspresi tersenyumnya merebahkan tubuhnya di kasur, dan matanya memandang langit-langit kamarnya. Ndoro Kusuma dan Burhan kemudian pergi meninggalkan kamar Mawar.

__ADS_1


Setelah merasa Ndoro Kusuma dan Burhan tidak lagi diluar, Mawar kemudian duduk dan merogoh mulutnya dengan tangan, kemudian makanan yang baru saja Ia makan keluar semua, Mawar memuntahkan semua isi perutnya. Mawar tampak lemas tapi dia merasa senang. Mawar kemudian memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya untuk mengingat Alloh, dan hatinya bersholawat ke atas Nabi. Setelah membuka mata, Mawar mendapati kamar yang berbentuk jerami itu, lantai yang tadinya beralaskan papan, kini berubah menjadi tanah. Lemari yang ada didepannya berubah menjadi pohon besar dengan lubang ditengah-tengahnya.


"Semua perkataan Mira benar." Batin Mawar. Mawar segera mengeruk tanah untuk menutup muntahannya yang bau. Dipandangnya langit-langit kamarnya yang langsung terlihat langit yang sebenarnya, namun disekeliling kamarnya seperti ada tembok-tembok yang membatasi ruang Mawar, sehingga, Mawar tidak akan bisa melihat keadaan di luar kamar. Yah, sejatinya tempatnya itu adalah sebuah kamar, jadi, tetap ada pembatasnya. Mawar merasa beruntung dengan hal itu, meskipun sudah terlihat tempat asli dari kamarnya, dari luar tidak akan ada seorangpun melihat aktifitasnya.


Mawar kemudian berjalan mendekati pohon tersebut, Mawar memfokuskan hati dan pikirannya untuk mencoba mencari jalan pulang. Setelah itu, Mawar perlahan masuk kedalam lubang pohon tersebut. Begitu masuk hawa dingin langsung menyerang tubuhnya. Hawa dingin yang tidak biasa, seperti energi negatif banyak sekali disana. Mawar tiba di belakang panggung. Mawar mengamati tempat sekelilingnya dengan hati-hati. Mawar mencoba mengendap-endap. Deru nafasnya lebih cepat ketimbang langkah kakinya yang terlihat pelan.


Mawar ingin memastikannya, dan ternyata benar, itu adalah panggung yang Ndoro Kusuma gunakan untuk pertunjukan dan ritual. Mawar segera berjalan kembali ke belakang panggung. Di depan matanya nampak sebuah hutan, Mawar menelan ludahnya, kemudian Ia segera berlari menuju hutan tersebut. Begitu masuk hutan, ia disambut dengan ribuan pocong, kuntilanak, setan kepala buntung, dan macam-macam jenis demit lainnya berada di sana. Mawar merasa ketakutan karena di ikuti banyak mahluk. Hawa panas, pandangan kabur dan mual menyerang dirinya. Semua mahluk yang ada disana menertawakan Mawar. Seketika Mawar pingsan ditempat.

__ADS_1


Entah berapa lama Mawar pingsan, begitu Ia membuka mata, Mawar sudah berada ditempat tidurnya. Mawar kemudian bangkit, kepalanya terasa pusing. Mawar melihat ke sekelilingnya.


"Kenapa aku bisa sampai dikamarku lagi? Siapa yang membawaku kemari!"


Mawar berbicara sendiri.


"Semoga tidak ada dayang, maupun Ndoro Kusuma yang melihatku. Jika bertemu Mira, aku akan menceritakan kejadian ini."

__ADS_1


Mawar kemudian memilih untuk tidur, selimut daun pisang ia tarik untuk menutupi seluruh tubuhnya. Entah dapat dari mana Ndoro Kusuma, daun pisan itu mampu menutup seluruh tubuh Mawar, bahkan daun tersebut tidak bisa sobek. Sungguh ajaib.


__ADS_2