
Di rumah, Mawar sudah sangat sibuk mempersiapkan segala persiapan untuk acara pernikahannya. Mawar meminta ijin untuk pergi ke rumah Wulan. Disana, ia akan menemui Marsel setelah pulang kerja nanti.
Hatinya tidak tenang berada di rumah terus. Namun, baru saja ia ingin membuka gerbang, langkahnya terasa berat. Kakinya sulit untuk di gerakkan.
"Ada apa dengan kakiku, kenapa sulit sekali untuk bergerak," keluh Mawar.
Mawar mencoba untuk menarik kakinya, namun tidak bisa. Tangannya berpegangan pada pagar, ia berusaha sekuat tenaga, namun begitu susah.
Keringat sudah membasahi dahinya. Ia celingukan, tidak ada orang yang keluar dari rumahnya, bagiamana ia bisa minta tolong?
Bambang yang kebetulan baru saja datang, memberhentikan motornya di depan pagar. Ia turun dari motornya dan mendekati Mawar yang berdiri di dalam gerbang.
"Mbak Mawar, mau bukain pagar buat saya ya?" tanya Bambang sambil membuka helmnya.
"Tidak, Mas! Tolong saya, kaki saya tidak bisa di gerakkan," ujar Mawar meringis.
Kakinya seperti terpatri dengan tanah bersemen itu.
Bambang kemudian berjongkok dan memperhatikan kaki Mawar. Ada tangan pucat yang memeganginya dengan erat.
"Mbak, saya mohon maaf, boleh saya sentuh kaki, Mbak Mawar?" tanya Bambang meminta ijin.
"Iya silahkan, Mas!" jawab Mawar.
Bambang kemudian membaca do'a yang ia ketahui, lalu mengusapnya di tempat ada tangan pucat itu. Tangan pucat itu kemudian hilang. Bambang berdiri kembali.
"Alhamdulillah," ucap Bambang sambil membasuh wajahnya.
Mawar mengangkat kakinya, ia merasa senang karena keadaan sudah normal kembali.
Mawar segera membuka pagar dan mengucapkan terimakasih kepada Bambang.
"Terimakasih, Mas Bambang," ucap Mawar sambil tersenyum.
"Sama-sama, Mbak!"
"Memangnya ada apa di kaki saya?" tanya Mawar penasaran.
"Anu, gak ada apa-apa koq," jawab Bambang.
"Mas, jangan bohong sama saya. Saya tau di rumah saya ada hal yang gak beres. Apa, Mas Bambang juga merasakannya?" tanya Mawar to the point.
__ADS_1
Bambang yang tadinya merasa tidak enak, akhirnya berkata jujur.
"Iya, Mbak! Memang banyak kejadian janggal. Apa, Mbak Mawar juga merasakannya?" tanya Bambang.
"Kalo begitu, ikut saya saja, Mas! Kita ke rumah Mbak Wulan. Kita cerita di sana!" ucap Mawar sambil memegang tangan Bambang mengarah ke sepeda motor yang terparkir.
"Ta-tapi, tapi saya sudah kesana kemarin, Mbak! Saya juga sudah menceritakan semuanya yang saya ketahui,"
"Kenapa kamu tidak mengajakku kemarin? Sudahlah, antar saya kesana kalo begitu. Nanti kamu boleh pulang lagi,"
"Tapi, saya harus meminta ijin dulu sama Pak Ruman. Soalnya beliau menunggu saya untuk mengantar undangan ke kantor,"
"Halah, sudah nanti saja. Aku kan juga bosmu. Bapak, atau aku yang menyuruh, itu sama saja,"
"Tapi, yang menggaji saya kan, Pak Ruman. Bukan, Mbak Mawar!"
"Bawel ya kamu. Sudah ayo buruan!"
Mawar mendorong tubuh Bambang agar segera naik ke atas motor. Sementara Mawar sudah duduk di jok belakang. Bambang tidak bisa berbuat banyak selain menuruti apa kata Mawar.
Bambang menyetir motornya dengan perasaan yang was-was. Bagaimana jika nantinya pak Ruman marah kepadanya.
"Kalo begitu hubungi sekarang, Mbak! Saya takut beliau marah karena saya juga sudah telat setengah jam," jawab Bambang dengan nada sedih.
"Iya iya, kamu fokus nyetir saja," ucap Mawar.
Mawar segera mengeluarkan hape dari dalam tasnya dan menghubungi Bapaknya.
Begitu tersambung, Mawar segera mengutarakan tujuannya.
"Hallo, Pak! Ini, Mawar mau bilang, Mas Bambang telat datang karena Mawar suruh nganterin Mawar du ... Apa! Gak mungkin, Pak!"
Mawar kemudian memutus panggilannya dan menyuruh Bambang agar segera berhenti.
"Mas Bambang! Berhenti!"
Ciiittt
Bambang mengerem sepeda motornya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Bambang heran.
__ADS_1
"Kita pulang saja dulu," jawab Mawar dengan panik.
"Memangnya kenapa, Mbak?" tanya Bambang penasaran.
"Bapak bilang, tadi kamu sudah datang ke rumah, dan pergi sambil membawa undangan. Kita harus cek, Mas Bambang!"
"Apa! Saya kan sama, Mbak Mawar di sini," jawab Bambang yang ikut kaget.
"Makanya, kita pulang saja sekarang!"
Bambang segera memutar motornya dan pulang kembali ke rumah Pak Ruman.
"Nek Jamilah yang bisa merubah wujud siapapun yang ia mau. Apa sebenarnya yang diinginkan demit itu?" tanya Bambang dalam hatinya.
"Ayo, Mas Bambang, ngebut!" tutur Mawar.
Bambang bukanya menuruti Mbak Mawar, ia malah mengerem kendaraannya.
"Kenapa malah berhenti, Mas?" tanya Mawar heran.
"Mbak! Saya tanya lebih dulu, Mbak Mawar, punya saudara kembar? Terus, Mbak Kenal sama Nek Jamilah, gak?"
"Saudara kembar? Nek Jamilah?"
Mawar terdiam dan mencoba mengingat sesuatu.
"Aku tidak punya saudara karena orang tuaku sendiri tidak pernah menceritakan hal apapun. Di album foto juga tidak ada foto orang lain. Kalo Nek Jamilah, aku sama sekali tidak tau siapa dia. Tapi, saat acara lamaran kemaren, aku benar-benar dibuat takut oleh seseorang yang menyerupai diriku. Kemudian, ia berubah wujud menjadi seorang nenek yang sangat menyeramkan. Lalu, nenek itu berubah menjadi Ndoro Kusuma, lalu berubah lagi. Dia bilang, dia akan menjadi sinden dalam acara pernikahanku. Dia akan menukar ragaku, dan ingin mengambil sebagian ari-ari yang masih tertanam di bawah sana. Aku sungguh tidak mengerti apa maksudnya. Tapi, kalimatnya seperti ancaman bagiku, Mas Bambang,"
Bambang terhenyak. Kalimat yang diucapkan Mawar, sama persis dengan apa yang dikatakan oleh, Mada.
"Mba, aku yakin, nenek yang menemui mu itu adalah, Nek Jamilah. Ini bahaya, Mbak. Sebaiknya, Mbak Mawar tanyakan kepada orang tua Mbak, soalnya, Pak Ruman pernah bilang kepada saya, bahwa dulu ada peristiwa besar yang terjadi dalam keluarganya. Mbak harus tanyakan apa peristiwa itu, dan apa yang sebenarnya dicari oleh, Nek Jamilah itu. Saya sendiri sering melihat sosok yang mirip dengan, Mbak Mawar. Namanya, Mada. Dia bilang, dia tinggal di rumah sudah sangat lama. Aku punya firasat, kalo Mada itu adalah saudara, Mbak Mawar,"
Mawar terdiam sejenak, mencoba mencerna kalimat yang Bambang ucapkan.
"Tapi, di rumah sedang ramai. Aku tidak yakin kalo, Bapak akan menceritakan semuanya," jawab Mawar dengan ragu.
"Coba saja dulu, Mbak! Tapi jangan sampai bikin keributan. Mbak Mawar harus bisa mengontrol emosi. Bicara pelan-pelan saja. Aku yakin, Pak Ruman akan menjelaskan semuanya. Kalo, Pak Ruman tak mau mengaku, sebaiknya Mbak Mawar bicara dengan Bu Saras. Bu Saras lebih gampang diajak bicara soal hal begini,"
"Iya baiklah. Mari kita pulang saja sekarang. Aku takut jika ada hal lain terjadi di rumah," ucap Mawar.
Bambang dan Mawar melanjutkan perjalanannya lagi menuju rumah. Mereka mengurungkan niatnya untuk ke rumah Wulan, setelah mendengar ada Bambang lain, yang mengantar surat undangan.
__ADS_1