
Adam sudah tidak sabar ingin menyantap hidangan makan malam yang tersaji di atas meja. Dia menahan ilernya supaya tidak menetes.
"Kenapa, Om Ruman lama sekali tidak mengambil nasi. Aku sudah sangat keroncongan!" batin Adam sambil memegangi perutnya.
"Tante mohon maaf ya, tidak bisa menemani kalian tadi sore. Tante kaget saat Wulan bilang kalo Mawar masuk ke dalam sarang demit! Tante tak kuasa," ucap Saras dengan raut wajah sedih.
"Tidak apa-apa Tante, kami mohon maaf jika kamu mengganggu, Tante!" kata Marsel sambil membalikan piringnya.
"Oh, sama sekali tidak mengganggu, Nak Marsel! Justru Tante sangat berterimakasih, karena kalian semua care dengan keluarga Tante,"
"Tante, sebaiknya jangan terlalu dipikirkan masalah ini. Insya Alloh, Mawar akan segera di temukan, karena malam ini, Pak Kyai sedang dalam perjalanan menuju kemari," Wulan menenangkan dengan ekspresi bahagia.
"Benarkah, Nak Wulan? Syukurlah kalo begitu. Saya juga jadi lega, dan leluasa jika ada hal lain yang ingin saya tanyakan," ucap Saras dengan perasaan lega.
"Aduh, kalo ngobrol terus, bisa-bisa aku pingsan. Kepalaku sudah pening seperti ini," batin Adam sambil menelan ludah.
"Iya benar, Tante!" kata Wulan diiringi senyuman.
"Lebih baik, kita makan saja dulu yah! Ngobrolnya di lanjut nanti saja," ucap Ruman sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring.
"Silahkan, Nak Wulan, Adam, Marsel! Jangan sungkan, anggap seperti rumah sendiri yah!" perintah Saras dengan halus.
__ADS_1
"Iya, Tante!" jawab Marsel dan Wulan barengan.
"Akhirnya, aku tidak jadi pingsan," kata Adam dalam hatinya.
Setelah Ruman dan Saras mengambil nasi, Adam langsung merebut centong tersebut dan mengambil nasi tiga centong sekaligus. Wulan meliriknya dan berdehem. "Eghm!"
Adam melirik Wulan dan tersenyum sekilas. Ia acuh kepada Wulan, karena sangat lapar. Biarpun diberi kode oleh istrinya untuk tidak rakus, tapi Adam mengabaikan hal itu.
"Masa bodo, Nduk! Mas akan makan banyak di sini, mumpung gratis, dan lauknya enak-enak sekali!" batin Adam kembali dengan raut wajah bahagia.
Marsel masih teringat wanita yang di lihatnya tadi pohon mangga.
Marsel mendadak berpikir, kenapa ia menjadi bisa melihat hal-hal ghaib seperti itu. Padahal dulu, ia tidak bisa merasakan apa-apa. Apalagi bisa melihat.
Apakah karena ia berhasil meditasi dengan Mawar dulu, sehingga ia bisa melihat hal yang demikian.
Pertama ia melihat pocong di pabrik. Yang kedua, dia melihat sosok wanita seperti Mawar di pohon mangga belakang. Kemungkinan besar, Marsel akan bisa melihat penampakan lain, di tempat-tempat tertentu yang memang makhluk itu ingin menunjukan eksistensi kepada dirinya.
Marsel menggelengkan kepalanya dengan kasar, agar pikiran yang sedang berkecamuk di kepalanya hilang.
"Kamu kenapa, Sel! Koq nglamun! Terus, ngapain juga kamu geleng-geleng kepala?" tanya Wulan yang merasakan kejanggalan pada diri Marsel.
__ADS_1
"Oh, nggak papa, Lan!" jawab Marsel diiringi senyuman.
Marsel tersenyum kepada mereka semua yang tengah makan karena sedari tadi rupanya, mereka memperhatikan dirinya yang tengah melamun.
Marsel kemudian mengambil nasi di piringnya. Ia menaruh lauk secukupnya dan mulai makan bersama dengan yang lainnya.
***
Di kediaman Umi Fatma.
Abi Ilham dan Umi Fatma tengah selesai makan malam. Mereka berdua menonton siaran televisi sambil menikmati cemilan.
"Mi, besok Abi mau pergi ke pondoknya Abah yah, Abi mau minta do'a kepada beliau dan juga seluruh anak-anak pesantren di sana, untuk keselamatan Mira,"
Umi Fatma mengehela nafasnya. "Iya, Bi ... Umi sebenarnya sudah ikhlas, Umi hanya bisa mendo'akan semoga usaha Abi berhasil. Umi sudah pasrah, Umi sudah ikhlas lahir batin,"
Umi Fatma berkata dengan nada lirih dan kepasrahan. Matanya sayu, mengingat meditasinya dulu yang berhasil berkomunikasi dengan Mira.
Umi Fatma mencoba menjelaskan kepada Abi Ilham, tetapi suaminya itu tidak mau mendengarkan. Meminta pertolongan lewat orang yang tahu spiritual saja, suaminya tidak mau. Umi Fatma cemas, jika Mira di sana tidak kuat, dan dia di sini yang masih mengharapkannya, justru menambah derita Mira.
Abi Ilham melirik istrinya sekilas. Ia tahu betul apa yang tengah dirasakan Umi Fatma. Tetapi ia enggan mengabulkan permintaan istrinya itu. Abi Ilham tidak mau dirinya musyrik dan juga ia juga bukan tipe orang yang suka mendengarkan nasehat orang lain. Ia lebih suka dengan pendapatnya sendiri.
__ADS_1