Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
73. Mengacaukan Acara Masak


__ADS_3

Mawar mengernyitkan kening, "kenapa bisa seperti itu, Mas? Apa itu artinya Mada, belum dikuburkan seperti orang meninggal pada umumnya? Jika benar begitu, dimana ia dikuburkan?" tanya Mawar kaget.


"Aku sendiri tidak tau, Mbak. Dia hanya bilang seperti itu kepada saya," jawab Bambang.


Mereka terdiam kembali berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Mungkinkah, Mada cemburu kepadaku? Selama ini mungkin dia mengawasi keluargaku. Dia iri kepadaku karena setiap keinginanku selalu tercapai. Sedangkan urusannya ... Tapi, dia kan sudah meninggal. Kenapa harus punya sifat itu?" gumam Mawar dalam hatinya.


"Mas Bambang, nanti anterin Bi Minah pulang dulu ya, abis ini, kita kembali ke rumah, Mbak Wulan," ucap Mawar kepada Bambang.


"Iya Mbak,"


"Saya tunggu di sini saja, abis nganter langsung kemari ya,"


Bambang kemudian mengantar Bi Minah untuk pulang lebih dulu. Sesampainya di rumah, Bi Minah dan Bambang kaget karena semua tetangga yang tengah memasak keluar rumah dan terdengar keributan.


Bi Minah yang baru saja turun dari motor merasa bingung.


"Wati, ada apa? Koq pada bubar! Emangnya udah selesai masaknya?" tanya Bi Minah di depan pagar yang terbuka.


"Bi, Bu Saras kayak orang kesurupan, dia marah-marah. Kami semua diusir pergi," terang Wati ketakutan.


"Emangnya, bapak sama ibu udah pulang? Koq mobilnya gak ada!" seru Bambang.


Semua tetangga yang sudah keluar rumah itu keheranan, benar sekali. Mobil Pak Ruman sendiri tidak ada, bagaimana Bu Saras bisa sampai di rumah?


Mendadak semua orang kaget dan merinding.


"Iya, mobilnya gak ada. Terus yang di dalem siapa?" tanya Neni.


Dari dalam rumah, mereka mendengar suara perempuan tertawa cekikikan.


"Hihihihihihi, hihihi, aku kembali, aku kembali untuk mengambil makananku yang sudah kamu rebut dariku! Hihihihi!" suara Nek Jamilah melengking dari dalam rumah Ruman.


"Ya Alloh, suara siapa itu, Mbak?" tanya Neni lagi kepada Wati.


Para tetangga saling merapat mendekatkan diri satu sama lain karena takut.

__ADS_1


"Itu pasti Mbah dukun itu, Nek Jamilah," ucap Bi Minah.


"Masa, Bi?" tanya Wati kaget.


"Mas Bambang, Mas Bambang masuk cek ke dalem," tutur Bi Minah.


"Saya gak berani, Bi. Saya sudah pernah menghadapi nenek itu. Saya tidak bisa kalo sendiri, bukan lawan saya. Dia kan demit," ujar Bambang.


"Terus gimana dong? Kita tunggu saja di sini?" tanya Wati.


"Saya jadi takut mau rewang di rumah, Pak Ruman lagi. Saya pulang aja deh ya. Ayok ibu-ibu," tutur salah satu warga.


"Ayo, ayo. Saya juga takut," ucap yang lainnya.


"Duh, jangan gitu dong, ibu-ibu. Masaknya kan belum selesai, buat selametan nanti malam. Jangan pulang dulu. Kita masuk aja lagi. Udah aman koq sekarang, udah gak ada demitnya," tutur Bi Minah seraya memohon kepada para tetangga.


"Tapi gimana kalo nanti datang lagi, Bi. Tadi bumbu yang udah kita siapin, di tumpahin sama Bu Saras, eh demit itu. Terus barang-barangnya di banting. Untung saja, makanan yang sudah matang tidak di buang. Kami berhasil mencegahnya," tutur salah satu warga.


"Insya Alloh, sekarang udah pergi demitnya. Kita masuk lagi yah, Bu ibu," ajak Bi Minah.


"Jangan, mereka gak tau sampai di rumah kapan. Saya yang mengatur masaknya di sini. Ayo Bu, kita masuk," ucap Bi Minah kepada semua tetangganya.


Saat sudah mendekati hari pernikahan, memang harus diadakan acara selametan untuk menyambut tanggalnya.


Semua warga akhirnya masuk ke dalam dan masak kembali tanpa gangguan. Mereka juga merapihkan barang-barang yang berantakan. Ternyata memangbenar, Bu Saras yang mereka lihat, bukanlah Bu Saras yang sesungguhnya.


Semua warga berbincang atas kejadian yang baru saja mereka alami. Sementara, Wati dan Bi Minah sudah tidak kaget lagi. Mereka hanya diam dan fokus mengerjakan tugasnya.


Setelah ashar menjelang, semua persiapan untuk selametan sudah selesai. Tak berapa lama, Pak Ruman dan istrinya juga sudah sampai di rumah.


Mereka mengucapkan terimakasih kepada para tetangganya yang sudah berusaha payah mau membantu.


"Makasih banget ya semuanya. Oh iya, nanti kesini lagi loh yah. Makan nya juga di sini saja, jangan pada pulang," ujar Bu Saras kepada para tetangganya.


"Iya Bu, terimakasih. Kami sudah makan semua tadi," ucap Wati mewakili teman-temannya.


"Nanti kemari lagi loh yah," ucap Bu Saras lagi.

__ADS_1


Semua tetangganya akhirnya pulang dari rumah Pak Ruman. Mereka masih kasak kusuk yang kadang masih terdengar jelas di telinga Bu Saras. Bu Saras yang merasa sedikit heran kemudian menanyakan sesuatu kepada Bi Minah.


"Bi, saat kepergian saya dan suami saya, apa ada sesuatu yang terjadi? Koq saya denger ada ribut-ribut katanya," ujar Bu Saras.


Bi Minah celingukan kesana kemari seperti memastikan situasi. Ia kemudian mendekat kepada Bu Saras dan berbisik.


"Bu, nek Jamilah tadi muncul, menyamar sebagai ibu,"


"Apa!" seru Bu Saras sambil melotot.


"Iya Bu, tadi memporak porandakan barang. Semua tetangga hampir saja pulang semua dengan kejadian tadi,"


"Ya Alloh, kenapa sudah lama, harus muncul lagi, saya jadi takut, Bi!" ujar Bu Saras merasa sedih.


Bu Saras terduduk di bangku dapur. Bi Minah mengelus pundak Bu Saras.


"Bu, nek Jamilah bilang, dia kembali akan mengambil makanannya yang telah kita ambil. Mungkinkah, nek Jamilah masih menginginkan ari-ari yang separuh itu, Bu?" ucap Bi Minah.


"Saya shock jika harus mengingat kejadian dulu, Bi. Mada meninggal, ari-arinya hilang separuh," ucap Bu Saras sambil menahan Isak tangis.


Bi Minah kemudian duduk di depan Bu Saras dan berkata sambil berbisik.


"Bu, tadi saya, Mas Bambang, dan Mbak Mawar, habis cerita tentang Nek Jamilah, dan juga Mada. Kami masing-masing mengalami hal yang berbeda, Bu. Kami semua juga di teror oleh Nek Jamilah. Ibu dan Bapak, lebih baik jujur saja sama Mawar nanti. Kasih tau dia semuanya. Kita juga perlu musyawarah, Bu. Sebelum acara pernikahannya, Mbak Mawar berlangsung. Karena, nek Jamilah mengancam Mbak Mawar,"


"Ya ampun, Bi. Mengancam seperti apa?" tanya Saras yang kaget mendengar penuturan Bi Minah.


"Nanti saja kita bicarakan, Bu. Ini sudah sore. Kalo kita mau bicara soal hal ini, lebih baik jangan di rumah. Mbak Mawar bilang, di rumah itu sudah tidak aman. Karena, banyak teror nek Jamilah yang suka menyerupai kita. Ibu tau kan tentang hal ini?"


"Ya, Bi. Satu Minggu lagi, pernikahan Mawar akan berlangsung. Kita harus membereskan masalah ini sebelum acara itu. Saya akan coba bicarakan masalah ini pada suami saya," ucap Bu Saras penuh keyakinan.


Mawar dan Bambang sudah sampai di rumah Wulan. Mawar juga sudah menceritakan kejadian dimana ia pernah ditemui nek Jamilah yang menyerupai dirinya, lalu berubah menjadi nek Jamilah, dan kemudian berubah menjadi Ndoro Kusuma.


Nek Jamilah ingin menukar jiwa Mawar dengan Mada, karena hanya Mada lah yang mampu mengambil ari-ari itu untuk dirinya. Sebab, Mada dikubur bersama ari-ari tersebut. Ari-ari itu tidak akan berubah menjadi tanah jika Mada masih bergentayangan.


Mada sengaja dikendalikan oleh Nek Jamilah agar ari-ari itu tidak berubah menjadi tanah.


Nek Jamilah sebenarnya belum mati. Ia bisa menghilang dan datang menyerupai, atau merasuki siapa saja yang ia mau karena ia titisan Ndoro Kusuma. Untuk membunuhnya, ari-ari yang masih tersisa itu harus menjadi tanah, dan tanah yang berasal dari ari-ari itu disiramkan ke wajah Nek Jamilah. Maka, ia akan terbakar hangus dan menjadi abu. Tapi, untuk melakukan hal itu, hanya Mada sendiri yang bisa. Jiwanya yang dikekang harus dibebaskan terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2