
Pov Mawar
Entah sudah berapa hari bahkan bulan, aku berada dirumah Ndoro Kusuma, yang jelas aku masih belum bisa menemukan jalan keluar. Setiap hari aku melakukan hal yang sama. Namun terkadang jika aku salah dan tidak menurut, aku akan kena cambuk dayang Ndoro Kusuma. Hari ini, cuaca tidak seperti biasanya, lebih gelap dari hari-hari sebelumnya. Apakah ini yang disebut malam hari? Benar-benar gelap, tapi tiba-tiba muncul bulan di langit yang menarangi jalan kami. Kami digiring menuju sebuah lapangan besar yang mana disana terletak sebuah panggung pertunjukan. Persis seperti acara perwayangan. Ini pertama kalinya aku dibawa kelapangan dengan acara yang belum aku ketahui. Semua gadis hanya diam dan menurut. Tatapan mereka semuanya kosong, kulit mereka terlihat mulai memucat. Apakah mereka masih hidup? Ataukah sudah mati? Entahlah aku sendiri tidak tau. Kami berbaris dilapangan layaknya ingin melakukan upacara. Aku terpaku ketika melihat seorang gadis dengan seperempat kepalanya yang botak berada disampingku. Aku merasa deg-degan saat gadis itu melirik kemudian menatapku. Aku terdiam tidak bisa bicara melihat raut wajahnya yang sulit untuk aku gambarkan, ekspresi wajahnya terlihat seram, memelas, bahagia, dan... Ahh aku bingung jika harus menggambarkannya. Wajahnya seperti familiar, aku pernah bertemu dengannya, tapi dimana?
"Hay Mawar!"
Aku terbelalak saat gadis itu menyebut namaku. Tau darimana gadis ini tentang namaku! Akupun bertanya kepadanya. "Siapa kamu? Kenapa kamu tau namaku?"
__ADS_1
"Aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi aku punya permintaan yang harus kamu patuhi jika kamu ingin selamat malam ini!"
Gadis itu berkata dengan tatapan yang serius dan mengisyaratkan sesuatu, yang menurutku adalah ancaman jika aku sampai melanggarnya. Akupun tidak akan banyak bertanya malam ini, aku akan mengikuti alur malam ini, dan mendengarkan semua yang gadis itu katakan padaku. "Apa!"
"Saat kita bicara, kamu jangan menatap dan menoleh kearahku, kamu cukup melihat kearah depan kearah panggung, nanti saat kamu mendengar suara gamelan, kamu ikut bergoyang, jangan sampai diam. Setelah gamelan berhenti dan kamu mendengar bunyi gong, kamu harus diam seperti patung. Jangan gerakan tubuhmu sedikitpun, bahkan jangan kau gerakan bola matamu! Apa kamu paham sampai disini?"
"Memangnya ada apa malam ini? Oh iya, kalo boleh tau siapa namamu?"
__ADS_1
"Namaku Mira, lain waktu aku akan sering menemuimu. Mawar, malam ini jika kamu tidak menuruti kataku, kamu akan dimakan oleh Ndoro Kusuma, acara akan dimulai, kita sebaiknya fokus saja"
Mendengar jawaban gadis itu, aku tambah ketakutan, ya Alloh apa sebenarnya yang akan terjadi. Aku menatap kesekeliling, gamelan ditabuh lalu munculah satu penari yang sangat cantik, menari dengan lihainya, kami semua ikut menari mengikuti penari yang berada diatas panggung tersebut. Anehnya penari itu berubah-ubah setiap musik gamelan berhenti beberapa detik, dan mulai kembali, begitu seterusnya, lalu saat gong ditabuh, seperti yang Mira katakan padaku, penari tersebut berubah menjadi sosok kepala barong, persis seperti kepala reog, aku bertambah deg-degan, aku menuruti semua perintah yang telah Mira katakan padaku sebelumnya. Barong tersebut terbang dan melihat menghampiri barisan paling depan, barong tersebut melihat dan meneliti setiap gadis yang berada di baris terdepan, lalu beralih ke barisan kedua, aku berada di barisan ke lima. Aku terus berdo'a dan bersholawat dalam hatiku, meminta keselamatan kepada sang khaliq. Tubuhku bergetar hebat, badanku terasa lemas, tapi aku berusaha untuk menahannya. Sampai tiba dibarisanku, dan barong itu menelitiku dari ujung kaki ke ujung kepala, rasanya jantungku mau copot, mataku ingin sekali berkedip dan meneteskan air mata. Aku ingin tumbang. Tapi aku tahan, supaya tidak muncul satu gerakan dalam tubuhku. Duh gusti, segerakanlah barong ini pindah dariku. Aku sungguh tidak tahan. Apalagi saat mata besarnya yang mau keluar itu menatap mataku, menggoyahkan hatiku, setelah beberapa detik barong itu akhirnya pindah ke gadis disampingku. Aku lega dan mengucapkan alhamdulillah dalam hatiku, air mataku menetes deras membasahi pipiku, bahkan hampir saja aku ingin mengeluarkan suara tangisku karena aku tidak tahan, tapi Mira dengan sigap menutup mulutku. Sampai hal yang membuat aku kaget, gadis dibarisanku paling ujung, tiba-tiba dicaplok oleh barong tersebut, mulut barong tersebut mengeluarkan percikan api, seperti kembang api yang pernah aku nyalakan waktu aku masih kecil dulu. Lalu suara gamelan kembali riuh, barong tersebut seperti menari kesenangan, dan kamipun berjoged kembali. "Barong itu sudah makan, kamu sudah bisa tenang, andai saja kamu tadi menggerakan bola matamu, kamu akan habis dilahap olehnya" Mira berbisik ditelingaku, yang membuatku tambah menangis sambil menutup mulutku dengan tubuhku yang terus bergoyang mengikuti irama musik gamelan. Aku bersyukur, Alloh masih melindungiku. Aku bahagia karena malam ini aku bisa lolos. Tapi siapa sosok barong ini? Apakah barong ini Ndoro Kusuma? Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Diawal perintah Mira, memang Mira mengatakan jika aku tidak menuruti perintahnya, nanti aku akan dimakan oleh Ndoro Kusuma. Jika memang benar, berarti barong tersebut adalah jelmaan dari Ndoro Kusuma.
"Mawar, aku ingin sekali mengajakmu keluar dari sini, tapi malam ini sepertinya tidak tepat, karena kamu baru saja mengetahui hal ini. Jika ada kesempatan, aku akan datang kekamarmu dan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi disini"
Mawar kembali membisikan kata-kata yang membuatku kaget. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Setelah acara selesai, kami disuruh untuk makan hidangan yang berada di meja yang sudah disediakan. Disana juga ada kursi yang sudah tertata rapi. Banyak sekali makanan yang enak-enak. Aku sungguh tergiur ingin segera memakan habis, seperti gadis-gadis yang lain. Saat aku ingin mengambil nasi dan lauk, Mira mencegahku dan berkata. "Mawar, bacalah do'a sebelum kamu makan, dan bersholawatlah dalam hatimu, maka kamu akan melihat apa yang sebenarnya dalam pandanganmu" Mira menatapku sendu, aku yang tadinya kegirangan, berubah menjadi perasaan yang sendu juga. Aku tau, ini mungkin tidak seperti yang aku lihat, tapi aku belum siap untuk melihatnya sekarang. Aku takut tidak kuat. "Mawar, kita hanya pura-pura untuk makan, tapi jangan sampai ditelan, kalau sampai kita menelannya, perlahan-lahan tubuh kita akan terpengaruh dialam ini."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk menuruti kata-kata Mira, Mira pasti tau hal banyak ketimbang aku. Aku ingin sekali mengobrol banyak dengannya, kami pura-pura untuk makan, tapi melepehnya lagi. Tiba-tiba Burhan datang dan menyeret Mira. Mataku membelalak melihat Mira yang dijambak dan ditarik dengan ganas oleh Burhan, setiap jeritannya membuatku menangis. Kenapa Burhan tiba-tiba melakukan hal itu? Aku tadinya ingin menolong Mira, tapi Mira memberiku kode dengan tangannya agar aku tidak menolongnya, atau mengejarnya. Hatiku lara, hancur melihat semua kejadian malam ini. Aku terus berdo'a kepada sang Khaliq untuk keselamatan Mira dan juga diriku.