
"Di rumah Pak Ruman sedang ada acara, Mas. Mana mungkin aku berkata jujur dan membuat keramaian disana," ucap Wulan.
"Ya setidaknya kamu cerita sama, Mas, dong!" jawab Adam kesal.
"Iya aku gak enak kalo harus cerita di sana. Ini juga kan aku sudah cerita," jawab Wulan.
"Sudah, sudah jangan berdebat. Dam, kamu dengarkan saja dulu. Maksud Wulan kan juga baik," ucap Marsel.
Adam membuang muka karena kesal.
Bambang tersenyum melihat tingkah Adam dan Wulan.
"Saya lanjutkan tidak ceritanya," ujar Bambang.
"Lanjut, Mas. Saya menunggu sedari tadi," ucap Wulan.
"Hem. Mungkin benar mbak, itulah wajah Nek Jamilah," ucap Bambang.
"Nek Jamilah?" tanya Wulan dan Marsel barengan.
"Siapa dia, Mas?" tanya Wulan.
"Aku kurang tau, aku hanya diberitahu oleh, Mada," jawab Bambang.
"Mada? Siapa lagi dia?" tanya Marsel.
"Aku kurang tau juga. Tapi, dia orang yang ikut makan denganmu, Mas Marsel," jawab Bambang.
"Hah! Kamu serius, Mas Bambang?" tanya Marsel.
"Iya, saya melihatnya. Mungkin orang yang kamu bilang mirip Mawar, itu adalah Mada. Dan, Mbak Wulan, waktu mbak lihat saya ngobrol sendiri, itu sebenarnya, saya sedang mengobrol dengan Mada. Mada memberitahu saya sesuatu," ujar Bambang lagi.
"Mada dan Nek Jamilah itu, setan?" tanya Adam yang sedari tadi diam.
"Iya mungkin bisa dibilang begitu, Mas!" jawab Bambang.
"Kenapa kamu bisa kenal dengan setan? Bahkan kamu tau banyak," ucap Adam lagi.
"Aduh, kalo diceritakan banyak banget, Mas," ujar Bambang tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Aduh, mohon maaf ya, Mas Bambang. Mungkin Mas Bambang capek. Tapi kami butuh informasi, Mas! Apalagi saya ingin menikah dengan Mawar. Saya tidak ingin sesuatu terjadi pada pernikahan saya nantinya," ucap Marsel memelas.
"Benar, Mas! Tolong cerita saja semuanya, apa yang Mas Bambang, ketahui," sambung Wulan.
__ADS_1
"Ya, ya, sebenarnya, saya dan Mada juga mengobrol tentang pernikahanmu, Mas Marsel,"
"Apa? Kenapa bisa begitu? Apa ada sesuatu yang ia incar? Atau ...." tanya Adam menggantung.
"Mada itu sebenarnya siapa? Penghuni rumah Pak Ruman? Atau ...."
"Dia memang tinggal di sana, Mbak. Tapi saya tidak tau tepatnya dimana. Mungkin, di pohon Mangga dekat mushola itu karena dia selalu minta saya untuk ke belakang,"
"Iya bisa jadi. Saat saya pertama kali melihat orang yang mirip dengan Mawar, juga di situ, Mas Bambang!" tutur Marsel dengan semangat.
"Iya, mungkin, Mas! Jadi sebenarnya, Mada itu tadinya menyukaimu, ta ...."
"Apa! Suka denganku? Kenapa dia bisa suka denganku?" tanya Marsel yang kembali melotot karena kaget.
Marsel tak menyangka jika dirinya disukai setan.
"Aku tidak tau, tapi ...." Bambang diam sejenak ia mencoba untuk mengingat-ingat setiap kalimat yang pernah diucapkan oleh Mada.
"Iya, aku ingat kalimat Mada, yang mengatakan bahwa ia menyukai seseorang yang ingin menikah. Dan dia cemburu saat orang tuanya akan menggelar pesta tujuh hari tujuh malam, sehingga ia menjatuhkan semua barang di dapur. Mas Marsel, sepertinya, kamu perlu menanyakan hal ini juga kepada, Mbak Mawar. Aku yakin, yang merasakan janggal bukan hanya kita saja. Bi Minah pasti juga merasakan hal yang sama," terang Bambang kemudian.
"Iya, kamu benar, Mas Bambang. Mungkin bukan hanya Mawar saja. Tapi, pak Ruman tau sesuatu. Jika hal ini akan mengancam keselamatan keluarganya, kita harus segera bertanya secepatnya, dan menyelesaikan masalah ini sebelum pernikahanmu, Sel!" terang Wulan.
"Benar, Mbak Wulan. Mada pernah mengatakan sesuatu tadi pagi, sebelum ia berubah jahat kembali. Nek Jamilah akan menukar jiwanya dengan Mawar. Entah apa yang sebenarnya di cari, tapi, Mada sudah tidak mau mengganggu katanya," ucap Bambang lagi yang membuat semua orang terbelalak.
"Menukar jiwa?" tanya Marsel, Wulan, dan Adam bersamaan.
"Kamu harus bertanya lagi pada, Mada, Mas Bambang," ucap Marsel cemas.
"Akan aku coba. Keadaannya sekarang tidak memungkinkan, ia sedang berubah menjadi jahat. Aku takut jika berlama-lama dengannya," jawab Bambang merinding.
Mereka ber empat terdiam sejenak. Mereka asyik dengan pikirannya masing-masing. Kopi yang disuguhkan Adam sampai dingin karena mereka terlalu asyik mengobrol hingga lupa untuk minum.
"Bagaimana kamu bisa mengenal, Mada?" tanya Wulan kembali.
"Oh, waktu itu aku tinggal berdua dengan Bu Saras. Pak Ruman pergi menjemput Mawar dan Bi Minah di rumah sakit,"
"Siapa yang sakit? Kenapa aku tidak tau kabarnya," ucap Marsel tidak mengerti.
"Bi Minah yang sakit, dan Mawar menjaganya. Bukankah aku sudah bilang dari tadi,"
"Iya, tapi kenapa, Mawar tidak memberitahuku,"
"Kalo itu aku tidak tau. Tanyakan langsung saja pada, Mbak Mawar," terang Bambang lagi.
__ADS_1
"Sudah, lanjutkan lagi, Mas Bambang!" kata Wulan serius.
"Yah aku pikir, Mada itu, Mbak Mawar. Dia masuk dan membuka gerbang begitu saja. Aku berjaga di teras sambil ngerokok dan minum kopi. Dari situ aku mengenalnya. Dia minta kopi pahit, aku memberikannya. Sejak kejadian itu, dia menyukaiku," ucap Bambang sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh, jadi gara-gara kopi itu. Kamu bisa mengakalinya, Mas Bambang. Kalo saja Mada, kamu beri kopi pahit lagi, mungkin dia akan berubah kembali baik lagi," ucap Wulan sambil tersenyum.
"Entahlah, aki tidak tau. Dia sekarang tidak mau mendengarkan diriku," ucap Bambang merasa sedih.
***
Mawar masih terngiang oleh sosok nek Jamilah yang mengatakan, ingin mengambil ari-ari lagi. Bahkan, wajah nek Jamilah berubah menjadi wajah Ndoro Kusuma. Mawar merasa ketakutan di dalam kamarnya.
Dia bingung, apakah harus membicarakan hal ini kepada orang tuanya, atau cukup ia pendam saja.
Mawar tampak galau. Suara deringan hapenya mengagetkan dirinya. Dengan segera, Mawar mengambil hape yang ia letakan di meja kamarnya.
"Hallo, Mas! Kebetulan sekali," ucap Mawar sambil tersenyum.
"Ada apa? Nada bicaramu terlihat gugup, War!" kata Marsel dari seberang sana.
"Iya, aku, aku ingin menceritakan sesuatu hal kepadamu. Tapi aku tidak yakin kamu akan percaya atau tidak, Mas!" ucap Mawar ragu.
Dari seberang sana, Marsel sudah punya firasat kalau, Mawar pasti mengalami hal yang janggal juga di rumahnya. Ini kesempatan yang bagus untuk dirinya. Marsel segera memancing Mawar, agar mau bercerita.
"Katakan saja, War! Aku pasti percaya dengan apa yang akan kau katakan," ucap Marsel.
"Tapi aku tidak bisa menjelaskannya di telepon. Bagaimana kalo kita bertemu,"
"Malam ini?"
"Iya, Mas!"
"Aku tidak yakin kalo malam ini. Orang tuamu tidak akan mengijinkan. Dan orang tuaku pasti akan melarang. Coba kamu katakan saja di telepon. Besok, pulang kerja, aku akan mampir ke rumah,"
"Jangan bicarakan di rumah, Mas!"
"Kenapa?"
"Di rumah tidak aman. Jangan juga di kawasan pabrik. Itu tidak aman juga,"
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?"
"Ini firasatku, Mas! Aku merasakan, ini ada sangkut pautnya dengan kepulangan ku, atau Ndoro Kusuma,"
__ADS_1
"Apa! Ndoro Kusuma lagi?"
Marsel terbelalak mendengar nama yang disebutkan oleh Mawar. Mungkinkah mahluk itu masih hidup?