Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
64. Positif


__ADS_3

Mawar memiringkan badannya, dan kepalanya ia sangga dengan satu tangan kiri. Mawar tersenyum menggoda kepada Bambang.


"Ngapain kamu di sini, mbak?" tanya Bambang yang mulai merinding.


"Aku mau menemanimu nonton tivi," ucap Mawar masih di posisinya.


Kakinya tidak terlihat karena tertutup jubah putih yang besar.


Bambang merasa bahwa dia bukanlah Mawar anak pak Ruman. Dari hawa dingin yang ia rasakan dan penampilannya, membuat Bambang bertambah yakin bahwa wanita ini memang bukan Mawar.


"Kamu lebih baik pergi, aku akan beristirahat sekarang juga!" kata Bambang sambil menjaga jarak.


"Aku juga mau menemani tidurmu!" jawab Mawar dengan masih tersenyum dan memainkan rambutnya.


"Gendeng!" umpat Bambang dalam hatinya.


"Kamu ini sebenarnya siapa? Kamu bukanlah Mawar, tapi kenapa wajahmu mirip Mbak Mawar?" tanya Bambang sambil mengacak rambutnya.


"Hihihihi, hihihi!"


"Jangan tertawa!" seru Bambang sambil menutup telinganya.


Suara tawa Mawar sama seperti kuntilanak yang Bambang simpan dalam hapenya. Dia dulu pernah mendownload MP3 horor dan dengan sengaja mengirimkan ke seluruh teman-teman sekolahnya pada malam hari.


"Apa kamu tidak suka jika aku tertawa?" tanya Mawar.


"Aku suka jika kamu mau merubahnya lebih lembut dan tidak cekikikan begitu. Tapi ngomong-ngomong, namamu itu siapa?" tanya Bambang lagi dengan geram.


Kali ini, Bambang tidak merasakan takut. Sebab aura Mawar berbeda dari sebelumnya.


"Namaku, Mada! Aku ingin dekat denganmu bolehkah?" jawab Mada sambil tersenyum manis dan membenarkan posisi duduknya.


Bambang merinding ketika Mada menyebutkan ingin dekat dengannya. Bambang tidak tau harus menjawab apa. Ia kemudian hanya tersenyum dengan perasaan yang entahlah.


"Aku tadinya menyukai orang lain. Tapi setelah aku mengenalmu dan kamu baik padaku, aku akan memilihmu saja, boleh kan?" tanya Mada seperti anak kecil.


Mada terus tersenyum dengan sangat manis. Membuat Bambang sedikit terpikat.


"Siapa orang lain yang kamu sukai itu? Lalu, dimana kamu tinggal?" tanya Bambang.


"Orang lain itu akan menikah. Tadinya aku sangat geram ketika orangtuaku bilang akan menggelar acara tujuh hari tujuh malam, hingga aku menjatuhkan semua barang-barang di dapur," ucap Mada dengan ekspresi seperti anak kecil.

__ADS_1


Bambang sama sekali tidak takut sekarang. Ia justru mendekat kepada Mada, agar dapat dengan jelas melihat detail wajahnya. Siapa tau ada sesuatu yang membedakan antara Mada dan Mawar.


Bambang terus menggali informasi dari gadis polos yang ada di depannya ini.


"Mada! Kenapa ekspresimu berubah menjadi ceria, dan tidak seperti tadi saat kita mengobrol di depan?" tanya Bambang penasaran.


"Itu karena aku menyukaimu, Bang! Aku bisa saja berubah menjadi baik, bisa juga sebaliknya, tergantung situasi dan kepada siapa aku berbicara!" ucap Mada sambil terus memandang Bambang diiringi senyuman manisnya.


"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Bambang.


Mada menunduk sebentar, ia merasa sedih saat Bambang menanyakan hal itu.


Bambang menjadi khawatir, ia takut jika Mada akan berubah menjadi jahat. Bambang segera meminta maaf.


"Maaf, apa pertanyaanku menyakiti hatimu, Mada?" tanya Bambang cemas.


Mada menggeleng. Ia kemudian mengadakan wajahnya kembali.


"Aku, aku sebenarnya tinggal di sini. Tapi aku juga ingin punya rumah seperti yang lain!" jawab Mada.


"Maksud kamu apa?" tanya Bambang.


"Bambang? Kamu ngobrol sama siapa? Ini sudah jam tiga loh!" seru Ruman yang tiba-tiba muncul mengagetkan Bambang.


"Sa-sa-saya itu, ngobrol sama ...."


Bambang menggantung kalimatnya.


Bambang menoleh ke arah Mada, namun Mada sudah tidak ada di sana. Ruman menepuk pundak Bambang dengan keras.


"Bang! Kelihatannya kamu sekarang suka berhalusinasi yah! Cepat lah tidur, sebentar lagi subuh datang!" ucap Ruman kemudian merebahkan tubuhnya di kasur.


Bambang kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Pak Ruman.


Bambang menatap langit-langit sambil membayangkan wajah Mada. Wajah Mada sangat mirip dengan Mawar, tapi Bambang yakin, ada ciri tersendiri dalam wajah Mada.


Tiba-tiba, di langit-langit nampak Mada yang tengah tersenyum ceria kepadanya. Bambang merasa senang. Ada rasa yang tidak biasa dalam lubuk hatinya saat melihat senyuman Mada yang teramat manis.


"Mada, segeralah istirahat! Aku juga akan istirahat!" ucap Bambang dalam hatinya sambil tersenyum ke langit-langit.


Ruman diam-diam memperhatikan Bambang yang tengah tersenyum-senyum sendiri menatap langit-langit. Padahal di sana tidak ada apa-apa.

__ADS_1


Ruman sedikit merinding dengan sikap Bambang. Ingin sekali ia menegur Bambang. Tapi, ia terlalu lelah. Apalagi dalam waktu yang masih teramat pagi.


***


Marsel sudah menyiapkan barang-barang hantaran yang akan ia bawa ke rumah Mawar. Semuanya sudah tersusun sangat rapih berderet memenuhi ruang tamunya.


Setiap kali ingin berangkat kerja, Marsel selalu memandangi barang seserahan tersebut.


"Wes toh, kamu buruan berangkat sana! Nanti telat!" ucap Bu Sinta orangtua Marsel.


"Iya, Bu! Marsel sudah gak sabar rasanya ingin cepat-cepat menikahi Mawar," ucap Marsel dengan geregetan.


"Niat baik memang harus disegerakan. Tapi kalo niat kami itu terburu-buru karena nafsu belaka, lebih baik kamu pikir-pikir lagi, Sel!" kata Bu Sinta diiringi senyuman dan mengelus kepala anaknya itu.


"Ah, ibu ini! Maksud Marsel juga tidak seperti itu juga! Ya sudah lah, Marsel berangkat kerja dulu ya, Bu! Nanti, Marsel akan kabari Mawar lagi. Kita kesananya hari Jum'at kan?" tanya Marsel kembali.


"Iya, sayang! Kamu itu saking senengnya ya, setiap hari menanyakan hal itu terus," ucap Bu Sinta sambil mencubit hidung Marsel.


Bagi Bu Sinta, biarpun Marsel sudah besar dan dewasa, Marsel adalah anaknya yang akan selalu seperti anak kecil di matanya.


"Assalamu'alaikum, Bu!" ucap Marsel sambil mencium tangan Ibunya.


"Wa'alaikum salam, hati-hati yo, cah bagus!"


Marsel tersenyum dan melambaikan tangan ke arah ibunya. Ia kemudian menaiki sepeda motornya dan pergi meninggalkan rumah.


***


Beberapa hari ini, Wulan terus mual dan kadang sampai muntah setiap pagi. Ia juga tak selera untuk makan. Dia lebih malas untuk beraktifitas. Mengambil air minum di dapur juga rasanya berat baginya.


"Mas berangkat kerja dulu yah, nanti sepulang dari kerja, kita langsung pergi ke puskesmas saja," ucap Adam sambil mengenakan jaket.


"Iya, kamu hati-hati, Mas! Maaf yah, aku tidak masak. Males banget, Mas!" ucap Wulan sembari mengeluh.


"Iya gak papa, kamu boleh malas-malasan dulu koq. Tapi jangan lama-lama yah, ini sudah hampir lima hari kamu gak mau masak, gak nyuci. Repot aku!" ucap Adam sambil menyemprotkan minyak wangi.


"Hanya sebentar koq," jawab Wulan dengan kesal.


Akhir-akhir ini, Wulan juga menjadi sangat sensitif.


Adam kemudian pergi dari rumahnya untuk kembali mengais rezeki. Wulan beranjak dari kamar karena merasa ingin buang air kecil.

__ADS_1


Wulan mengunci pintu kamar mandinya. Saat ingin duduk di kloset ia memandang lemari penyimpanan yang tertempel di tembok. Wulan tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengurungkan niatnya untuk buang air kecil. Dan segera membuka lemari kecil tersebut.


__ADS_2