
Mawar sungguh tak berdaya, otot-otonya terasa lemas, namun ia masih dapat berdiri tegap. Matanya terus mendelik tak dapat dipejamkan. Seakan ia dipaksa untuk menyaksikan kejadian ini. Tubuhnya terasa sangat panas. Jantungnya terus berpacu hebat.
Ingin sekali rasanya ia pingsan, tapi rasa itu tak kunjung datang kepada dirinya.
"Air matamu sungguh nikmat, aku akan kembali awet muda, setelah mendapatkan ari-arimu, hihihi!"
Ndoro Kusuma berubah kembali menjadi nenek Jamilah. Ia tersenyum menyeringai.
"Aku akan mengganti ragamu dengan raga cucuku agar aku bisa kekal di dalamnya, hihihi!" ucap Nek Jamilah kemudian menghilang begitu saja.
Setelah kepergian nek Jamilah, Mawar pingsan di tempat. Tubuhnya tergelatak di lantai. Kebayanya basah akibat keringat yang keluar dari tubuhnya.
Pak Ruman tak banyak mengundang orang di acara lamaran anaknya. Ia hanya memanggil tetangga dekat dan juga pak RT, serta, Bambang yang sekarang ditugaskan untuk selalu berjaga di rumahnya.
"Ibu, cek Mawar dulu ya, Pak! Dari tadi dandan koq gak selesai-selesai," ucap Saras kemudian berlalu dari ruang tamu.
"Iya, Bu!" jawab Ruman.
Saras melangkahkan kakinya menuju kamar Mawar.
"Mawar, kamu sudah siap belum?" tanya Saras sambil membuka pintu.
"Astaghfirulloh, Mawar!" seru Saras kemudian segera berlari menuju tubuh Mawar yang tergeletak di lantai.
Saras mengguncang tubuh Mawar perlahan namun tak kunjung bangun.
"Mawar, bangun, Nak! Apa yang terjadi denganmu? Mawar! Mawar!"
Saras terlihat panik, namun ia tak segera keluar meminta pertolongan. Saras mencari minyak telon di meja rias Mawar dan segera mengoleskan di hidung Mawar.
"Mawar, bangun nak!" Saras menepuk pipi Mawar perlahan.
Mawar menggerakan kepalanya, perlahan ia mulai membuka matanya.
Mawar mengedipkan matanya berkali-kali, memastikan bahwa orang yang bersimpuh disampingnya adalah Ibunya. Bukan Ndoro Kusuma.
"Alhamdulillah, kamu bangun juga, Nak!" ucap Saras kemudian membantu Mawar untuk berdiri.
Mawar duduk di tepi kamarnya, Saras mengambil tisu dan mengelap keringat yang membasahi wajah Mawar.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Koq bisa tidur di lantai? Baju kamu! Baju kamu juga basah loh, Nak!" seru Saras dengan heran.
Mawar mengamati tubuhnya yang memang sudah basah sekarang. Mawar merasa risih.
"Bu, Mawar mau mandi lagi aja sama ganti baju. Ibu temani Mawar, di sini yah. Jangan pergi!" ucap Mawar sambil memegang tangan ibunya.
"Memangnya ada apa? Koq kamu ketakutan begitu?"
"Nanti saja Bu, Mawar ceritain. Sekarang, Marsel sudah di jalan. Sebentar lagi pasti nyampe. Mawar risih banget, mau mandi!"
"Tapi, nanti gimana sama make up dan kebaya kamu?"
"Mawar mau pake gamis aja, Bu, sama jilbab!"
"Oh, ya sudah lah. Cepat kalo begitu!" ucap Saras masih dengan perasaan heran.
Mawar segera bergegas menyaut handuk dan masuk ke dalam kamar mandi kamarnya.
Beberapa detik kemudian terdengar Mawar sudah mengguyur tubuhnya dengan air.
Saras membantu memilih gamis yang ada di dalam lemari Mawar, serta jilbab terusan.
Sementara di alam lain, Nek Jamilah tengah berdebat dengan Mada. Gadis berparas persis seperti Mawar, namun memiliki tahi lalat di dagu sebelah kanan. Tahi lalat itu kecil, sehingga tidak cukup terlihat, jika dengan jarak jauh.
"Bodoh kamu! Kamu harus menikah dengan pria itu, bukan mencintai pria lain. Kamu berkesempatan untuk hidup dengan menukar jiwamu dengan Mawar!" seru Nek Jamilah.
"Aku tak mau mengganggu mereka lagi, Nek! Aku sudah menemukan orang yang ku cintai, aku tak ...."
"Jangan bodoh kamu! Gara-gara cinta kamu bodoh. Melupakan semua keinginan yang sudah kamu inginkan dari dulu. Ingat, kamu mati gara-gara Mawar, kamu tidak bisa menikmati kasih sayang kedua orangtuamu. Mereka telah melupakanmu! Marsel, orang yang harusnya kamu nikahi, malah ingin menikah dengan Mawar. Kamu harus rebut dia dari Mawar, Mada! Jangan kamu sia-siakan kesempatan ini. Saat Midodareni nanti, aku akan menukar jiwamu nanti! Kamu harus siap!" ucap Nek Jamilah kemudian menghilang dari pandangan Mada.
Nek Jamilah ingin menukar jiwa Mada ke dalam raga Mawar, supaya rencananya berjalan dengan lancar. Ari-ari yang di tanam Ayah Ruman dulu, hanya bisa di gali oleh Mawar atau Mada sendiri. Jadi, dengan cara menukar jiwa ke dalam raga Mawar pada saat malam Midodareni nanti, nek Jamilah bisa mendapatkan ari-ari itu.
Dengan memakan ari-ari, Nek Jamilah akan kembali awet muda. Tak sembarang ia memakan ari-ari. Nek Jamilah hanya makan ari-ari bayi kembar saja. Ari-ari bayi biasa, bisa juga untuk menambah masa awet mudanya, namun tidak bisa bertahan lama. Hanya bertahan satu bulan saja! Berbeda dengan ari-ari bayi kembar, yang bisa membuatnya awet muda lima tahun.
Mada merasa bimbang dengan kalimat yang diucapkan oleh nek Jamilah. Keinginannya dulu memang ingin membalas dendam kepada Mawar. Bahkan, saat Mawar bisa masuk ke jalan buntu, ia sendiri yang membawanya ke jalan itu.
Mada kemudian menghilang dan mencari sosok Bambang. Ia ingin sekali mencurahkan semua isi hatinya. Siapa tau, Bambang bisa memberinya nasehat.
Hanya nasehat Bambang yang akan ia dengarkan kali ini.
__ADS_1
Tepat dengan Mawar selesai berdandan, Marsel dan rombongan telah tiba. Mereka dipersilahkan masuk. Semua rombongan membawa seserahan yang telah disiapkan sebelumnya.
Dari seperangkat alat sholat, Daleman, baju, satu set alat make-up, skincare, perhiasaan, dan lain sebagainya.
Ruman menyambut calon besannya dengan sangat bahagia.
"Alhamdulillah, kalian sudah sampai di sini, tanpa ada halangan apapun. Mari silahkan duduk, Pak, Bu," ucap Ruman kepada rombongan Marsel.
Mereka duduk lesehan dengan tikar yang sudah di gelar di ruang tamu. Marsel mencari sosok Mawar, namun belum juga ia jumpai.
Bambang merasakan suara perempuan halus memanggil dirinya. Bambang mengusap telinga kirinya itu dengan kasar. Ia merinding sebab, suaranya menusuk hingga relung batinnya.
"Bambang! Bambang, temui aku di belakang, Bambang! Temui aku di belakang," ucap suara itu.
Bambang yakin, suara itu adalah suara Mada. Bambang menjawab dengan batinnya.
"Nanti saja! Hari ini ada acara penting," jawab Bambang.
"Aku tidak mau menunggu, ini juga penting!" jawab Mada.
"Ini masih terlalu pagi, jika kamu muncul! Apa kamu tidak takut terbakar?"
"Mana mungkin aku bisa terbakar, aku berada di rumahku sendiri! Cepatlah kemari, aku menunggumu!"
"Memangnya ada urusan penting apa? Nanti saja, Mada!"
"Ini soal pernikahan Mawar!"
Mendengar kalimat yang diucapkan Mada, Bambang refleks berdiri, membuat semua orang memandangnya.
"Kamu kenapa, Bang?" tanya Ruman yang sedari tadi sedang mengobrol dengan calon besannya.
"Eh, anu Pak, mohon maaf semuanya, saya mau ke toilet dulu, permisi!" ucap Bambang kemudian berjalan membungkuk saat melewati tamu.
Dengan langkah cepat, Bambang segera berjalan ke belakang. Bi Minah yang berada di dapur, hanya bisa memandang Bambang dengan keheranan karena sapa-an nya tidak di respon.
"Mas Bambang mau kemana? Sholat duha ya?" tanya Bi Minah.
Bambang melewati Bi Minah begitu saja. Bambang segera berjalan ke arah samping mushola dan mulai mencari Mada.
__ADS_1