Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
69. Bertukar Cerita


__ADS_3

Mada tidak mau menuruti perintah nek Jamilah, sehingga ia dipengaruhi lagi oleh kalimat menyesatkan nek Jamilah. Jasad Mada sendiri tidak tenang karena telah dibangkitkan dan dikuasai oleh nek Jamilah.


Sehabis dari rumah Mawar, Wulan dengan sengaja mengajak Marsel dan Bambang untuk mampir ke rumahnya. Ada sesuatu hal yang sangat ingin ia tanyakan.


Wulan membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Aku yang akan buatkan minum, Nduk! Kamu duduk saja," ucap Adam kemudian berlalu ke dapur.


Wulan hanya tersenyum dan mengangguk. Bambang tak menyangka bisa terlibat masalah keluarga pak Ruman sampai sekarang.


Bambang merasa tidak enak karena ia sendiri tidak mengenal dekat dengan Wulan dan yang lainnya. Tapi, Bambang mencoba untuk menutupinya.


"Lan, ada apa, koq kamu terlihat sangat serius sekali. Apa ada masalah? Kenapa, Mas Bambang juga ikut kemari?" tanya Marsel yang masih bingung.


"Iya memang ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Sel, kamu dulu ingin bercerita tentang sesuatu kejadian saat di rumah Pak Ruman, tapi belum sempat kamu ceritakan. Kalo boleh, aku ingin mendengar ceritamu terlebih dahulu sebelum cerita dari, Mas Bambang," terang Wulan tanpa basa basi.


"Oh, tentang itu, sebenarnya aku sudah cukup lama mengabaikannya. Tapi, baiklah aku akan bercerita. Sebenarnya, aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan Mawar. Beberapa kali aku melihatnya, Lan!"


"Maksudmu? Bukankah itu memang Mawar?" tanya Wulan.


"Yang dimaksud Mas Marsel, pasti, Mada. Ternyata, sebelum aku melihatnya, Mas Marsel terlebih dahulu melihatnya," ucap Bambang dalam hatinya.


"Aku tidak tau. Kamu ingat saat kita menginap di rumah Pak Ruman, menunggu kedatangan Pak Kyai? Waktu kita habis sholat di mushola belakang?" tanya Marsel.


"Iya, aku ingat. Waktu itu kamu pergi ke samping mushola, ada apa?"


"Itu, aku melihat sosok dengan jubah putih, persis wajahnya dengan Mawar, sedang bertengger di sana. Setalah kepulangan Mawar, aku lebih sering melihatnya. Terakhir, saat aku dan Bi Minah hendak pergi mengambil bingkisan habis subuh, aku melihat sosok Mawar di bawah pohon mangga, menggunakan jubah hitam. Bi Minah tidak melihatnya, makanya aku bilang itu aneh, dan pasti sosok itu bukanlah Mawar," terang Marsel.


Adam kemudian datang dengan nampan berisi air minum untuk para tamunya. Adam meletakannya di atas karpet.


"Silahkan di minum dulu, Mas Bambang, mumpung masih panas," ucap Adam.

__ADS_1


"Nggeh, Mas. Nanti saja biar anget," jawab Bambang.


"Kenapa hal itu bisa terjadi di rumah Mawar?" tanya Wulan sambil menerawang.


"Terus, saat aku makan disana, aku tak pernah kenyang, Lan. Aku selalu merasa, makananku cepat habis," ucap Marsel lagi.


"Wah lagi bahas apa sih, aku ketinggalan," ucap Adam sambil tersenyum.


"Mas dengarkan saja," kata Wulan serius.


Adam akhirnya memilih diam dan menjadi pendengar yang baik.


"Itu karena ada orang yang ikut makan bersamamu, Mas Marsel," sambung Bambang.


Wulan dan Marsel serentak memandang Bambang.


"Orang? Siapa Mas Bambang?" tanya Marsel.


"Iya, Mbak, saya akan ceritakan semuanya. Sebelumnya, saya akan bercerita saat saya dan teman-teman datang ke rumah Pak Ruman, untuk mengambil gaji. Waktu itu, kami sudah berdiri di depan pagar. Kami lihat ada Mbak Mawar sedang menyapu di sana. Begitu kami memencet bel, ternyata Mbak Mawar tidak mau membuka. Setelah beberapa lama menunggu, mobil Pak Ruman datang. Ternyata beliau habis dari rumah sakit mengantarkan Bi Minah. Dan Mawar, dia berjaga disana menemani Bi Minah,"


"Jadi, orang yang tengah menyapu itu bukanlah, Mawar?" tanya Wulan


"Bukan, Mbak! Dari sinilah, kejadian aneh mulai saya rasakan. Mamat, dia melihat ada seorang nenek tua yang ikut di dalam mobil Pak Ruman. Karena Mamat pikir itu adalah Ibunya Pak Ruman, Mamat hanya diam saja. Begitu kami masuk ke dalam dan duduk berbincang dengan Pak Ruman, Bu Saras datang membawa minuman teh untuk kami, tapi saat kami ingin meminumnya, ternyata teh itu darah, Mbak! Mas!"


"Hah! Yang benar, Mas?" tanya Marsel tidak percaya.


Adam, Wulan, dan Marsel, saling berpandangan tak percaya. Mereka merinding mendengar cerita Bambang.


"Kalian bisa tanyakan sama Mamat dan Juned tentang kebenaran cerita ini. Bahkan, Pak Ruman dan Bu Saras juga tahu,"


"Sungguh, Mas? Koq, Pak Ruman tidak cerita ya," ucap Adam.

__ADS_1


"Mungkin beliau sengaja menyembunyikannya, Mas!" jawab Bambang.


"Lalu, setelah itu apa yang terjadi, Mas?" tanya Wulan.


"Setelahnya, kalian tidak akan percaya. Pak Ruman berubah menjadi menyeramkan, dia menyuruh kami untuk menghabiskan darah itu, tapi kami menolak. Pada saat genting-gentingnya, Pak Ruman yang asli datang dari belakang kami sambil membawa amplop cokelat,"


"Berarti, orang yang menemani kalian ngobrol, itu bukan Pak Ruman?" tanya Wulan lagi.


"Bukan, dia berubah menjadi nenek tua yang di lihat oleh Mamat. Setelah itu, tiba-tiba, Bu Saras kesurupan, dia kemasukan nenek tua itu, Mbak!"


"Astagfirulloh, ternyata ada kejadian besar yang tidak kami ketahui, Mas Bambang!" ucap Marsel.


"Iya Mas. Kami menolong Bu Saras. Wajah Bu Saras juga berubah menjadi nenek tua, dengan gigi runcing hitam, kuku panjang hitam. Saya sampai kena cakarannya. Coba lihat ini ...."


Bambang menggulung lengan bajunya, dan memperlihatkan luka cakaran di sana yang hanya tinggal bekasnya saja.


"Ini bekas cakaran nenek tua yang ada di tubuh Bu Saras, waktu itu, Mas, Mbak!" tutur Bambang.


Marsel, Adam, dan Wulan memperhatikan bekas luka cakaran itu.


"Pak Ruman waktu itu di cekik. Kata yang diucapkan nenek itu cuman satu. Aku kembali! Begitulah. Aku tidak tau apa maksudnya aku kembali," ucap Bambang sambil memandang ke arah Wulan dan yang lain bergantian.


"Seram sekali. Siapa nenek itu?" ucap Wulan.


"Saya pernah menanyakan itu kepada Pak Ruman. Ternyata, dulu ada kejadian besar, Mas, Mbak! Tapi, kejadian besar apa, saya sendiri tidak tau karena Pak Ruman tidak menjelaskannya secara gamblang. Bahkan kami sempat ingin bertukar cerita. Tapi sampai saat ini, kami belum sempat juga untuk mengobrol masalah itu," terang Bambang lagi.


"Apa kita harus minta tolong sama Pak Kyai, lagi ya, Lan, Dam!" usul Marsel.


Wulan tidak merespon usulan Marsel ia kemudian bertanya lagi kepada Bambang soal kejadian di dapur rumah Mawar tadi.


"Mas Bambang, maaf yah. Sebenarnya, waktu di rumah Pak Ruman, saat saya menjatuhkan piring di dapur itu. Saya diberitahu Bi Minah, kalo sampean ngobrol sendiri di belakang. Dan, pas saya mengintip untuk memastikan kebenarannya, tiba-tiba, wajah nenek tua muncul di depan wajah saya. Itu yang akhirnya membuat saya kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan piring yang tengah saya pegang. Apakah nenek tua itu yang Mas Bambang maksudkan?" tanya Wulan.

__ADS_1


"Hah? Kejadiannya seperti itu, Nduk? Koq kamu tadi bilang gak papa sih!" tanya Adam khawatir.


__ADS_2