
Marsel dan Pak Kyai menantikan rombongan Kang Ridwan dengan harap-harap cemas.
"Minum dulu, Pak Kyai," kata Marsel sambil menyuguhkan air mineral.
"Iya, terimakasih, Nak Marsel," jawab Pak Kyai sambil menerima botol tersebut.
"Semoga mereka selamat sampe tujuan, tidak ada hambatan apapun dalam perjalanan," gumam Marsel.
"Insya Alloh, Nak Marsel, mereka semua akan baik-baik saja,"
Rombongan Kang Ridwan tiba di tepi Rawa. Mereka kemudian turun dari perahu. Mawar masih pingsan, dan di jaga oleh Saras. Sementara yang lain bergotong royong untuk menurunkan motor dan menggotong jenazah Mira.
Setelah semuanya turun, mereka bergotong royong kembali untuk menaikan perahu ke dalam truk.
Mereka bersusah payah dalam menaikan perahu tersebut. Apalagi dengan tenaga yang terkuras habis. Aktifitas yang mereka lakukan, tidak terasa memakan waktu dua hari. Bahkan mereka lupa untuk makan.
Mereka hanya membawa air minum saja, sebanyak-banyaknya mereka minum air putih.
Setalah cukup lama, akhirnya perahu dapat di naikkan semuanya, beserta motor Mawar dan Mira. Sementara jenazah Mira, dibawa Aziz dan Dimas yang duduk di belakang bersama perahu.
Kang Ridwan berdo'a, semoga perjalanan mereka diberikan kelancaran, dan segera sampai.
Tampak kabut mulai menyelimuti perjalanan mereka. Ratu Ular kembali muncul, dan menemani perjalanan mereka. Namun kali ini, truk bisa melaju dengan cepat.
Setelah beberapa menit, truk tersebut muncul dari dalam semak-semak jalan yang sudah di tebas oleh Kang Ridwan bersama rombongan.
Marsel dan Pak Kyai mengucap syukur karena truk yang dinantikan sudah sampai di depan mata mereka.
Truk berbaris atret, dan berbaris dengan rapih.
"Alhamdulillah, ya Alloh, mereka sampai dengan selamat," ucap Marsel merasa bahagia.
Ruman dan Saras turun dengan dibantu Marsel, untuk naik ke dalam mobil. Marsel melihat Mawar dalam kondisi yang lemah dan memprihatinkan. Tak terasa air matanya menetes melihat calon istrinya terkulai tak berdaya. Tubuhnya bertambah kurus, dan pucat.
Tiba-tiba saja, semak-semak yang mereka tebas, menutup kembali seperti semula. Mereka semua tercengang, saat ingin kembali ke rumah Pak Ruman, karena melihat hal tersebut.
"Yang kalian lihat benar apa adanya, penghuni rawa tersebut, telah menutup jalan kembali, karena tugas kita sudah selesai," ucap Kang Ridwan.
Mereka semua mengangguk, kemudian, masuk ke dalam mobil dan siap berangkat ke rumah Ruman.
Sebelumnya, dengan sisa batrey yang di miliki, Ruman menelpon Bi Minah untuk menyiapkan makanan yang banyak di rumah, serta menghubungi dokter, guna memeriksa Mawar.
Mereka sampai di rumah pukul tiga pagi. Setelah membersihkan badan, dan isitrahat yang cukup sambil makan makanan yang disuguhkan tuan rumah.
Wulan mengambil hape dari dalam tasnya, "Alhamdulillah, batreynya masih ada," batin Wulan.
"Nduk, kamu gak ikut lihat Mawar di kamar? Dia lagi diperiksa," kata Adam kepada Wulan.
"Nggak, Mas. Aku mau menghubungi Umi Fatma, ingin memberitahu soal anaknya,"
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu, Mas temani di sini, ya!" kata Adam kemudian duduk di samping Wulan.
Beberapa kali Wulan menghubungi nomor Umi Fatma, namun masih gagal.
Tiba-tiba Pak Kyai muncul dari dalam, dan ikut bergabung dengan Wulan dan Adam.
"Kenapa, Nak Wulan? Nomornya tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Kyai.
Adam dan Wulan melihat ke arah Pak Kyai, yang kemudian ikut duduk di samping Adam.
"Pak Kyai, kenapa tidak ikut istirahat di dalam?" tanya Wulan.
"Saya sudah cukup istirahatnya, jadi, kamu kenal dengan jasad gadis itu?" tanya Pak Kyai.
"Saya kenal dengan orang tuanya, Kyai, beberapa bulan yang lalu, kami bertemu. Umi menceritakan bahwa, anaknya yang bernama Mira juga tidak pernah kunjung ke rumah. Kejadiannya sama seperti Mawar. Waktu itu, katanya sudah hilang sudah sembilan bulan. Saya tak menyangka, ternyata anaknya keselong di tempat yang sama dengan Mawar," tutur Wulan dengan sedih.
"Iya, karena sudah lebih dari 365 hari di dunia ini, Nak! Tapi dia masih beruntung, jasadnya masih kembali ke sini. Perjuangannya pasti berat di sana, dengan melihat kondisinya yang terlihat memprihatinkan," jawab Pak Kyai.
"Terimakasih, dokter, terimakasih karena sudah mau datang ke rumah saya di jam sepagi ini," ucap Ruman dari dalam mengantarkan Dokter.
Pak Kyai dan yang lain, kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan ikut tersenyum melihat ke arah dokter.
"Iya sama-sama, Pak! Saya permisi dulu ya, semuanya, assalamu'alaikum," kata Dokter kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Wa'alaikumsalam, wr wb," jawab serempak.
"Alhamdulillah, mari kita ambil wudhu dan sholat berjamaah dulu," ucap Pak Kyai diiringi senyuman.
"Iya, Kyai," jawab Adam.
Mereka yang tengah beristirahat, terbangun dan mengambil wudhu untuk sholat bersama di ruang tamu.
Mawar di tinggal sendiri di dalam kamar, ia masih pingsan, sementara jenazah Mira diletakan di ruang tamu. Ditutup dengan kain dan beralaskan tikar.
***
Umi Fatma dan Ilham telah selesai menunaikan sholat berjamaah. Mereka saling tersenyum memandang.
"Sekarang, Abi juga sudah ikhlas dengan kepergian Mira, Umi," kata Ilham diiringi senyuman.
"Iya, Bi, kasian Mira, jika kita terus berharap. Takut jika jiwanya yang sudah tidak kuat, malah terpaksa kita tahan untuk bertahan,"
Abi Ilham menunduk mendengarkan istrinya.
"Maafkan Abi, yah, karena selama ini, Abi egois, tidak mau mendengarkan kata-kata Umi,"
"Tidak apa-apa, Bi. Umi tahu perasaan Abi bagaimana. Ya sudah, Umi mau masak dulu yah," jawab Umi Fatma diiringi senyuman.
Umi Fatma kemudian melipat mukenahnya dan bersiap untuk memasak di dapur. Niatnya ia urungkan setelah mendengar hapenya yang berdering. Kebetulan, hapenya ia cas di dapur.
__ADS_1
Dilihatnya nama dalam layar ponselnya.
"Nak Wulan," gumam Umi Fatma diiringi senyuman.
"Assalamu'alaikum," jawab Umi Fatma kalem.
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah, Umi angkat telepon Wulan juga," jawab Wulan dengan perasaan senang dari seberang sana.
"Iya, maaf yah. Gimana kabarnya, Nak Wulan?"
"Alhamdulillah sehat, Umi. Umi, bisakah Umi datang ke alamat yang akan Wulan berikan nanti?"
"Ada apa, Nak Wulan? Koq kedengarannya sangat penting," tanya Umi Fatma sedikit cemas.
"Iya, Umi, memang sangat penting! Umi dan Abi, sebaiknya sarapan dulu, setelah itu, datanglah ke alamat yang saya berikan nanti, Umi bisa kan?"
"Insya Alloh, Nak Wulan. Memangnya ada apa? Apa, Nak Wulan tidak bisa memberitahu saya lewat telepon saja?" tanya Umi Fatma tampak penasaran.
"Tidak, Umi! Umi harus datang ke sini, bersama suami Umi. Wulan tunggu ya, Umi, assalamu'alaikum," Wulan kemudian memutus teleponnya.
"Wa–wa'alaikumsalam," Umi Fatma melirik hapenya sekali lagi, dan meletakkannya kembali di meja.
"Ada apa sebenarnya, kenapa Nak Wulan terkesan begitu gugup!"
Klunting!
Sebuah pesan masuk, muncul di layar hape Umi Fatma.
Fatma kemudian membuka pesan tersebut dan segera membacanya.
"Jalan Kus ... Nomor ... Ini bukan alamatnya Nak Wulan, tapi sepertinya, saya pernah lewat jalan ini," gumam Umi Fatma.
"Ada apa, Mi?" tanya Ilham yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Loh, koq belum masak! Katanya mau masak," tanya Ilham heran.
"Iya, Bi, tadi Wulan menelpon, memberitahu agar kita datang ke alamat yang ia berikan,"
"Wulan itu siapa?"
"Orang yang pernah, Umi ceritakan dulu, Bi! Abi sudah lupa kayaknya. Pokonya, habis sarapan, kita langsung menuju ke sini," Umi Fatma menunjukan alamat yang diberikan oleh Wulan, kepada Ilham.
"Oh, kesitu! Ya, Abi tau tempatnya. Memangnya ada hal apa? Kenapa kita harus ke sana?"
"Umi tidak tahu, Bi, yang jelas, Nak Wulan ingin sekali kita datang ke sana. Dari nada bicaranya, terdengar sangat penting. Tak ada salahnya jika kita datang, lagi pula, Umi, sudah mengiyakan permintaan Wulan," terang Umi Fatma.
"Baiklah, kalo begitu, kamu masak saja dulu, setelah sarapan, kita langsung berangkat ke sana," kata Ilham kemudian meninggalkan istrinya di dapur.
Umi Fatma mengangguk, dengan perasaan yang tidak tenang, ia mulai memasak.
__ADS_1