Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
53. Ada Apa?


__ADS_3

"Ah, bukan apa-apa, Bi! Sebenarnya, tadi saya lihat, Mawar di sana?" jawab Marsel diiringi senyuman.


"Hah! Mbak Mawar?" tanya Bi Minah kaget.


Marsel menganggukan kepalanya.


"Jangan ngarang kamu, Mas! Di situ, hanya ada pohon mangga! Mas Marsel malah ngelus-ngelus pohon itu, di cium segala, hiii!" tutur Bi Minah sambil bergidik.


"Ah, yang benar, Bi? Bi Minah, gak bohong kan?" tanya Marsel ikut merinding.


"Ya benar lah, Mas! Mana mungkin saya bohong," jawab bi Minah mantap.


"Terus, siapa yang tadi saya lihat?" tanya Marsel.


"Mana saya tau, orang saya gak lihat apa-apa," jawab bi Minah.


Marsel berhenti sebentar dan menggaruk kepalanya. "Nanti coba aku tanyakan saja pada Mawar, apakah dia keluar atau tidak," ucap Marsel dalam hatinya.


"Mas, kenapa berhenti lagi?" tanya Bi Minah kesal.


"Hehehe, maaf, Bi! Mari kita lanjut," ucap Marsel tersenyum kecut.


Mereka berdua kemudian melanjutkan berjalan kaki untuk mengambil persel.


Setelah mengambil Parsel, Marsel dan Bi Minah segera pulang.


Adzan subuh berkumandang, kabut tipis perlahan mulai menghilang.


Marsel melihat wanita yang mirip dengan Mawar tengah berlari, hingga hilang kembali di pohon mangga.


"Tidak mungkin kalo itu, Mawar. Jadi ... Siapa wanita yang tadi aku temui? Wajahnya persis dengan Mawar," batin Marsel.


Sesampainyandi rumah, ternyata rombongan Pak Kyai sudah lebih dulu sampai. Parsel langsung dimasukkan ke dalam mobil Pak Kyai.


Setelah menunaikan sholat subuh berjama'ah, rombongan Pak Kyai, meminta izin untuk melanjutkan perjalanannya lagi menuju kota mereka.


"Sekali lagi, saya sangat mengucapkan banyak terimakasih atas pertolongan kalian semua, berkat kalian, anak saya bisa ditemukan dalam keadaan sehat wal'afiat," terang Ruman sambil menjabat tangan Pak Kyai.


"Pak Kyai, kalo anda tidak keberatan, kelak, datanglah kemari lagi untuk menghadiri resepsi pernikahan anak saya," tutur Saras penuh harap.


"Insya Alloh, saya akan do'akan semoga acaranya lancar yah," jawab Pak Kyai diiringi senyuman.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pulang. Semua orang melambaikan tangan melepas kepergian rombongan Pak Kyai.


Adam dan Wulan kemudian juga berpamitan untuk pulang, karena sudah beberapa hari mereka tinggal di rumah Saras.


"Ah, kalian nginep lagi saja di sini, jangan buru-buru pulang," ujar Mawar sambil memeluk Wulan.

__ADS_1


"Iya, menginaplah satu malam lagi," imbuh Saras.


"Tidak bisa, War! Kalo kamu sudah cukup baik, main lah ke rumahku," ucap Wulan sambil memegang tangan Mawar.


"Insya Alloh, Mbak!" jawab Mawar.


"Hey, Marsel! Kamu mau pulang atau masih di sini!" ucap Adam diiringi tawa.


"Pulang lah, tunggu sebentar, aku akan mengambil jaket yang tertinggal di dalam," ucap Marsel sambil berlari masuk ke dalam rumah.


Mawar terus tersenyum memandangi calon suaminya.


Marsel mencari jaketnya di ruang tamu, tapi tidak ada. Ia kemudian memberanikan diri masuk ke dalam kamar Mawar. Siapa tau jaketnya tertinggal di sana. Tapi, tidak ada juga.


"Aduh, dimana jaketku ya? Perasaan aku menggantungnya di ruang tamu, tapi tidak ada. Di kamar Mawar, juga tidak ada," Marsel menggaruk dahinya, kemudian keluar dari kamar Mawar.


Sementara pak Ruman, Saras, Mawar, Wulan, dan Adam tengah berbincang di depan sambil menunggu Marsel.


"Wah, Marsel lama sekali, pasti dia minta makan dulu sama Bi Minah," tutur Adam di selingi tawa.


Marsel masih kebingungan, lalu ia pergi ke arah dapur. Di dapatinya Bi Minah sedang memasak.


"Bi, bibi tau jaket ku nggak?" tanya Marsel sambil menghirup aroma masakan Bi Minah.


"Jaket yang mana, Mas?" tanya Bi Minah tanpa memandang Marsel.


"Oh, ada itu di belakang, dekat pohon mangga. Mas Marsel sendiri yang menggantungnya di sana," jawab Bi Minah datar.


"Loh, iya kah?" tanya Marsel kemudian pergi ke belakang tanpa menunggu jawaban dari Bi Minah lagi.


"Memang aneh sekarang, Mas Marsel. Kelakuannya ada-ada saja setelah pulang dari rawa," gumam Bi Minah.


Marsel menuju mushola dan kemudian berjalan ke belakang ke arah pohon mangga yang tumbuh besar di sana. Benar saja, jaket cokelatnya menggantung di dahan.


Marsel kemudian mengambilnya. Sebelum benar-benar pergi, Marsel memperhatikan pohon mangga tersebut dengan seksama.


"Tidak ada yang aneh dengan pohon mangga ini, tapi kenapa aku merasakan sesuatu yang sangat kuat di sini," ucap Marsel dalam hatinya.


Marsel kemudian menenteng jaketnya, dan kembali ke depan bergabung bersama teman-temannya.


"Wah, kamu sudah habis berapa piring, Sel! Kami menunggumu hampir satu jam loh!" seru Adam sambil melipat tangan di depan dadanya.


"Satu jam? Aku pergi cuman sebentar koq," jawab Marsel kemudian mengenakan jaket cokelatnya.


"Sebentar gundulmu, kami ngobrol sampai cemilan ini habis," kata Adam lagi sambil mengangkat toples yang sudah kosong.


"Ah sudahlah, ngawur saja kamu kalo bicara, Dam! Om, Tante, Mawar, saya pamit pulang dulu yah," ucap Marsel kemudian menyalami Saras dan Ruman.

__ADS_1


"Iya, hati-hati yah. Dan terimakasih atas bantuanmu," ucap Ruman.


"Hati-hati, Mas," ucap Mawar diiringi senyuman.


Marsel hanya mengangguk. Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan rumah pak Ruman.


Di perjalanan, Marsel mengajak Adam dan Wulan untuk mampir sarapan dulu. Mereka kemudian menepi setelah melihat spanduk bubur ayam.


"Aku pikir, kamu sudah kenyang, eh, masih ngajak buat makan juga," terang Adam sambil mencopot helmnya.


"Aku belum sarapan, Dam!" jawab Marsel kemudian turun dari motornya, dan langsung memesan tiga bubur.


Mereka bertiga duduk dibawah sambil menikmati jeruk hangat yang sudah datang lebih dulu.


"Memangnya tadi kamu di dalam ngapain aja, koq lama sekali," tanya Wulan.


"Apa benar aku di dalam lama? Aku pikir, kalian hanya bercanda saja," jawab Marsel sambil menggigit sate jeroan.


"Ya ampun, kamu pikir kita berbohong! Benar, hampir satu jam kami nungguin kamu, Sel. Sampai-sampai, kami tidak enak sama pak Ruman dan Bu Saras," ucap Adam.


Marsel terdiam sejenak. Kali ini, ia merasakan, memang ada sesuatu yang aneh. Entah dirinya, rumah Mawar, atau Mawar sendiri.


Adam Wulan memperhatikan raut wajah Marsel yang mendadak berubah. Mereka berdua saling berpandangan.


"Ada apa, Sel? Apa terjadi sesuatu?" tanya Adam.


"Aku merasa, ada yang aneh, Dam, Lan!" jawab Marsel.


"Aneh? Maksudmu?" tanya Wulan penasaran.


"Harus mulai darimana yah enaknya!" keluh Marsel yang merasa bingung.


"Dari awal saja, Sel! Supaya kami juga tidak penasaran," jawab Adam.


"Semenjak aku ...."


"Buburnya, Mas," tiba-tiba penjual bubur datang menyela kalimat Marsel.


"Terimakasih, Mas," jawab Wulan.


"Lebih baik, kita sarapan dulu, buat ngisi energi. Semenjak di rumah Mawar, aku merasa tidak pernah kenyang," tutur Marsel sambil mengambil sendok dan mulai menyantap bubur ayamnya.


"Kamu tidak berdo'a, makanya tidak kenyang," jawab Wulan.


"Aku selalu berdo'a, tapi makananku, seperti ada yang ikut makan, cepat habis," jawab Marsel.


Mendengar penuturan Marsel, Adam dan Wulan saling berpandangan. Mereka menelan ludah masing-masing. Sayangnya, Pak Kyai dan rombongan sudah pulang, padahal, Wulan ingin sekali menanyakan hal-hal yang janggal. Entah di rawa, di kuburan, maupun di rumah Mawar.

__ADS_1


__ADS_2