Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 23 : Bingung


__ADS_3

Setelah cukup lama diam, dan menikmati cemilan, Pak Kyai dan Kang Ridwan lanjut mengobrol lagi. Terus terang, Pak Kyai masih penasaran dengan sosok Ndoro Kusuma yang diceritakan oleh Kang Ridwan.


"Kang, saya masih penasaran dengan Ndoro Kusuma yang kamu ceritakan itu. Kenapa, Ndoro Kusuma bisa disiksa dan dikubur di dalam hutan, Kang?"


Kang Ridwan tersenyum mendengar pertanyaan Pak Kyai. Ia kemudian meletakan gelasnya.


"Aslinya, Ndoro Kusuma orang yang baik, Namun, karena ia tidak bisa memiliki keturunan, ia akhirnya di siksa setiap hari. Ini menurut penglihatan mata batin saya, ya, Pak Kyai. Semuanya wallohu'alam bissawab." kata Kang Ridwan sambil mengangkat kedua tanganya sebentar. "Beliau setiap hari diberi makan tanah, akar-akar pohon, serabut kelapa, tanah benyek yang bercampur limbah, dan beliau minum air mentah, bahkan air minum yang sudah tercemar pun. Beliau juga di paksa untuk bercocok tanam, menanam padi, dari pagi hingga senja. Jika pekerjaan itu belum rampung, beliau tidak akan dapat makanan. Jika dalam mengerjakan tugasnya itu, beliau berhenti, beliau akan dicambuk. Begitulah seterusnya hingga meninggal. Beliau punya dayang dan ajudan yang setia, yang selalu menemaninya. Jadi ketika beliau wafat, para ajudannya lah yang disuruh untuk menguburkan beliau, dan mereka tidak pernah kembali lagi ke istana. Mereka milih membusuk di samping makam Ndoro Kusuma. Kira-kira begitulah kisahnya, Pak Kyai. Apa njenengan masih penasaran?" Kang Ridwan sedikit membungkukkan punggungnya untuk melihat raut wajah Pak Kyai. Pak Kyai tersenyum, ketika Kang Ridwan menatapnya. Ia merasa malu. "Ah, jangan begitu, Kang! Saya tidak enak. Maklum lah, saya orang awam tidak tau apa-apa. Kamu yang lebih paham dengan hal sejarah seperti itu."


"Kamu terlalu merendah, Pak Kyai."


Mereka berdua sama-sama tertawa, yang kemudian terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk," kata Pak Kyai.


Dimas masuk dengan sopan, ia berjalan dengan membungkuk.

__ADS_1


"Maaf, Pak Kyai, ini ada telpon dari mbak Wulan." Dimas menyerahkan hapenya kepada Pak Kyai, Pak Kyai menghela nafas dan memandang Kang Ridwan yang tengah tersenyum.


"Saya ijin keluar, Pak Kyai!" kata Dimas yang kemudian membungkuk dan keluar dari dalam ruangan.


Pak Kyai kemudian menjawab telepon dari Wulan.


"Assalamu'alaikum," sapa Pak Kyai.


"Wa'alaikumsalam, Pak Kyai, apakah saya mengganggu?" tanya Wulan dari seberang sana.


"Begini, Pak Kyai, soal plat nomor yang, Pak Kyai katakan waktu itu. Saya ingin memberitahu, bahwa, plat nomor itu, benar nomor plat motor teman saya, Mawar yang hilang itu."


Pak Kyai menghela nafas panjang. Ia belum menjawab pertanyaan Wulan, membuat Wulan di sana menanti.


"Hallo, Pak Kyai, Pak Kyai,"

__ADS_1


Pak Kyai terhenyak, lalu berkata. "Iya, iya, Nak Wulan, saya masih di sini. Pesan saya, kamu jangan lepas untuk berdo'a yah, do'a kan yang terbaik saja untuk temanmu, saya akan bantu do'a juga dari sini."


Kang Ridwan tersenyum mendengar kalimat dari Pak Kyai.


"Baiklah, Pak Kyai, tapi, kalo boleh tau, dimana letak sepeda motor teman saya itu?"


Pak Kyai menghela nafasnya lagi, ia bingung mau menjelaskan bagaimana. Dia saja baru tau karena Kang Ridwan yang menjelaskannya.


"Mohon maaf ya, Nak Wulan, saya belum bisa mengatakannya sekarang, karena saya sendiri masih belum yakin. Nanti kalo saya sudah benar-benar yakin, saya akan menghubungi kamu lagi. Maaf yah."


"Aduh, kenapa malah Pak Kyai yang meminta maaf. Harusnya saya yang minta maaf, karena sudah merepotkan Pak Kyai. Kapanpun jika Pak Kyai ingin menghubungi saya, insya Alloh saya stand by, Pak Kyai."


"Iya, iya, saya tutup dulu telponnya ya, Nak Wulan, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam," jawab Wulan dari seberang, dengan perasaan yang sedikit kurang puas dengan jawaban Pak Kyai. Namun, Wulan cukup bersyukur karena Pak Kyai sudah mau bersusah payah menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2