
Pak Kyai tahu jika wanita yang tengah berdiri di depannya, bukanlah Mawar yang asli.
Mawar palsu alias Ndoro Kusuma kemudian menari-nari dengan lihai, matanya melotot, melirik ke kanan dan ke kiri.
Samar-samar suara gamelan mengiringi tarian Ndoro Kusuma.
Pak Kyai terus fokus dengan dzikirnya, ketika tongkat mulai bergetar dan mengeluarkan sinarnya, mengunci semua energi negatif yang ada di sekitar tempat itu. Ndoro Kusuma seketika berubah menjadi barong, ia terbang ke sana kemari. Lalu hilang bersamaan dengan percikan kembang api.
Setelah jelamaan Ndoro Kusuma hilang, Burhan muncul dengan wajah menjijikkannya, lendir dari hidung dan mulutnya terus menetes. Matanya merah menyala, tubuhnya besar dan tinggi lima kali lipat dari pohon kelapa. Tersenyum menyeringai memandang Pak Kyai, Namun ia sedikit takut ketika melihat tongkat delima yang berada di sebelah Pak Kyai.
Seperti ada yang memaksa Pak Kyai untuk membuka matanya, supaya dapat melihat Burhan. Pak Kyai tetap fokus dengan dzikirnya, meskipun tubuhnya sudah bergetar, keringat membasahi tubuhnya.
"Hrrrr ... Hrrrrr ... Hrrr ..." suara desisan Burhan seperti anak kecil yang tengah belajar memfasihkan huruf R.
"Lawan lah aku jika kau mampu," ucap Burhan dengan suara yang mampu membuat orang bergetar jika tidak kuat.
Pak Kyai melafalkan sebuah do'a dengan khusyuk. Ia kemudian berdiri dengan mata yang masih terpejam. Ia kemudian mengangkat tongkatnya dan mengarahkan ke arah Burhan.
Burhan seketika menjerit kesakitan. Ia memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
Energi dahsyat menyerap seluruh kekuatan Burhan. Tongkat delima itu mampu merontokkan tulang-tulang Burhan. Bahkan, demit receh sekitar ikut musnah dalam satu serapan saja. Burhan merasakan panas yang begitu dahsyat. Kulitnya mulai mengelupas dan mengeluarkan asap.
__ADS_1
Suara di dalam hutan kian riuh dengan jeritan para demit yang memohon ampunan kepada Pak Kyai.
"Cukup, cukup, kami tidak akan mengganggumu lagi, hentikan siksaan ini!" ucap Burhan dengan suara keras memilukan yang membuat tubuh merinding jika mendengarnya.
Pak Kyai tidak menghentikan aktifitasnya, ia kemudian merapalkan satu do'a kembali yang sangat ampuh. Beberapa detik kemudian, suara letusan terdengar sangat keras. Saking kerasnya, membuat tubuh Pak Kyai terpental jauh dengan tongkat delimanya.
"Dddduuuuuaaaaaaarrrrr!"
Berbarengan dengan terpentalnya tubuh Pak Kyai, Pak Kyai sudah berada di dunia-nya kembali. Ia menghantam tembok dengan keras. Dimas dan Aziz yang berada di luar kemudian bergegas masuk tanpa mengucap salam. Mereka kaget karena mendengar suara orang terjatuh dengan keras.
"Inalillahi, Pak Kyai!" ucap Aziz dengan lantang.
"Pak Kyai tidak apa-apa?" tanya Dimas sembari membantu Pak Kyai untuk berdiri. Sementara Aziz mengambil tongkat yang masih berada di genggaman Pak Kyai.
"Minum dulu, Pak Kyai!" Aziz menuangkan air hangat dari tremos dan memberikannya kepada Pak Kyai.
"Terimakasih, Ziz!" ucap Pak Kyai sembari menerimanya, kemudian meminumnya perlahan.
Setelah cukup tenang, Aziz mengambil gelas dari tangan Pak Kyai, dan menaruhnya di atas meja.
"Apa yang terjadi, Pak Kyai!" tanya Dimas.
__ADS_1
"Saya hanya terpental. Dimas, tolong kamu hubungi nomor Wulan,"
"Baik, Pak Kyai!"
"Aziz, kamu hubungi Kang Ridwan, tanyakan padanya, kapan beliau akan membantu membuka jalan, ajudan Ndoro Kusuma sudah berhasil di musnahkan, kini, hanya ada Ndoro Kusuma, dan dayang-dayangnya. Sampaikan itu padanya, Ziz. Aku akan mengobrol dengan keluarga Mawar." perintah Pak Kyai dengan wajah seriusnya.
"Baik, Pak Kyai! Aziz akan segera menghubungi beliau." Aziz kemudian mohon ijin keluar dan mulai menghubungi nomor Kang Ridawan. Menyampaikan semua amanah dari Pak Kyai.
Dimas masih berusaha menghubungi nomor Wulan, namun beberapa kali sambung, belum diangkat juga.
"Belum diangkat juga, Pak Kyai, mungkin lagi sibuk," ucap Dimas masih menempelkan hapenya di telinga.
Pak Kyai menghela nafas. "Ya sudah, kamu coba lagi nanti. Atau, kita tunggu habis isya saja, saya mau istirahat sebentar. Kamu jangan beritahu Bu Nyai, tentang hal ini yah!"
"Nggeh, Pak Kyai,"
"Saya akan ke kotanya Nak Wulan, kamu persiapkan segala sesuatunya yah! Beritahu Aziz juga," kata Pak Kyai dengan nafas berat.
"Tapi, apakah Pak Kyai sudah merasa sehat? Apa tidak ... "
"Sudah, kamu turutin kata-kata saya saja, Dim! Saya sudah sehat, saya sudah siap untuk membantu Nak Wulan," kata Pak Kyai mantap.
__ADS_1
"Baiklah, kalo begitu, Kyai, saya dan Aziz akan mempersiapkan barang yang dibutuhkan, permisi, Pak Kyai!" Dimas memohon diri untuk keluar.
Pak Kyai menganggukan kepalanya pelan. Tatapanya penuh keyakinan, hati dan tekadnya sudah siap untuk mengeluarkan Mawar dari dalam rumah Ndoro Kusuma.