Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
41. Masuk Ke Dalam Perut Ikan


__ADS_3

Perahu sudah melaju dengan kecepatan sedang. Mereka mencoba untuk tetap tenang, fokus, tidak melamun.


Kabut-kabut tipis mulai muncul kembali. Tak ada suara binatang apapun. Bahkan untuk mendengar suara jangkrik pun tak ada sama sekali.


Bulu kuduk mereka meremang semua, tak sedikit dari mereka yang saling memandang guna mempertanyakan apa yang akan terjadi. Mereka bicara menggunakan bahasa tubuh.


Diatas mereka tampak ribuan pocong melayang-layang dengan wajah yang rusak.


Tak ada yang berani menatap ke atas. Kain kafan pocong tersebut menjuntai ke bawah, namun tak ada yang menggubrisnya.


Keringat mulai membasahi peluh mereka. Tak terkecuali untuk Kang Ridwan. Kang Ridwan tampak kalem, dan terus melafalkan kalimat Alloh dalam hatinya.


Tiba-tiba dari kejauhan sana, tampak ombak bergulung. Mereka tak habis pikir, ini bukanlah laut, kenapa ada ombak. Semuanya merasa cemas dan takut.


"Bagimana ini Kang?" tanya sang sopir yang keceplosan mengeluarkan suara.


Kang Ridwan mendelik ketika sang sopir menanyakan hal tersebut. Di rawa mana mungkin ada ombak. Pertanyaan sang sopir, membuat gulungan ombak semakin mendekat, dan tiba-tiba saja, sebuah kepala ikan bayong yang sangat besar, muncul dengan rambut yang sangat panjang di kepala tersebut. Yang bikin aneh, mulut ikan bayong tersebut seperti memakai lipen.


Semua orang menutup mulutnya karena takut, dan teringat ucapan Kang Ridwan untuk tetap diam. Jika ingin berkata, lebih baik di batin saja.

__ADS_1


"Allohu Akbar, makhluk apa ini, ya Alloh!" ucap Wulan dalam hatinya.


"Ya Alloh, selamatkan lah kami semua, lancarkan lah perjalanan kami semua," ucap Ad dalam hatinya.


Ikan bayong tersebut semakin mendekat, dan kemudian mencaplok sopir yang mengendarai perahu Kang Ridwan.


"Aarrrghhh!" teriak sang sopir yang kemudian masuk ke dalam mulut Bayong.


Semua orang membekap mulut mereka masing-masing. Mereka menyaksikan kejadian tersebut. Tak terasa air mata mereka turun membasahi pipi.


Kang Ridwan menghela nafas, kemudian memejamkan matanya. Pak Ruman mengambil posisi menjadi sopir. Sedangkan Saras masih tercengang. Jantungnya seperti berhenti berdetak menyaksikan kejadian aneh tersebut.


"Tolonnngggg! Tolong saya, Kang!" ucap sopir yang sudah masuk dalam perut ikan tersebut.


Sopir tersebut seperti berada di tengah-tengah danau, dan ia duduk di atas sebuah batu. Padahal itu adalah isi ikan. Kenapa bisa seperti itu!


"Maafkan saya, Kang! Saya tidak bisa menahan emosi saya ketika melihat sesuatu yang janggal! Tolonglah saya, Kang! Apakah saya bisa keluar dari sini, Kang!" ucap sang sopir yang kini menangis tersedu-sedu.


"Jiika kamu bisa berenang, insya Alloh kamu bisa selamat, Pak!" ucap Kang Ridwan.

__ADS_1


"Maksudnya, Kang? Memangnya saya ini ada di mana?"


"Kamu tentunya ada di dalam perut ikan. Tapi bukan ikan sungguhan. Ketika dia buang kotoran nanti, kamu akan di buang ke tengah laut. Nah pertanyaan saya, mampukah kamu berenang mengarungi laut?" tanya Kang Ridwan.


"Inalillahi, malang sekali nasib saya, Kang! Saya bisa berenang, Kang! Tapi saya belum pernah mencoba mengarungi lautan. Memangnya saya akan di buang ke laut mana?" Sang sopir menangis tersedu-sedu.


"Laut Selatan, Pak! Tenang saja! Jika umurmu memang masih panjang, insya Alloh kamu akan selamat. Berdo'a lah meminta kepada Alloh, agar dirimu bisa selamat. Setelah kegiatan ini selesai, saya akan langsung menuju laut Selatan untuk mencarimu, Pak!" ucap Kang Ridwan memberi semangat Pak sopir.


"Terimakasih, Kang! Saya akan terus berdo'a di sini. Semoga saya masih bisa selamat. Dan pencarianmu di sana dilancarkan,"


"Amiin, saya tinggal dulu, Pak! Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak sopir.


Suara Kang Ridwan kemudian hilang. Sang sopir sudah tak dapat mendengarnya lagi.


Pak sopir sebenarnya tidak rela jika harus kehilangan suara Kang Ridwan. Dia butuh teman untuk diajak bicara, supaya ia tidak ketakutan. Tapi, dia juga tahu, bahwa Kang Ridwan juga mempunyai tugas yang harus ia selesaikan.


"Ya Alloh, tolong selamatkan lah hamba. Hamba masih ingin hidup. Ada anak dan istri saya di rumah yang menantikan kepulangan hamba, untuk membawa uang, guna mencukupi kebutuhan kami sehari-hari! Hamba belum siap jika harus meninggalkan mereka, siapa yang akan menopang hidup mereka jika hamba tidak ada di dunia lagi,"

__ADS_1


Sang sopir melepaskan semua unek-uneknya. Ia kemudian mencoba untuk khusyuk berdzikir.


Batu yang di duduknya bergoyang-goyang. Goyangannya semakin kencang, Pak sopir mencoba untuk tetap tenang, dan tidak terkecoh kembali dengan apa yang dia rasakan. Ia takut terjadi sesuatu jika saja ia banyak tingkah kembali.


__ADS_2