
Pak Kyai meletakan hapenya di lantai. Ia menghela nafas, yang disambut senyuman oleh Kang Ridwan.
"Bagaimana, Pak Kyai? apa pertanyaan Wulan membuat Pak Kyai stres?" ledek Kang Ridwan.
"Iya, jujur saja, Kang! saya sedikit pusing. Oh iya, apa ada cara lain untuk membawa Mawar dari dalam rumah Ndoro Kusuma, Kang?"
Kang Ridwan tampak berpikir keras.
"Nanti malam, saya coba meditasi ya, Kyai. Harusnya ada. Tidak mungkin, Ndoro Kusuma bisa tiba-tiba sakti! Pasti ada sebab nya."
"Saya tunggu kabar baik darimu, Kang!"
"Jangan banyak berharap, Pak Kyai, saya tidak janji. Oh iya, kalo Pak kyai mau, saya akan pinjamkan, tongkat delima merah, turunan dari Raja XXX, insya Alloh, tongkat itu membantu. Sekali saja, Pak Kyai bacakan do'a dan memfokuskan kepada demit yang menyerang Pak Kyai, demit itu akan terbakar. Tongkat itu sangat ampuh, Pak Kyai. Kenapa saya baru kepikiran, ya!" kata Kang Ridwan sambil menggaruk dahinya.
"Iya, saya pernah dengar dengan kehebatan yang dimiliki tongkat itu, Kang! tapi jujur saja, saya juga belum pernah melihatnya. Tadinya saya juga mau menanyakan tongkat itu kepada kamu, tapi tidak enak, jadi saya mencoba mengulur pembicaraan kita," tutur Pak kyai sambil tersenyum.
"Ah, Pak Kyai, saya jadi tidak enak. Padahal, Pak Kyai bisa langsung menanyakannya!"
"Basa-basi dulu lah, Kang!"
__ADS_1
"Iya, iya, besok Pak Kyai ke rumah saya saja, bagaimana? soalnya besok saya ada acara di pondok."
"Saya belum bisa pergi, Kang! kalo kamu tidak keberatan, bolehkah santri saya yang datang ke rumahmu untuk mengambil tongkat itu?"
"Baiklah, tidak masalah, kalo begitu, saya permisi pulang dulu, Pak Kyai, terimakasih jamuannya."
Kang Ridwan beranjak dari tempat duduknya. Ia merapihkan jubahnya. Pak Kyai ikut berdiri dan mereka saling bersalaman dengan erat.
"Terimakasih sekali, Kang! kamu sudah mau datang ke rumahku, sudah mau membantuku. Mari, aku antar keluar."
Kang Ridwan tersenyum, mereka kemudian keluar dari ruangan.
"Apa sedang kamu lihat, Nak Mawar?" tanya Ndoro Kusuma dengan suara menggema.
Mawar tersadar, ia segera membenahi sikapnya, ia tidak ingin ketahuan oleh Ndoro Kusuma.
"Tidak ada, Ndoro!"
Ndoro Kusuma menyeringai. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku! Apakah, kamu habis keluar bersama penghuni di sini, Nak Mawar!"
__ADS_1
Mawar tercengang ketika mendengar pertanyaan Ndoro Kusuma. Ia mendongakkan kepalanya melihat wajah Ndoro Kusuma. Dia bergetar, apakah Ndoro Kusuma tau, kalo dia berusaha kabur bersama Mira?
"Tidak, Ndoro. Bagaimana saya bisa pergi, sedangkan pintu kamar saya selalu terkunci!"
Mawar berusaha menutupi ketakutannya. Dia berharap, Ndoro Kusuma tidak dapat membaca kegundahan yang dirasakannya.
Ndoro Kusuma tertawa, suaranya menggelegar.
"Kamu jangan main-main dengan saya, Mawar! saya bisa saja, melahap kamu sekarang juga, kalo saya mau." kata Ndoro Kusuma dengan senyuman seramnya.
Mawar mengatupkan kedua tangannya diatas kepala.
"Mohon maaf, Ndoro, saya tidak berani berbohong! percayalah!"
Ndoro Kusuma masih dengan senyuman mengerikannya, tidak menjawab kalimat Mawar. Burhan kemudian menyeret Mawar untuk bergabung dengan yang lain di meja makan.
Mawar terus melafalkan kalimat Alloh di dalam hatinya. Ia terus meminta perlindungan kepada Sang Khaliq.
Ndoro Kusuma memutar bola matanya. Ia kemudian melayang-layang di langit-langit rumahnya. Ia tampak meniupkan sesuatu kepada barong-barong yang tertempel di dinding. Barong-Barong tersebut membuka mulut dan menelan apa yang Ndoro Kusuma tiupkan. Barong-Barong tersebut seperti sedang disuapi makanan. Setelah merasa kenyang, Barong-Barong itu tertawa seperti suara anak kecil, namun terdengar mengerikan.
__ADS_1