Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
40. Larangan Saat Menyebrang Rawa


__ADS_3

Pak Kyai menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia memanggil Mawar, namun tak ada jawaban.


Marsel yang melihat ekspresi Pak Kyai, merasa cemas. Takut jika terjadi sesuatu dengan Mawar.


***


Setelah dirasa cukup lama dalam perjalanan menuju posisi Kang Ridwan, ketiga truk tersebut akhirnya sampai di tempat dengan selamat.


Ular yang mengangkut ketiga truk tersebut kembali merubah wujud menjadi perempuan yang sangat cantik dan menari nari. Hanya Kang Ridwan yang bisa melihatnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai juga," ucap Kang Ridwan.


"Kenapa di sini masih gelap ya, Kang?" tanya salah satu sopir.


Kang Ridwan menepuk pundak sopir tersebut dengan diiringi senyuman.


Wulan mendekati Adam dan berbisik, "kamu tidak apa-apa, Mas?"


"Alhamdulillah tidak, Nduk! Mas, mau bantu nurunin perahunya dulu yah," ucap Adam mengelus puncak kepala Wulan. Kemudian berjalan ke arah truk, untuk membantu semua orang.


Tongkat Delima yang di tancapkan di atas tanah lembab tersebut, membuat para demit yang lain tidak berani mendekat. Ratu Ular pun tak berani membuat masalah dengan Kang Ridwan. Justru, malah membantu pekerjaan Kang Ridwan.


Setelah cukup lama, perahu berhasil diturunkan dari truk. Perahu telah diisi bahan bakar yang cukup.


"Kang, untuk apa perahu-perahu ini? Apa kita akan melewati air?" tanya Adam yang penasaran.

__ADS_1


"Sebentar lagi, kamu akan dapat melihat dengan jelas rawa-rawa ini," ucap Kang Ridwan sambil menunjuk rawa yang masih di selimuti kabut tebal.


Ratu Ular terus menari, semakin ia menari, kabut yang tebal itu berangsur hilang, dan berpindah mengelilingi Ratu Ular tersebut.


Kang Ridwan terus berdo'a dalam hatinya. Tiba-tiba saja, rawa-rawa yang tenang terlihat begitu luas membentang di hadapan mereka. Semua mata bisa melihatnya dengan jelas.


Hampir semua orang di sana, kecuali Kang Ridwan. Mengucek kedua mata mereka. Apakah mereka salah melihat, atau memang benar adanya, pemandangan tersebut terpampang jelas di pandangan mereka.


"Masya Alloh, apa ini benar-benar terjadi, Mas?" ungkap Wulan yang begitu takjub.


"Entahlah, aku tidak percaya, Nduk!" ucap Adam dengan mata yang terus memperhatikan rawa yang begitu luas dan tak terlihat ujungnya.


Semua orang dibuat terkejut. Tidak ada henti-hentinya mereka mengucap takbir dengan pemandangan di depan mereka. Terutama para sopir yang masih kebingungan.


"Maksudnya, Kang?" tanya Aziz.


"Tolong dengarkan saya baik-baik yah, ini adalah peringatan yang bisa saja jadi bencana untuk diri kita sendiri. Apabila kita tak mengindahkannya. Saya tidak bisa membantu sepenuhnya. Semua kembali kepada diri kita masing-masing ... Saat perjalanan kita nanti, tolong, jangan ada yang melamun, tapi juga jangan bicara, ataupun bertanya. Karena sudah dipastikan, suara-suara yang mengajak kalian bicara nantinya, bukanlah suara dari manusia,"


Dengan perasaan yang masih tidak mengerti dan penuh pertanyaan, mereka mencoba untuk memahami dan mematuhi perintah dari Kang Ridwan.


"Bisa jadi, diantara kalian akan melihat banyak penampakan. Saya ingatkan di sini. Jika kalian melihat suatu sosok, langsung berpalinglah. Dan jangan coba-coba untuk menanyakan kepada yang lain. Cukup batin saja, jika kalian kaget. Intinya, jangan mengeluarkan suara. Karena suara kalian bisa menjadi awal memancing mereka, apakah sudah paham sampai di sini?" ucap Kang Ridwan sambil menatap mereka satu per satu.


"Kang, susah sekali yah! Saya takut jika tiba-tiba saja, saya berucap," kata salah satu seorang sopir.


"Iya memang berat. Jika diantara kalian merasa ada yang tidak sanggup, lebih baik jangan ikut. Berjagalah di sini. Tapi jangan pergi ke mana-mana, takut ilang," jawab Kang Ridwan.

__ADS_1


"Aduh, masa harus ditinggal sendiri di sini, sama saja bohong, Kang!" jawab sang sopir.


"Tidak juga, Pak! Yang penting bapak kuat godaan saja," ucap Kang Ridwan.


"Ah, lebih baik saya ikut kalian saja," ucap salah satu sopir, yang kemudian merapatkan dirinya dengan sopir yang lain.


"Pikirkan lagi, Pak! Untuk yang lain, apakah sudah jelas?"


"Sudah jelas, Kang! Tapi, sebenarnya, kemana kita akan pergi?" tanya Ruman, yang terus berpegangan tangan dengan Saras.


"Ke tempat dimana, Mawar keselong, Pak Ruman," jawab Kang Ridwan cepat.


Semua yang mendengar merasa kaget. Jauh sekali, Mawar keselong. Bahkan bisa sampai di sana. Melewati rawa, bagimana bisa? Semua orang bertanya-tanya dalam pikirannya.


"Sudahlah, saya tau, kalian pasti bingung, dan banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran kalian. Setelah urusan Mawar selesai, saya akan jelaskan semua kepada kalian. Sekarang, bersiaplah, ayo!" Kang Ridwan memimpin di perahu pertama.


"Saya bersama Kang Ridwan, kalian sopiri yang lain," ucap salah satu sopir yang merasa tidak yakin tadi.


"Kang, saya ikut sampean!" teriak sopir.


Kang Ridwan bersama Ruman, sopir yang tak yakin, dan Saras. Salah satu sopir lagi, bersama Adam dan juga Wulan. Dan sopir satunya lagi bersama.Dimas dan juga Aziz. Mereka semua sudah berdiri di perahu masing-masing.


"Ucapkan bismillah terlebih dahulu, kita berdo'a kepada Alloh semoga perjalanan kita dilancarkan. Dan jangan lupa dengan pesan yang saya sampaikan yah!" ucap Kang Ridwan.


Semuanya mengangguk tanda mengerti. Kang Ridwan kemudian memimpin doa. Para sopir pun menyalakan perahu bersiap untuk melaju.

__ADS_1


__ADS_2