
Jiwa Pak Kyai menyebrangi laut, atas kuasa sang Khaliq, Pak Kyai masuk ke dalam lautan. Di dalam kegelapan sana, ada sebuah istana megah bak negeri dongeng.
Pak Kyai terus berenang masuk ke dalam mendekati istana yang megah itu.
Pak kyai menginjak satu papan, ia terhenyak saat mendengar suara, "aduh sakit! Jangan keras-keras menginjakku," tutur Papan tersebut.
Pak Kyai kemudian mundur dan berdiri di atas pasir. Pak Kyai mengamati bangunan itu.
Pilar-pilar yang menyangga bangunan itu adalah manusia-manusia yang meminta pesugihan kepada ikan Bayong. Bukan hanya pilar saja. Akan tetapi, lantai, lampu, atap, pagar dan semuanya yang berada di situ adalah manusia semua.
Pak Kyai tersenyum melihat pemandangan itu.
"Maaf ya, saya terpaksa menginjakmu," ucap Pak Kyai kemudian melangkahkan kakinya mulai menyusuri istana.
"Woy, sakit! Pelan-pelan jalannya,"
"Lantai kan memang diinjak, kalian nikmati saja," ucap Pak Kyai lagi.
Mamat masih terdiam membayangkan masalah demi masalah yang ia alami dalam hidupnya. Tetapi, istrinya selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman, saat ia sedang khilaf.
"Mas, biarlah kita di hina, di caci maki. Biarlah teriris hati kita saat ini. Asal jangan diakherat nanti, Mas! Sungguh siksa di sana lebih berat daripada masalah hidup yang kita jalani sekarang," ucap Atun waktu menasehati Mamat yang sedang menangis kala itu.
Kala itu, Mamat tidak terima melihat anaknya yang sakit diejek oleh anak-anak tetangganya. Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi Mamat yang sangat pas-pasan.
Jika saja, Mamat tidak punya hutang, mungkin keuangan Mamat akan stabil. Mamat punya hutang besar dulu, saat ia belum bekerja bersama Pak Ruman. Untuk kontrol anaknya, Mamat selalu berhutang, dan juga untuk keperluan kesehariannya.
"Pikirkanlah tawaranku, Mamat, kamu akan hidup enak jika menikah denganku, silahkan, kamu makan juga makanan yang sudah aku hidangkan," ucap Bayong dengan senyuman menyeringai.
"Apakah ada pantangan untuk ku, jika nanti aku menerima menikah denganmu?" tanya Mamat yang mulai tergiur.
"Kamu hanya perlu melayaniku setiap malam-malam tertentu. Dan juga, kamu tidak boleh belanja dan memakai pakaian yang bagus, itu saja," jawab siluman Bayong.
Mamat merasa tertarik dengan tawaran yang diberikan oleh Bayong. Syarat yang diberikan juga sangat mudah baginya.
"Baiklah, aku akan ...."
"Istighfar kamu, Mamat!" seru Pak Kyai yang tiba-tiba muncul dari sudut.
__ADS_1
"Pak Kyai!" seru Mamat kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Sialan! Siapa kamu!" tanya Bayong berang.
"Jangan terperdaya oleh tipu muslihat iblis laknatulloh, dia hanya ingin memperdayaimu. Jangan pernah tergoda dengan tawaran apapun yang terdengar menggiurkan di telingamu. Tidak ada keinginan yang bisa di dapat secara instan, Mamat! Pikirkan anak dan istrimu di rumah," teriak Pak Kyai.
"Tapi, jujur saja, saya lelah dengan kondisi ekonomi keluarga saya, Pak Kyai," keluh Mamat.
"Sesungguhnya, kamu sedang diuji, bersabarlah, Mat! Setelah cobaan ini, pasti ada kebahagiaan yang menanti. Ayo ikutlah denganku," ucap Pak Kyai mengulurkan tangannya.
"Tidak segampang itu, dia miliku, aku yang telah membawanya kemari," ucap ikan Bayong kemudian menjerat leher Mamat.
Mamat mengaduh kesakitan, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Lepaskan dia, dia belum menyentuh apapun di sini, kamu tidak berhak memilikinya. Semua makhluk adalah milik Alloh, termasuk dirimu setan!" ucap Pak Kyai berang.
"Cuih, kamu ingin bertarung denganku rupanya, kemarilah, aku akan meladenimu hingga kamu mati juga bersama pria ini," ucap siluman Bayong.
Pak Kyai dan ikan Bayong bertarung sengit. Mamat kemudian pingsan merasakan panas di tenggorokannya.
Mereka berdua bertarung imbang. Kang Ridwan sudah memerintahkan kepada Juned dan Bambang untuk menyebrang laut dengan perahu. Mereka bertiga berangkat menuju titik yang sudah Kang Ridwan tentukan.
Untung saja, perahu tersebut sudah menggunakan bahan bakar, jadi tidak perlu mengeluarkan banyak kekuatan untuk mendayung.
"Berhenti di sini," ucap Kang Ridwan sambil mengangkat telapak tangannya.
Juned memberhentikan perahunya tepat di jarak lima kilometer.
Kang Ridwan kemudian mengucap do'a dan menepuk-nepuk ombak dibawahnya.
Cepluk! Cepluk! Cepluk!
Terlihat sebuah gelombang kekuatan baru berputar, masuk ke dalam dan mengitari tubuh Pak Kyai. Siluman Bayong membelalakan matanya. Serangan demi serangan tidak dapat menembus Pak Kyai.
Pak Kyai kemudian memfokuskan pikirannya, untuk menyerang Siluman Bayong dengan penuh. Pak Kyai mulai bersila di lantai yang terdengar menjerit-jerit ikut merasakan sakit akibat pertarungan dahsyat tersebut.
Sementara Pak Ruman, Adam, Aziz dan Dimas menunggui Pak Kyai dengan harap-harap cemas. Apalagi melihat pakaian yang dikenakan Pak Kyai mulai basah perlahan.
__ADS_1
"Nak Adam, tolong belikan pakaian yang pantas untuk Pak Kyai," ucap Pak Ruman sambil membuka dompetnya dan menyerahkan uang ratusan ribu kepada Adam.
"Baik, Om!" ucap Adam menerima uang tersebut, dan segera mencari pakaian untuk Pak Kyai di sekitaran pantai tersebut.
"Apa yang terjadi di sana yah?" tanya Ruman dalam hatinya sambil memperhatikan tubuh Pak Kyai.
Aziz dan Dimas kemudian ikut duduk di sebelah Pak Kyai. Mereka berdua berdzikir dan memanjatkan do'a untuk Pak Kyai.
Setelah di rasa kekuatan yang terkumpul sudah cukup, atas kuasa Alloh, Pak Kyai berhasil mengalahkan siluman Bayong.
"Aargghhhhhh!" teriak Bayong dengan tubuhnya terpental membentur tembok budaknya, sehingga tembok itu ikut merasakan kesakitan.
"Aduuuhhh, sakiiiiittt! Ampunnn!" suara teriakan tembok terdengar pilu.
Dengan kecepatan seperti kilat, Pak Kyai berangsur membawa tubuh Mamat yang sudah terkulai lemas. Pak Kyai terus berenang membawa raga Mamat, untuk naik ke atas permukaan.
Kang Ridwan membuka matanya, ia mulai melihat sekiling laut mencoba mencari raga Mamat.
"Bagaimana, Kang?" tanya Juned.
"Berdo'a saja, semoga, Mamat masih bisa selamat," ucap Kang Ridwan datar.
"Amin, semoga Mamat dalam keadaan yang baik," ucap Juned merasa sedih.
"Di sana, itu si Mamat!" teriak Bambang sambil menunjuk arah selatan dari posisi berdirinya.
Kang Ridwan dan Juned memicingkan matanya. Mata Juned seketika membulat melihat tubuh Mamat mengambang. Juned segera menyalakan mesin dan menuju tubuh Mamat yang terapung.
Setelah cukup dekat, Kang Ridwan dan Bambang mencoba untuk menarik tubuh Mamat yang sudah pucat. Dengan susah payah, mereka akhirnya bisa menarik tubuh Mamat ke dalam perahu.
"Alhamdulillah, Mamat! Ya Alloh, Mamat!"
Tangis Juned seketika pecah. Bambang yang tadinya tegar, ikut menangis juga melihat Juned yang beruraian air mata memeluk tubuh Mamat yang dingin seperti Es.
"Segera menuju daratan, aku akan mencoba menolongnya, minggir," ucap Kang Ridwan sambil mengambil posisi dan melinting lengan bajunya.
Juned mengusap air matanya, dan mulai menyetir perahu menuju daratan.
__ADS_1
Kang Ridwan mulai melakukan pertolongan pertama kepada orang yang tenggelam, seperti yang pernah ia lakukan dulu.
Kang Ridwan juga mengecek semua denyut nadi dan detak jantung Mamat.