Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
77. Siap Menjalankan Misi


__ADS_3

Mawar yang sedari tadi diam, kemudian bertanya juga kepada Pak Ahmad.


"Pak, apa nek Jamilah tidak bisa mati?" tanya Mawar.


"Bisa, tentu saja bisa. Kita hanya perlu mencari titik kelemahannya saja," ucap Pak Ahmad.


"Lalu, dimana letak kelemahannya, Pak?" tanya Ruman.


"Ada pada wajahnya. Caranya, dengan cara menyiramkan ari-ari yang sudah berubah menjadi tanah. Ari-ari itu sendiri, adalah ari-ari Mawar yang tengah ia incar itu. Sayangnya, kondisi ari-ari itu masih hidup. Belum berubah menjadi tanah," ucap Pak Ahmad.


"Sudah berpuluh-puluh tahun, Pak! Bagaimana mungkin ari-ari itu masih tetap sama wujudnya?" tanya Ruman.


"Kan sudah saya bilang tadi, karena ari-ari itu dikubur bersama Mada, yang artinya ari-ari itu dijaga oleh Mada, agar tetap hidup. Untuk merubah ari-ari itu menjadi tanah sangatlah mudah saja sebenernya. Yaitu dengan cara memindahkan jasad Mada, ke makam umum biasanya. Mandikan dia lagi, sholatkan lagi, dan jangan lupa buatkan selamatan untuknya. Do'a itu yang paling penting,"


"Iya, Bambang pernah bercerita kalo, Mada belum punya rumah. Orang tuanya sendiri tidak mau membuatkan rumah untuknya. Apa itu artinya adalah kuburan yang sesungguhnya, Pak?" tanya Marsel.


"Iya benar. Oh iya, siapa yang kamu sebut itu, Bambang. Apa dia laki-laki yang mengecek ke dapur saat ada suara barang berjatuhan?" tanya Pak Ahmad.


"Iya, Pak! Benar sekali. Dia bisa melihat Mada. Kalo Mada sedang baik, dia akan datang dengan jubah putihnya, kalo dia jahat, dia akan datang dengan jubah hitamnya," tutur Marsel.


"Ya, saya mengerti. Mada menyukai, Bambang. Mada tidak akan mengejar Marsel, dan merebutnya darimu, Nak Mawar, kalo Bambang mau menikahinya. Tapi, itu tidak mungkin, alamnya kan sudah berbeda," terang Pak Ahmad.


"Apa, Mada menyukai Bambang?" tanya Ruman.


"Orang yang akan didengarkan perintahnya oleh Mada, hanyalah Bambang sekarang. Kalo Bambang berhasil membujuknya, itu akan memudahkan kita menggali jasad Mada dan ari-ari itu. Saya yakin tempatnya memang ada di bawah pohon mangga itu, Pak. Apa bapak bersedia jika pohon mangga itu kita tebang?"


"Tentu saja saya sangat setuju, Pak! Pohon itu memang sudah lama sekali ingin saya tebang. Tapi, setiap di tebang, pohon itu selalu tumbuh lagi dan lagi. Mending kalo berbuah, tidak berbuah sama sekali," terang Ruman.


"Yaiyalah, di bawahnya kan ada jasad putrimu. Dia yang berjaga disana. Dengan tidak adanya buah, itu artinya dia berhasil menjaga ari-arinya tetap hidup," terang Pak Ahmad.


"Kalo begitu, kita harus segera melancarkan misi ini Pak, dua hari lagi acara pernikahan Mawar. Harusnya saya dan keluarga saya juga tidak boleh pergi kesini. Kami harus tetap di rumah,"


"Tidak apa-apa, Pak! Biarlah menjadi bahan gunjingan orang sebentar. Demi kebaikan kita semua,"


"Untuk undangannya, saya harus mengabari seluruh tamu kalo acaranya diundur. Tapi dengan waktu yang singkat, bagaimana saya bisa?"

__ADS_1


"Suruh anak buah Bapak saja untuk melakukan tugas itu. Bapak dan kita kan harus mengurus masalah ini. Kalo bisa sekarang juga kita melakukan penebangan pohon mangga itu," ucap Pak Ahmad.


"Tapi, apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu, Pak. Tidurlah sebentar. Supaya energinya bisa tekumpul," ucap Bu Ahmad.


"Iya, iya. Mari kita istirahat dulu, Pak, Bu. Setelah subuh, kita langsung kesana bersama-sama. Dan panggil juga si Bambang itu untuk ikut serta," ucap Pak Ahmad.


Sebelum benar-benar istirahat, Pak Ruman segera menghubungi Bambang untuk ke rumahnya sehabis subuh. Ruman juga menghubungi para staff dan anak buah yang lain, agar menginfokan kepada seluruh tamu yang ia undang dan segala sewa campursari, catering, dan lain sebaginya, bahwa resepsinya diundur seminggu lagi.


Ruman berharap mereka semua mau mengerti dengan keadaan yang sedang ia jalani.


"Biarlah ada gosip diluaran sana untukku. Semua ini demi keluargaku," batin Pak Ruman.


Setelah selesai melakukan tugasnya, Ruman segera menyusul yang lain untuk istirahat. Meskipun ia sudah tidak mengantuk.


***


Setelah selesai menunaikan sholat subuh, dimana hari masih sedikit gelap, Ruman keluarga dan keluarga Pak Ahmad, segera menuju rumah Ruman untuk melakukan misinya.


Pak Ahmad berharap rencananya berhasil. Hari ini harusnya menjadi hari dimana Mawar selesai Midodareni. Dan lagi sibuk-sibuknya. Pengunduran Ruman yang secara tiba-tiba membuat seluruh pihak kaget. Apalagi, seperti sound system yang sudah lebih dulu terpasang, dekor, dan tenda. Mereka sempat kesal dengan Ruman. Namun, setelah dijelaskan lebih rinci, mereka akhirnya mau mengerti.


Biarpun rumah Ruman sederhana, tapi ia adalah seorang yang berada. Membayar sewa dalam seminggu sudah pasti ia mampu.


Rombongan Ruman akhirnya sampai di depan rumah, Bambang rupanya sudah tiba terlebih dahulu. Bambang masih duduk di atas jok motornya dan tidak langsung masuk meskipun pagar sudah terbuka lebar.


Mobil Pak Ruman segera masuk ke halaman rumah. Bambang masih berdiri di luar pagar.


"Bang, kenapa kamu masih di situ? Ayo cepat masuk," ucap Pak Ruman.


"Iya, Pak! Saya tadi menunggu kalian. Tadi sempat lihat bapak di dalam manggil-manggil saya. Tapi berhubung saya ingat kalo bapak sedang berada di rumah Mas Marsel, jadi saya menunggu di sini. Buat jaga-jaga," tutur Bambang.


Bambang tidak membawa motornya masuk ke dalam. Ia sengaja memarkirkan sepeda motornya di luar.


Pak Ahmad tersenyum melihat Bambang. Ia kemudian mendekati Bambang dan menepuk pundaknya.


"Nak Bambang, kamu lihat apalagi selain Pak Ruman?" tanya Pak Ahmad.

__ADS_1


Rupanya semua orang sudah tau, Bambang memutuskan untuk jujur saja.


"Ada Mada, dia mengenakan jubah yang berbeda-beda. Tadi dia mengenakan jubah putih, tapi sekarang jubah hitam. Dia tampak marah, Pak!" terang Bambang.


"Dimana dia sekarang?" tanya Pak Ahmad.


"Dia berdiri di pintu," ucap Bambang sambil menunjuk ke arah pintu yang sudah terbuka lebar.


Semua orang kemudian menatap pintu tersebut yang ternyata tidak ada seseorang di sana. Tiba-tiba, Bi Minah keluar dari dalam masih menggunakan mukenanya. Bi Minah kaget saat mengetahui bosnya berada di luar bersama keluarga Marsel.


"Astagfirullohal'adzim! Bapak, ibu, Mbak Mawar! Kenapa kalian di sini? Bareng Mas Marsel dan ... Bapak, ibu," Bi Minah memberi hormat kepada orang tua Marsel.


Bi Minah kemudian bergabung dengan mereka yang masih berdiri di halaman.


"Apa ada sesuatu, Bi?" tanya Ruman.


"Ya pasti ada. Saya mana tau kalo kalian itu pergi. Saya bolak balik di suruh nyiapin sesajen sama nenek itu, yang menyerupai bapak," jawab Bi Minah.


"Koq tau kalo itu bukan saya, Bi?" tanya Ruman sambil tersenyum.


"Ya jelas tau, Pak! Bapak gak pernah nyuruh saya bikin sesajen. Belum lagi, dari kamar Mbak Mawar, ada yang berteriak kesakitan. Bilang tidak mau, tidak mau," ucap Bi Minah lagi.


"Itu Mada, Bi. Dia akan disiksa oleh Nek Jamilah kalo melawan. Mada harus menjadi manusia dulu agar bisa mengambil benda yang diincar oleh Nek Jamilah. Tapi, Mada tidak mau. Mada tadi sempat bilang kepadaku saat dia berubah baik. Mada akan berhenti mengganggu jika ia sudah di beri rumah yang layak," ucap Bambang merasa sedih.


"Tepat! Segera cari peralatan untuk menebang dan menggali tanah di bawah pohon mangga itu, Pak Ruman," terang Pak Ahmad.


"Baik, Pak!" jawab Ruman cepat.


"Tapi tunggu, saya lupa memberitahu. Dalam bertindak selalu baca ayat kursi dengan pelan dan fasih. Kita akan saling diam nantinya. Jika ada yang mengusik dengan cara memanggil, kita diam saja. Teruslah fokus untuk membaca ayat kursi, supaya nenek itu tidak bisa menyerupai wujud kita. Kalian paham? Apa ada yang tidak hafal dengan ayat itu?" tanya Pak Ahmad kepada semuanya.


"Insya Alloh, kami hafal semua, Pak!" jawab Ruman mewakili.


"Baiklah, kalo semuanya sudah hafal, mulai sekarang, detik ini, kita harus melafalkan ayat itu. Kita bisa menjedanya jika kita ingin minum, makan, atau masuk ke toilet. Setelah itu langsung di lanjut lagi. Karena kita semua yang ada di sini sudah terlibat. Kalian paham!" terang Pak Ahmad.


Semua orang mengangguk. Pak Ahmad dan yang lain akhirnya mulai melafalkan ayat tersebut dengan pelan dan fasih.

__ADS_1


Pak Ahmad menatap ke arah genteng rumah Pak Ruman, yang ternyata di sana ada Nek Jamilah yang terlihat marah akan kedatangannya.


__ADS_2