Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
80. Akhir Kisah


__ADS_3

Bu Saras dan Bu Ahmad mendekati Pak Ahmad yang ngos-ngosan.


"Bagaimana, Pak! Apa yang akan terjadi?" tanya Bu Saras.


"Kita berdo'a saja, Bu!" jawab Pak Ahmad sambil mengusap keringat di dahinya.


"Hihihi, mau lari kemana kalian," ucap Nek Jamilah di atas Pak Kyai.


Pak Kyai mendongak ke atas, ia kaget saat melihat wajah Nek Jamilah dengan taring panjang dan liur yang terus menetes.


"Astaghfirulloh," ucap Pak Kyai.


Pak Kyai kemudian berlari secepat mungkin.


Dari kejauhan, Ruman dan Marsel sudah siap dengan di bantu penggali kubur. Mereka melihat Pak Kyai dan Mawar yang tengah berlari ke arah mereka.


"Ayo cepat!" teriak Ruman.


Atas pertolongan Alloh, Pak Kyai sampai di tempat, dan memberikan jasad Mada kepadanya. Ruman dan kemudian masuk ke dalam liang bersama Marsel dan penggali kubur.


Ruman adzan untuk putrinya, sebelum ditutup oleh Papan. Setelah selesai, mereka naik dan menurunkan tanah.


Nek Jamilah mencegah Mawar, dan berusaha mengambil ari-ari yang masih di dekap oleh Mawar.


Nek Jamilah berhasil menangkap tubuh Mawar, Mawar masih memeluk erat ari-ari tersebut.


"Mawar!" teriak Marsel.


"Sudah, tidak apa-apa. Cepat kita selesaikan penguburan ini, agar ari-ari itu cepat berubah menjadi tanah," ucap Ruman lirih.


Nek Jamilah mengoyak baju yang dikenakan Mawar. Baju Mawar tercabik-cabik tidak karuan. Goresan-goresan kuku mulai terasa di punggung Mawar, rambutnya juga tertarik, sehingga Mawar, meraung kesakitan.


Mawar menangis. Perlahan ia dapat merasakan ari-ari itu berubah menjadi tanah. Rasanya sudah tidak kenyal lagi, melainkan seperti pasir.


Rupanya, Ruman dan yang lain sudah berhasil menguburkan jasad Mada.


Mawar kemudian membuka kain kafan itu, dengan susah payah, Mawar mengambil satu genggam ari-ari yang sudah berubah menjadi tanah, lalu ia berbalik menyiramkan tanah itu ke wajah Nek Jamilah. Bersamaan saat ia menyiramkan tanah tersebut, kuku nek Jamilah berhasil menggores pipi kanan Mawar. Mawar memekik, demikian juga dengan Nek Jamilah yang kepanasan.


"Aaaaaaa, tidak, tidak!" teriak Nek Jamilah.


Mawar menyiramkan sisa ari-ari itu ke tubuh Nek Jamilah. Seperti kayu yang disiram minyak tanah dan diberi api. Begitulah tubuh Nek Jamilah sekarang. Tubuhnya terbakar oleh tanah tersebut. Jeritannya terdengar lantang hingga jarak 1000 meter.

__ADS_1


Banyak orang yang mendengar jeritan pilu Nek Jamilah, sebelum akhirnya tubuh itu hangus terbakar menjadi abu tak tersisa. Abu tersebut hilang terbawa angin begitu saja.


Mawar terduduk lemas. Marsel segera berlari dan melepas bajunya, lalu memakaikan di tubuh Mawar.


"Alhamdulillah, kita berhasil!" ucap Marsel kepada Mawar.


Mawar menangis sejadi-jadinya. Pak Kyai dan penggali kubur yang menyaksikannya ikut menangis. Ruman menghampiri Mawar dan memeluknya dengan erat.


"Tidak ada yang perlu kita takutkan lagi sekarang, Nak!" ucap Ruman.


Mawar mengangguk dalam pelukan Ruman.


Pak Ahmad, Bu Saras, Bu Ahmad, dan tetangga lain yang mendengar teriakan Nek Jamilah merinding, tapi juga bersyukur.


"Alhamdulillah, mereka berhasil, Bu! Nek Jamilah sudah lenyap sekarang," ucap Pak Ahmad sambil mengusap wajahnya.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Alloh, terimakasih," ucap Bu Saras terharu.


Bu Ahmad memeluk Bu Saras. Para tetangga ikut merasa senang.


"Jadi, Bu Saras menunda acara resepsi Mawar karena hal ini? Ya ampun, kami tidak menyangka kalo nenek itu, kembali lagi, Bu!" ucap Wati.


"Iya, Wat! Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah mati pengganggu itu," ucap Bu Saras.


Perlahan, jiwa Mada melayang. Dengan raut wajah bahagia ia melayang menghampiri keluarganya yang berada di luar rumah. Meskipun keluarganya tidak dapat melihatnya, namun, kini mereka bisa mendengar suaranya untuk terakhir kalinya.


"Terimakasih, Bapak, Ibu, Mawar. Kini, Mada bisa beristirahat dengan tenang di rumah baru Mada. Mawar, semoga pernikahanmu dengan Marsel berjalan lancar, dan hidup bahagia," ucap Mada kemudian menghilang.


Mawar dan keluarganya tersenyum bahagia mendengar suara Mada, yang memang sama persis dengan suaranya.


****


Bambang masih koma di dalam rumah sakit. Setelah kejadian tadi, Mawar segera dilarikan ke rumah sakit juga untuk menjalani pengobatan di punggung dan wajahnya.


Mawar menengok ke kamar Bambang, setelah pengobatannya selesai. Wajahnya kini diperban. Namun, Marsel masih tetap mencintainya. Luka di wajahnya tidak menyurutkan rasa cintanya kepada Mawar.


"Kamu masih mau, denganku Mas, setelah wajahku rusak?" tanya Mawar sebelum masuk ke kamar Bambang.


"Tentu saja. Lagi pula, luka di wajahmu akan sembuh dan tidak meninggalkan luka. Wajahmu akan kembali seperti semula, jadi tidak perlu ditakutkan, War!" jawab Marsel.


"Tapi, bagaimana jika lukanya tidak sembuh, apa kamu masih mau menerimaku?"

__ADS_1


Marsel tersenyum dan merangkul Mawar. "Apapun kondisimu, aku akan tetap di sampingmu, menjadi suamimu selamanya. Mari kita masuk ke kamar Bambang," ucap Marsel.


Mawar tersenyum mendengar penuturan Marsel. Mereka berdua kemudian masuk terlebih dahulu. Sementara Ruman tengah membayar administrasi.


Bambang masih belum sadar. Mawar merasa sedih melihat kondisi Bambang.


"Mas Bambang begini karena melindungiku, Mas! Aku takut jika dia ...."


"Sudahlah, kita do'akan yang terbaik untuknya. Semoga, Mas Bambang segera sadar," ucap Marsel.


Dalam tidur Bambang, Bambang bermimpi berada di sebuah padang bunga yang luas. Tempatnya harum dan indah, diujung Padang tersebut, ada sebuah panggung yang dihias cantik, mirip seperti panggung pengantin. Ia melihat Mada tersenyum kepadanya. Tangannya terbentang menunggu kedatangannya.


Bambang tersenyum melihat wajah Mada, yang kini terlihat lebih segar, ceria, dan bahagia. Auranya begitu menentramkan hatinya. Dengan langkah pelan, Bambang berjalan menuju panggung itu.


Dengan susah payah, Bambang meraih tangan Mada. Merdeka berdua kini berada di panggung yang sama sambil berpegangan tangan. Mereka saling menatap satu sama lain dengan perasaan yang sama-sama bahagia.


"Mas Bambang, terimakasih karena sudah mewujudkan impian Mada, Mada sudah bahagia, Mas!" ucap Mada.


"Aku bahagia jika kamu bahagia, Mada,"


"Mas Bambang, sebaiknya segera bangun, dan melanjutkan hidup Mas, kembali,"


"Tidak, aku akan melanjutkan hidupku bersamamu. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Bambang dengan wajah bahagia.


Mada mengembangkan senyumnya.


"Tentu saja aku tak menolak. Tapi, apa kamu siap jika harus meninggalkan orang-orang yang kamu cintai, Mas?"


"Orang yang aku cintai itu, kamu! Aku akan bahagia bersamamu. Lagi pula, aku sebenarnya anak yang dibuang. Aku hidup sebatang kara. Di kampung, aku hanya tinggal bersama kakek dan nenekku. Mereka sudah renta. Terakhir aku dengar kabar sebelum aku kembali ke rumah orang tuamu, mereka telah meninggal dunia. Aku tidak bisa pulang untuk yang terakhir kalinya karena aku lebih memilih membantu kamu. Aku sedih, tapi mau bagaimana lagi. Maukah kamu membahagiakan diriku, Mada?"


Mada mengangguk dengan bahagia.


***


Bambang yang koma tiba-tiba mendengkur. Garis di monitor tiba-tiba berubah menjadi garis lurus dan bunyinya berbeda.


Marsel dan Mawar seketika panik, Marsel segera memanggil dokter. Ia berlarian kesana kemari, hingga Ruman datang dan menanyakan apa yang terjadi. Ruman membulatkan matanya karena kaget. Dokter pun datang dan mulai memeriksa Bambang. Kata terakhir yang diucapkan Dokter, membuat Marsel, Mawar, dan Ruman kaget dan menangis bersamaan.


"Innaliahiroji'un," ucap Dokter.


Tangis di ruangan Bambang seketika pecah. Terutama Mawar dan Ruman. Bambang sudah banyak berjasa untuk keluarga Ruman. Hingga kematiannya, Bambang masih membantu keluarga Pak Ruman.

__ADS_1


Ruman merasa terpukul atas meninggalnya Bambang. Bambang pergi dalam keadaan lajang, tapi siapa sangka, di alam sana, ia akan menjadi suami Mada. Semoga surga bersama mereka.


Akhir kisah ini kita tutup sampai di sini. Terimakasih yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Author minta maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan dan penggunaan kata. Serta, alur cerita yang mungkin sedikit dipercepat atau membuat kalian bingung. Karena, author banyak pekerjaan di dunia nyata yang tak bisa ditinggalkan. Menulis adalah hobi author. Semoga kalian semua terhibur. Terimakasih. Wassalam.


__ADS_2