Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
57. Kepo Kamu, Mat!


__ADS_3

Ruman kemudian maju ke depan Saras dan mulai menekan dahi istrinya dengan sekuat tenaga.


"Pergilah kamu sekarang juga! Jangan ganggu keluarga saya lagi!" Ruman ber seru sambil menatap wajah istrinya yang sudah berubah, tanpa rasa takut.


"Hihihi, aku akan menuntut balas, atas semua perbuatanmu, Ruman! Setalah bertahun-tahun aku menunggu, akhirnya aku terbebas dari belenggu," ucap Saras di iringi gelak tawa, dan kemudian tangan dengan kuku-kuku panjangnya yang sudah hitam, mencekik leher Ruman.


"Heggh," Ruman memekik saat lehernya di cekal oleh Saras dengan kuat, bahkan kuku panjangnya sedikit menggores.


"Kamu pasti mati di tanganku," ucap Saras dengan mata tajam.


"Tolongin pak Ruman, Mat!" ucap Juned gemetar.


"Mana berani aku, aku saja habis keluar dari mulut demit," jawab Mamat tak kalah takutnya.


Bambang menelan ludah berkali-kali. Dengan perasaan takut dan juga niat hati yang ingin menolong, Bambang maju ke depan dan menarik tubuh Saras dengan sekuat tenaga.


Untunglah Bambang ingat untuk membaca kalimat Alloh, sebisa yang ia tahu.


"A'udzubillahi minassyaitonnirojiim, bismillahirrahmanirrahim, allohulla Illa ...." ucap Bambang sambil menarik tubuh Saras ke belakang.


Saras memekik dengan suara kesakitan, tangan yang tadinya digunakan untuk mencekik Ruman, kini beralih untuk memegang tangan Bambang, yang melingkar di pinggangnya.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Saras memberontak.


Sementara Bambang dengan perasaan merinding, namun juga berani, tetap melanjutkan membaca ayat kursi sambil menahan sakit di tangannya, akibat goresan-goresan kuku panjang milik Saras.


Ruman lebih keras menekan dahi Saras.


"Jun, tolong bantu kami, tarik lah rambutnya dengan kuat," kata Ruman berteriak.


"I-iya, Pak!" jawab Juned terbata.


Perlahan, Juned berjalan mendekati Ruman, dan dengan tangan gemetar sambil memejamkan matanya, Juned menggelung semua rambut Saras yang terurai acak-acakan dengan penuh uban tersebut.


Setelah rambut tersebut dapat ia genggam semua, Juned segera menariknya dengan mengarahkan ke atas.


"Pergilah kamu setan! Di sini bukanlah tempatmu lagi," ucap Ruman membentak.


Mamat kemudian mbantu dengan do'a. Setelah satu jam kejadian berlangsung, akhirnya, nenek tua yang berada di tubuh Saras menghilang. Saras tergolek lemas, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Badannya semua terasa pegal dan capek.


"Alhamdulillah!" ucap Ruman kemudian membopong tubuh istrinya ke dalam kamar.


"Jun, tolong buatkan teh hangat untuk istri saya," ucap Ruman sebelum benar-benar pergi.


"Baik, pak!" jawab Juned.


Ruman kemudian pergi ke kamar dan membaringkan istrinya di sana.

__ADS_1


"Mat, temani aku ke dapur," ucap Juned sambil menarik tangan Mamat.


Sementara Bambang, ia terduduk di lantai karena lemas. Nafasnya tersengal.


"Alhamdulillah," ucap Bambang sambil mengusap keringat yang baru saja meluncur dari dahinya.


Bambang memperhatikan luka di tangannya. Ada sebuah goresan yang lumayan panjang di luar telapak tangannya.


Bambang menyentuhnya perlahan. "Aduh, perih juga, cengkeraman nenek lampir itu," ucap Bambang kemudian meniupi tangannya sendiri.


Setelah selesai menyeduh teh, Juned dan Mamat langsung membawanya ke kamar Bu Saras.


Mamat dan Juned tanpa permisi langsung masuk karena pintu di buka lebar oleh Ruman.


"Permisi, Pak! Tehnya!" ucap Juned sambil membawa nampan berisi teh hangat.


"Bawa sini, Jun!" jawab Ruman.


Juned dan Mamat perlahan mendekat. Ruman tengah memijit-mijit kaki istrinya. Saras memejamkan matanya, tetapi tidak pingsan.


"Bu, minum dulu, buat tenaga," ucap Ruman kemudian membantu Saras untuk setengah berdiri.


Juned memberikan teh tersebut, Ruman kemudian meminumkannya. Saras meminumnya hingga habis tak tersisa. Ia benar-benar merasa sangat haus.


Juned dan Mamat saling berpandangan.


"Mat, ambilkan air putih," perintah Ruman.


"Iya, pak!" jawab Mamat dengan cepat kemudian berlari ke dapur untuk mengambil air putih.


Mamat berinisiatif mengambil air minum dengan botol. Ia berpikir bahwa, Saras sangat kehausan. Barangkali minum satu gelas saja kurang.


Tak lupa membawa gelas kosong, Mamat segera berlari kembali menuju kamar Saras.


"Ini, Pak!" jawab Mamat.


"Kamu tuangkan dong, Mat!" ucap Ruman.


"Oh, iya maaf, Pak!" tutur Mamat yang kemudian di lirik oleh Juned.


Mamat menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu memberikannya kepada Saras. Saras segera menyautnya, dan menghabiskannya.


"Berikan botol itu padaku, Mat!" ucap Saras sambil menyodorkan gelas kosong.


Mamat kemudian menukar gelas kosong itu dengan botol yang berisi air minum.


Saras langsung menghabiskan seluruh minuman yang ada di botol.

__ADS_1


Mamat dan Juned saling berpandangan sambil menelan ludah mereka masing-masing.


Saras tampak ngos-ngosan, ketika menghabiskan air minum dalam botol tanpa bernafas. Mamat mengambil botol kosong tersebut dan meletakkannya di atas meja.


"Terimakasih, Mat, Jun,!" ucap Saras, kemudian bersandar di papan tempat tidurnya.


"Iya, Bu!" jawab Juned.


Mamat yang tidak dapat menahan rasa penasaran, tanpa rasa segan ia bertanya. "Ibu, kenapa ibu minum sangat banyak sekali!"


"Tenggorokan ku kering, dan gatal, Mat! Perut saya juga tidak enak," jawab Saras.


Juned menyenggol lengan Mamat, dan melotottinya, agar tidak bertanya lagi karena itu tidak sopan. Namun, Mamat tak mengindahkan isyarat Juned.


"Apa yang dirasakan Bu Saras, sekarang?" tanya Mamat lagi.


"Sudah lebih baik, tapi, keadaan saya akan lebih baik lagi jika saya sudah muntah," jawab Saras dengan mata terpejam.


"Biarkan Bu Saras istirahat dulu, ayo kita keluar, Mat!" ucap Juned yang merasa tidak enak, lali menarik lengan Mamat.


"Apa-an sih, Jun!" kata Mamat sambil memegangi tangan Juned yang memegang tangannya.


Mereka berdua keluar menemui Bambang yang kini sudah duduk di sofa sambil rebahan.


"Kamu itu, bikin malu saja, Mat! Gak pantes nanya kayak gitu," ucap Juned dengan kesal.


"Aku kan pengin tau, Jun! Aku pengin nanya juga, apa yang sebenarnya terjadi," jawab Mamat.


"Lebih baik diam saja, tunggu pak Ruman, atau Bu Saras, cerita dengan sendirinya. Tanpa kita minta, aku yakin mereka pasti jujur sama kita. Terlebih, kita juga ikut andil," jawab Juned kemudian duduk di sebelah Bambang.


Bambang membenarkan posisi duduknya, sambil memperhatikan raut wajah Juned dan Mamat.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Bambang yang tak mengerti masalahnya.


"Mamat itu kebiasaan, Bang! Gak di sini, gak di sana, rasa pengin taunya besar! Padahal ia sendiri penakut, tapi mau tau aja. Pantesan, dia di makan ikan Bayong," tutur Juned masih kesal.


"Eh, jangan bawa-bawa masalah Bayong lagi dong, Jun," ucap Mamat kemudian menghambur di sebelah Juned.


"Memangnya kenapa? Kamu kan suka bertanya, jiwa kepomu besar, tanpa pandang situasi," ucap Juned sambil melirik Mamat.


"Ya, ya, aku salah, aku minta maaf. Tapi ngomong-ngomong, siluman Bayong itu cantik banget loh, Jun!" jawab Mamat diiringi senyum.


"Kalo kamu kepincut, nikahi saja, Mat!" jawab Juned lebih kesal.


"Eh, jangan gitu dong, Jun! Aku kan hanya bercanda," ucap Mamat sambil menyenggol lengan Juned dengan lengannya.


Bambang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga temannya itu.

__ADS_1


__ADS_2