Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
47. Pesan dari Mira


__ADS_3

Marsel mengetuk pintu, kemudian masuk ke dalam kamar. Di sana sudah ada Pak Kyai dan juga Kang Ridwan. Sementara, Aziz, Dimas, dan kedua sopir masih beristirahat.


Marsel memberikan bubur itu kepada Wulan, yang kebetulan duduk di sebelah Mawar.


Wulan kemudian menyuapi Mawar dengan telaten.


"Terimakasih, mbak," ucap Mawa kepada Wulan.


"Sama-sama, War," ucap Wulan diiringi senyuman.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Nak Mawar?" tanya Pak Kyai.


"Alhamdulillah, sudah cukup baik, Pak! Ngomong-ngomong, suara anda persis seperti suara orang yang menuntun saya untuk ...."


"Beliau ini, Pak Kyai yang memang sengaja menolong kamu, War! Dan juga, di sebelahnya, ada Kang Ridwan. Beliau juga yang membantu mencarikan jalan untukmu," ucap Wulan.


"Oh begitu. Saya sangat berterimakasih kepada Pak Kyai, dan juga Kang Ridwan, dan kepada kalian semua yang ikut andil dalam pencarian, Mawar! Mawar sangat senang bisa berkumpul kembali di sini," tutur dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, sama-sama, Nak Mawar. Syukurlah kalo keadaanmu sudah cukup baik. Oh iya, untuk jasad temanmu sebaiknya ...."


Belum selesai berkata, Mawar memotong kalimat Pak Kyai, dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya, berlari keluar kamar mencari sosok Mira.


Kedua sopir, Aziz, dan Dimas kaget mendengar teriakan Mawar.


"Mira! Mir, Mira," teriak Mawar.


Semua orang mengikuti Mawar dari belakang.


"Mawar, tunggu," teriak Wulan.


Mawar terpaku ketika melihat jasad yang ditutupi dengan kain tersebut, lututnya terasa lemas, bulir-bulir air mata turun dari pelupuknya. Mawar tak kuasa menahan tangisnya.


Berbarengan dengan tangisan Mawar, kedua orangtua Mira datang. Adam yang menunggu di luar, segera mempersilahkan masuk.


Umi Fatma dan Abi Ilham kaget karena begitu masuk, suara tangisan Mawar memenuhi ruangan tersebut. Sementara yang lain tampak hening.


"Apa yang terjadi di sini, Mas?" tanya Umi Fatma kepada Adam.


"Em, anu–emm– mari ikut saya saja, Umi, dan juga Abi," ucap Adam.


"Tapi, yang punya rumah ini siapa? Saya jadi tidak enak," ucap Abi Ilham menolak untuk masuk.


"Iya, Mas! Apa mungkin ...." kalimat Umi Fatma terpotong ketika mendengar suara Mawar menyebut nama Mira.


"Miraaaaa ...." teriak Mawar diiringi dengan tangisan.

__ADS_1


"Bi, Mira," gumam Umi Fatma sambil memandang Abi Ilham.


Abi Ilham dan Umi Fatma saling memandang, dengan langkah cepat, mereka masuk ke dalam, dan melihat banyak orang di sana.


Umi Fatma mendekat ke arah Wulan yang tengah memegangi Mawar.


"Nak Wulan, ada apa? Kenapa ...."


"Umi, ya Alloh," Wulan kemudian berganti memeluk Umi Fatma.


Wulan mengelus punggung Umi Fatma, sementara, Umi Fatma masih tidak mengerti.


Abi Ilham kemudian melihat jasad yang masih tertutup kain putih tersebut.


"Mohon maaf, apa yang tengah terjadi di sini? Jasad siapa yang tergeletak di sana?" tanya Abi Ilham.


"Apa anda, orangtua Mira?" tanya Pak Kyai.


"Iya, kami sendiri ... Kebetulan, Nak Wulan, menghubungi istri saya, dan menyuruh kami untuk segera ke sini. Dan kami tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, bisakah Bapak menjelaskan hal ini kepada saya?" tanya Abi Ilham.


Pak Kyai menepuk pundak Abi Ilham. "Sabar dan ikhlas adalah kunci agar tetap teguh iman kita,"


Abi Ilham tersenyum, ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Pak Kyai. Wulan kemudian melepaskan pelukannya.


Ia menatap lekat mata Umi Fatma.


"Ada apa sih, Nak Wulan? Tadi saya mendengar ada orang menyebut nama, Mira!" jawab Umi Fatma penasaran.


"Umi, coba tengok jasad itu," ucap Wulan sambil menunjuk jasad Mira.


Umi Fatma menelan ludahnya sendiri. Ia kemudian bangkit dan mendekati suaminya.


"Abi ...." ucap Umi Fatma.


Abi Ilham menganggukan kepalanya. Mereka berdua kemudian mendekati jasad Mira perlahan. Sementara yang lain, hanya melihat dengan perasaan yang berdebar. Mawar masih menangis sesenggukan.


Abi ilham dan Umi Fatma berjongkok, dan bersiap membuka kain yang menutupi jasad Mira.


Abi Ilham dan Umi Fatma merasakan debaran jantung yang tidak biasa. Nafas mereka terasa berat, tubuh mereka bergetar, ketika tangan mereka mulai menyentuh kain tersebut.


Begitu kain di buka, mereka berdua tak kuasa menahan kaget yang teramat dalam. Mata mereka membulat, mulut mereka ternganga, bulir-bulir air mata mengendap di pelupuk mata.


"Inalillahiroji'un, Inalillahiroji'un ...." gumam Abi Ilham dengan air mata yang mulai runtuh.


"Inalillahiroji'un, Mira ... Anakku ... Ya Alloh, Mira ... Mira," Umi Fatma tersungkur ke belakang, ia tak kuasa menahan tangis, sendi-sendinya terasa lemas.

__ADS_1


Wulan kemudian berlari menghampiri Umi Fatma.


"Umi, yang kuat!" bisik Wulan.


"Ya Alloh, Miraaaa ...." Abi Ilham berteriak saking kagetnya, melihat kondisi anaknya yang mengenaskan.


Abi Ilham tak kuasa menahan tangisnya. Putrinya hampir satu tahun lebih telah pergi meninggalkan dirinya tanpa kabar sama sekali.


Sekarang, ia harus melihat kenyataan anaknya dengan kondisi yang membuatnya tersakiti. Jantungnya seperti dicabik-cabik oleh banyak pedang. Tubuhnya seperti di kuliti melihat jasad anaknya sendiri yang sudah terbujur kaku tersebut dalam kondisi yang memprihatinkan.


Separuh rambutnya hilang, banyak memar di tubuh Mira, dengan pakaian yang sudah koyak di beberapa bagian.


Abi Ilham dan Umi Fatma bertangisan di rumah Ruman. Semua orang yang menyaksikan mendadak ikut bersedih.


Para tetangga yang penasaran, satu per satu berdatangan menyaksikan kejadian tersebut.


Meski belum paham benar apa yang tengah terjadi, namun, mereka sedikit kaget karena melihat Mawar yang sudah kembali.


Pak Kyai membiarkan orangtua Mira untuk merasa tenang terlebih dahulu, sebelum melanjutkan proses pemandian dan penguburan jenazah Mira.


***


Mira kemudian dimakamkan di TPU kota K, dekat dengan komplek rumah Mawar. Dengan kondisi Mira yang sudah terlalu lama, tidak memungkinkan untuk Abi Ilham dan Umi Fatma membawa jenazah Mira bolak-balik masuk mobil.


Mereka sudah cukup ikhlas dengan meninggalnya Mira. Para tetangga yang penasaran, memilih untuk tetap tinggal di rumah Mawar, sembari ingin mencuri dengar apa yang sudah terjadi kepada Mawar dan Mira.


Untunglah, Marsel dan Adam mengambil cuti, sehingga mereka tidak perlu khawatir di PHK karena tidak masuk kerja.


"Kami sudah cukup ikhlas. Do'a kami dikabulkan Alloh. Kemaren, saya habis dari pondok, mengadakan do'a bersama dengan para kyai, dan santri di sana, agar Mira segera ditemukan. Dan Alhamdulillah, hari ini, saya dapatkan kabar tersebut. Saya sangat berterimakasih sekali kepada kalian semua yang berada di sini, yang sudah ikut serta dalam membantu menemukan Mira, anak saya," tutur Abi Ilham dengan pelan.


Semua orang mengangguk dan tersenyum ke arah Abi Ilham.


"Umi, Abi, Mira berpesan kepada saya. Mira bilang, dia berterimakasih atas semua pengorbanan kalian selama ini. Dan juga, Mira meminta maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaan kalian," tutur Mawar memandang Abi dan Umi.


Umi Fatma kembali menitikan air mata, ia teringat ketika ia dan suaminya hendak menjodohkan Mira dengan lelaki pilihan mereka, dan Mira menolaknya mentah-mentah.


"Abi dan Umi sudah memaafkan segala kesalahan kamu, Mir," terang Umi Fatma sambil melihat ke atas.


"Kalo boleh tau, apa yang sebenarnya kalian berdua alami?" tanya Abi Ilham mewakili jeritan para tetangga yang masih berkumpul di sana.


Mawar terdiam, ia merasa sedih jika teringat peristiwa di dalam rumah Ndoro Kusuma.


"Tolong ceritakan kepada saya, agar saya tidak lagi egois, jika ada peristiwa seperti ini lagi," ucap Abi Ilham dengan tatapan memohon.


Abi Ilham yang memang tidak percaya dengan hal ghaib seperti itu, ia merasa butuh pencerahan. Apalagi, putrinya sendiri yang mengalaminya hingga meninggal.

__ADS_1


Mawar perlahan membuka mulutnya untuk bercerita.


__ADS_2