Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 26 : Pingsan


__ADS_3

Karena menunggu kepulangan Adam dan Marsel terlalu lama, belum lagi kalo mereka lembur, Wulan memutuskan untuk menemui kedua orangtua Mawar di kediamannya sendirian.


Setelah mengunci pintu, Wulan berjalan ke depan untuk mencari tukang ojek.


"Mas, anterin saya ke jalan X nomor lima, yah!"


kata Wulan memberi instruksi kepada tukang ojek.


"Oke, Mbak!"


Wulan dan tukang ojek tersebut segera pergi menuju alamat yang dituju oleh Wulan.


"Semoga, kedua orangtua Mawar ada di rumah," ucap Wulan dalam hatinya.


Setalah 20 menit kemudian, Wulan sampai di rumah Mawar, ia membayar tukang ojek, setelah itu, ia memencet bel yang bertengger di tembok.


Tanpa menunggu lama, Bi Minah keluar dari arah pintu dapur, ia bergegas membuka pagar.


"Eh, Nak Wulan, tumben pagi-pagi sudah kemari! Mari silahkan masuk!"


"Terimakasih, Bi. Ngomong-ngomong Ibu sama Bapak, ada di rumah gak, Bi?" tanya Wulan diiringi senyuman.


"Kalo Bapak, beliau sudah mulai bekerja lagi, di kantornya, kalo Ibu, ada, beliau habis sarapan, mari, Neng!"


Wulan mengangguk, kemudian mengikuti langkah Bi Minah.


"Saya panggilkan dulu ya, Neng, silahkan duduk dulu."


"Iya, Bi!" kata Wulan masih dengan senyumannya.


Bi Minah, kemudian pergi ke dapur untuk membuat minuman, kebetulan, di sana juga ada Saras yang sedang mencuci piring bekas sarapannya.


"Siapa, Bi!" tanya Saras sambil meletakan piring ke dalam rak.


"Itu, Bu, Nak Wulan,"

__ADS_1


"Sama siapa?"


"Sendirian, Bu. Oh iya, Ibu mau saya buatkan minum juga tidak?" tawar Bi Minah.


"Nggak, makasih, Bi. Buatkan untuk Wulan saja," Saras tersenyum sambil menepuk pundak Bi Minah, kemudian pergi menemui Wulan.


"Nak Wulan, sudah lama nunggu ya!"


"Oh, nggak koq, Tante, baru aja." Wulan mencium tangan Saras, kemudian duduk kembali.


"Suamimu dan Marsel tidak ikut?"


"Mereka shif satu, Tante. Tante apa kabar?"


"Oh begitu, Alhamdulillah baik, gimana, Nak Wulan, apa ada kabar dari Pak Kyai? Saya tunggu-tunggu, koq Nak Wulan tidak memberi kabar juga."


Bi Minah keluar sambil membawa secangkir teh manis, dan meletakannya di atas meja.


"Aduh, Bi Minah repot-repot sekali membuatkan saya minum segala!" kata Wulan diiringi senyuman.


Saras dan Wulan tersenyum dan mengangguk. Bi Minah kemudian pergi ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Loh, Tante gak minum?" tanya Wulan, yang mengetahui jumlah cangkirnya hanya satu.


"Kebetulan saya sudah habis satu gelas besar, silahkan kamu minum dulu, Nak. Mumpung masih anget." perintah Saras sambil tersenyum.


"Waduh, saya minum sendiri, maaf ya, Tante!"


"Iya, gak papa, jangan sungkan, Nak Wulan. Silahkan!"


Wulan yang kebetulan merasa haus, segera mengambil cangkir, dan meminum setengahnya.


"Jadi, bagaimana, Nak Wulan? Ada kabar apa?" tanya Saras kembali.


"Iya, Tante, saya berhasil menghubungi, Pak Kyai, dan, beliau juga mencoba untuk mencari Mawar, informasi yang saya dapat, beliau baru sampai di penemuan kendaraannya Mawar saja, Tante."

__ADS_1


Saras yang menyimak dengan seksama merasa senang sekaligus masih penasaran dengan kelanjutan cerita Wulan.


"Benarkah, lalu, dimana motor Mawar di temukan, Nak Wulan?"


"Kalo itu, Pak Kyai belum bisa memberitahu, Tante. Tapi, Pak Kyai berpesan, untuk selalu berdo'a. Jangan sampai putus do'a kita."


"Iya, iya, tentu saja! Mendengar penemuan motor Mawar saja, saya sudah senang, apalagi kalo Mawar bisa ketemu." kata Saras dengan ekspresi bahagianya.


"Saya juga ikut senang, Tante."


"Lalu, kata Pak Kyai, Mawar hilang dimana?"


Wulan terdiam sejenak.


"Dari nada bicara beliau, beliau sepertinya menunjukan rasa kecemasan, Tante."


"Maksudmu, Nak Wulan?"


"Mawar, masuk ke dalam sarang demit."


Saras terbelalak mendengar pernyataan Wulan, nafasnya terasa tersengal.


"Tante, untuk hal itu saya belum jelas, Tante jangan berpikir yang macam-macam dulu, yang terpenting, do'a untuk Mawar jangan sampai putus, terutama do'a dari Om dan Tante, selaku orangtua Mawar."


Wulan mencoba untuk menenangkan hati Saras. Saras yang kadung kaget, ia merasa pening di kepalanya, pandangannya terasa kabur, pernyataan Wulan ternyata mampu membuat dirinya down, Saras kemudian pingsan.


"Tante, Tan, bangun, Tan! Ya Alloh, bagaimana ini! Bi, Bi Minah, tolong Bi!" Wulan berteriak memanggil Bi Minah yang tengah menjemur cucian. Mendengar teriakan Wulan, Bi Minah langsung meninggalkan pekerjaannya, dan berlari menemui Wulan.


"Astagfirulloh, apa yang terjadi, Nak?"


"Ibu pingsan, Bi, tolong ambilkan minyak telon, Bi!"


"Iya, Neng!"


Wulan terlihat panik, begitupun dengan Bi Minah.

__ADS_1


__ADS_2