Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
78. Penebangan Pohon Mangga


__ADS_3

Mereka semua lalu masuk ke dalam dan segera menuju halaman belakang dimana pohon mangga itu berada.


Sesampainya disana sudah banyak taburan bunga tujuh rupa, dan juga sesajen. Pak Ahmad segera membuangnya.


Ruman di bantu oleh Marsel dan Bambang segera mencari peralatan mencangkul dan juga golok, gergaji, untuk menebang pohon mangga tersebut.


Setelah di dapat, tanpa berkata apapun, mereka melaksanakan tugasnya masing-masing tanpa berbicara sedikitpun karena mereka membaca ayat kursi.


"Jangan kalian usik tempatku, aku akan membunuh kalian," sebuah suara datang mengancam.


Semuanya celingukan, namun tetap membaca ayat kursi.


Bambang melihat Mada yang tengah berayun di tangkai pohon mangga yang tengah ia gergaji.


Mada berubah menjadi baik lagi, ia tersenyum kepada Bambang.


"Mas Bambang mau buatin rumah untuk Mada yah? Terimakasih ya, Mas Bambang," ucap Mada.


Bambang yang mendengarnya kemudian menatap Mada dan mengangguk.


Mada kemudian berubah menjadi jahat lagi, ia berusaha untuk menghentikan aktifitas mereka dengan cara mengambil peralatan yang mereka pegang dan mendorong tubuh mereka dengan keras hingga terjerembab.


Tentu saja yang lain hanya bisa merasakan saja. Kecuali Bambang dan Pak Ahmad.


Bambang berusaha untuk tetap membaca ayat kursi, dan hatinya mencoba untuk berbicara kepada Mada.


"Mada, kenapa kamu berubah lagi? Bukankah impian kamu ingin punya rumah? Kamu capek menjadi cucu Nek Jamilah? Seperti yang kamu ucapkan dulu? Kamu sudah tak mau mengganggu keluargamu? Kami semua akan membantumu. Bantulah kami juga agar pekerjaan ini cepat selesai," ucap Bambang dalam hatinya.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, sebelum nenek mendapatkan ari-arinya, jangan kamu usik rumahku!" jawab Mada dengan mata tajam.


"Tidak Mada, dia bukan nenekmu, dia hanya mengendalikan dirimu untuk kepentingannya, sadarlah, sadarlah!"


"Tidak! Siapa kau, beraninya melarangku!"


"Aku, aku adalah sahabatmu. Aku akan buatkan kopi hitam untukmu, apakah kamu mau?" tanya Bambang.

__ADS_1


Mada akan luluh kembali dengan secangkir kopi hitam pahit buatannya. Yah, memang itu kelemahan Mada supaya bisa berubah menjadi baik lagi. Waktu di belakang rumah, Mada telah menceritakan apa-apa saja kepada Bambang, sehingga Bambang tahu semuanya.


"Tidak, aku tidak mau kopi!" seru Mada sambil mendorong tubuh Ruman kembali.


Mereka bolak balik terjerembab. Saras, Mawar, Bi Minah, dan Bu Ahmad hampir saja kelolosan tidak membaca ayat kursi karena kaget dan ingin menolong mereka. Namun, pak Ahmad mencegahnya dengan isyarat.


Bambang berlalu ke dapur untuk membuat kopi hitam pahit. Setelah selesai, ia meletakan kopi itu di teras depan kamar Bi Minah.


Mada yang masih marah akhirnya dengan perlahan luluh juga setelah mencium harumnya kopi buatan Bambang. Mada berhenti mengganggu dan malah duduk bersantai sambil menyesap kopi pahitnya.


Pohon Mangga berhasil di tumbangkan dengan susah payah. Bi Minah membuatkan minum untuk mereka semua, tentu saja dengan mulut yang masih terus membaca ayat kursi. Ketika selesai membuatkan minuman, nek Jamilah tiba-tiba muncul di depannya dengan wajah yang masih sama seperti 22 tahun yang lalu. Bi Minah kaget sehingga ayat kursi terlepas dari bacaannya. Nek Jamilah menggunakan kesempatan itu untuk merubah diri menjadi Bi Minah. Bi Minah di buat pingsan olehnya.


Sebelum benar-benar keluar, Nek Jamilah telah memantrai minuman tersebut. Siapapun yang meminumnya akan menjadi lupa dengan pekerjaannya. Dan akan patuh dengan perintahnya.


Tapi, beruntung Mada yang sudah luluh kembali memberitahu Bambang untuk tidak meminum minuman itu karena dia bukan Bi Minah, melainkan Nek Jamilah.


Bi Minah keluar dengan raut wajah tersenyum.


"Monggo silahkan di minum, tuan, Mas," ucap Bi Minah.


Ruman yang hendak mengambil minuman itu segera dicegah oleh Pak Ahmad.


Ruman menatap Pak Ahmad dengan keheranan. Pak Ahmad menggelengkan kepalanya agar Pak Ruman tidak meminum minuman itu.


Bambang kemudian maju dan melempar nampan yang masih di pegang oleh Bi Minah.


Semua orang yang memandangnya kaget. Demikian juga dengan Bi Minah, ia menatap Bambang dengan geram.


"Bedebah! Kau mau mencoba untuk melawanku rupanya, hiya ...."


Bug, Bi Minah mendorong Bambang hingga tersungkur ke tanah. Bi Minah melawan mereka satu per satu. Bambang adalah orang yang sangat diinginkan Bi Minah untuk dihabisi. Mada yang tidak terima kemudian datang melawan Nek Jamilah.


Nek Jamilah kaget dengan sikap Mada, yang baru saja memukul kepalanya. Mada menatapnya dengan beringas. Sedangkan Nek Jamilah tersenyum menyeringai.


"Dasar, tidak tau diuntung. Kamu mencintai laki-laki ini hingga kamu lupa dengan nenekmu, dan tujuan kita! Ingat Mada! Kamu akan hidup selamanya jika kamu bisa membawa ari-ari itu padaku!" ucap Nek Jamilah dengan geram.

__ADS_1


Pak Ahmad mengkode yang lain untuk tetap meneruskan pekerjaannya, dan membiarkan Mada bertarung dengan Nek Jamilah.


"Aku sudah muak dengan perintahmu. Kamu bukanlah nenekku lagi!"


"Dasar bodoh, kamu mau mati rupanya," ucap Bi Minah kemudian berusaha menarik rambut Mada.


Mada berhasil menghindar. Dengan jubah putihnya, Mada terbang kesana kemari untuk menghindari serangan dari Nek Jamilah, yang akan menarik rambutnya dan menekannya. Nek Jamilah akan menarik rambut Mada setiap kali, Mada memberontak. Nek Jamilah akan menariknya dengan sangat kuat hingga rambut-rambut itu terlepas dari kepalanya.


Rasanya sungguh menyakitkan. Dua helai rambut yang di cabut dengan saja sudah terasa panas. Apalagi jika seluruh rambut itu dipaksa tercabut dari akarnya? Bayangkan saja guys.


"Tidak berguna, kemarilah Mada, aku akan membuatmu merintih dan meminta ampunan dariku," seringai Nek Jamilah.


Mada ikut tersenyum menyeringai, Nek Jamilah mengeluarkan jurus yang kemudian membuat Mada terjatuh.


"Hahahaha!" Nek Jamilah tersenyum senang.


"Mas Bambang, cepatlah waktuku tidak banyak lagi. Aku tidak bisa menahan lama-lama serangan dari nenek," ucap Mada dalam hatinya.


Bambang mengangguk dan mengeluarkan energi ekstra untuk menggali tanah itu. Sedikit susah sebab sisa-sisa akar pohon Mangga menjadi penghalang.


Selain Bambang dan Pak Ahmad, tidak bisa melihat wujud Mada. Jadi, kesannya Nek Jamilah bertarung seorang diri.


Nek Jamilah berjalan mendekati Mada, dengan tatapan menyeringai. Sementara Mada merasa ketakutan, ia sama sekali tidak bisa bergerak dari tanah tempatnya terjatuh. Rupanya, nek Jamilah telah mengunci dirinya dengan tanah tersebut.


Pada saat jarak yang semakin dekat, Pak Ahmad datang membantu dengan menyabetkan tasbeh yang ia kalungkan sedari tadi.


Seblek, blek, blek!


"Aaaaaa, panas, panas ...." teriak Nek Jamilah kelojotan.


Tasbih tersebut sudah terisi dengan do'a-do'a dan dzikir yang setiap hari dilantunkan oleh Pak Ahmad sehabis sholat ataupun di kegiatan longgarnya. Sehingga, setan yang terkena sabetannya pasti tidak kuat.


Pak Ahmad terus membacakan do'a, dan maju ke arah Nek Jamilah.


Pak Ahmad menyabetkan tasbihnya lagi. Bambang, Marsel, dan Ruman berhasil menggali kuburan tersebut. Kain kafan pembungkus sudah terlihat di depan mata. Semuanya merasa senang.

__ADS_1


__ADS_2