Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
74. Nasehat Bapak


__ADS_3

Marsel kembali ke rumah dengan perasaan galau. Ia tidak tenang setelah mendengar cerita dari Mawar.


Marsel merebahkan tubuhnya di kursi dengan masih menggunakan seragam kerjanya.


Ibunya datang dari arah dapur sambil membawakan teh hangat untuknya dan juga bapaknya yang kini masih menunaikan sholat isya.


Ibunya duduk di sebelah Marsel sambil tersenyum.


"Pulang malam lagi, kamu lembur atau main, Nak?"


"Biasa Bu, mampir ke rumah Adam. Bapak dimana?" jawab Marsel sambil memijit keningnya yang berdenyut.


"Masih sholat. Kamu kenapa? Pusing?"


"Tidak apa-apa!" jawab Marsel sambil membenarkan posisi duduknya dan menyesap teh yang dibuatkan oleh ibunya.


Ibunya memperhatikan dengan seksama raut wajah Marsel.


"Kamu ada masalah dengan, Mawar?"


"Tidak! Hubunganku baik-baik saja. Hanya ...."


Marsel menggantung kalimatnya. Ibunya sudah menunggunya dengan penasaran.


"Apakah, lebih baik jika aku menceritakan semuanya kepada ibu dan bapak? Siapa tau mereka bisa membantu," batin Marsel.


"Koq kamu diam saja, Nak! Ada apa?" tanya ibunya lagi.


Bapaknya yang sudah selesai solat kemudian muncul dan ikut menimbrung. Sepertinya, bapaknya mendengar percakapan terakhir antara ia dan ibunya.


"Kalo ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan saja, daripada batin kamu tersiksa. Siapa tau, bapak sama ibu bisa kasih solusi, iya gak, Bu?" ucap bapaknya sambil duduk di bangku dan menyesap teh.

__ADS_1


"Bapak sepertinya bisa melihat kerisauanku yah. Memang benar, ada sesuatu yang Marsel pikirkan dari kemarin. Ini soal keluarga, Mawar," ucap Marsel pelan.


Ibu dan bapak Ahmad, nama orang tua Marsel, saling berpandangan satu sama lain. Mereka berdua sepertinya juga mengetahui sesuatu. Tapi, mereka pendam sendiri.


"Katakan apa itu, Nak?" tanya Pak Ahmad.


"Semenjak kembalinya Mawar, banyak kejadian janggal di rumahnya, Pak, Bu. Marsel sendiri kerap mengalaminya. Marsel akan cerita langsung ke intinya saja, Pak. Menurut Mawar, pada saat hari lamaran itu, waktu dia merias diri ada seseorang yang tiba-tiba muncul menyerupai dirinya. Lalu kemudian, berubah menjadi nenek tua, setelah itu, berubah menjadi wujud Ndoro Kusuma. Demit yang sudah mengurung Mawar,"


Pak Ahmad dan Bu Ahmad terbelalak mendengar penuturan Marsel. Namun, mereka tidak menyela sedikitpun. Mereka tetap diam dan fokus mendengarkan cerita Marsel.


"Nenek itu terlihat menyeramkan. Dia bilang, bahwa dia akan menukar jiwa Mawar dengan cucunya. Dia akan hadir menjadi seorang sinden. Cucunya yang nantinya akan dinikahkan denganku. Setelah itu, cucunya itu yang akan mengambil ari-ari separuh yang dulu belum sempat ia dapatkan. Begitu kira-kira, Pak. Menurut bapak, apa yang harus kami lakukan? Nenek itu benar-benar meresahkan. Ia bisa merubah wujud, menyerupai semua orang sesuai keinginannya," terang Marsel dengan raut wajah khawatir.


Pak Ahmad menghela nafas panjang.


"Yah, dari pertama bapak dan ibu masuk ke dalam rumah itu, memang ada sesuatu yang aneh. Namun, kami hanya diam saja," ucap Pak Ahmad.


"Maksud bapak, apa?" tanya Marsel tak mengerti.


"Bapak lihat sesuatu?" tanyanya lagi.


Marsel terbelalak, tidak percaya jika bapaknya bisa melihat dan merasakan kejadian aneh di rumah Mawar.


"Bapak serius?" tanya Marsel.


"Memangnya kelihatan bapak berbohong?"


Marsel menggeleng dan tersenyum mendengar pertanyaan bapaknya.


"Hanya ada satu cara untuk menyiasatinya, Nak! Nenek yang kamu bilang itu, dia tidak akan mati jika ari-ari itu masih hidup,"


"Maksud bapak? Marsel tidak mengerti, Pak! Bapak tau dari mana soal ari-ari, Marsel bahkan tidak bercerita soal ari-ari,"

__ADS_1


"Bapakmu tahu apa yang tidak kamu ketahui, Nak! Kalo kamu tidak jujur kepada kami, kami juga akan diam saja. Kami hanya ingin, kamu terbuka setiap ada masalah. Dulu, waktu menghilangnya, Mawar. Kami ingin sekali membantu, kami tau kalo, Mawar keselong. Tapi, kamu hanya diam saja. Hanya bilang tidak apa-apa. Untungnya, kamu mau jujur sama Wulan, dan dia membantumu. Kalo tidak, Mawar tidak mungkin bisa selamat," ucap ibunya.


"Ya ampun, maafin Marsel ya, Pak, Bu! Marsel benar-benar tidak tau. Marsel bersalah kepada kalian," ucap Marsel sambil menggenggam tangan ibu dan bapaknya bergantian.


"Ya ya, sudah berlalu. Kalo ada apa-apa, kamu cerita dulu dengan kami, kami kan keluargamu, kami orang tuamu. Kalo kamu tidak terbuka, kami jadi merasa, bahwa kami orang lain bagimu. Meskipun kami tidak bisa membantu secara finansial, tapi kami masih bisa membantu dengan cara lain yang kami bisa," terang Pak Ahmad yang punya pekerjaan sebagai guru ngaji di desanya itu.


"Iya, Pak! Marsel minta maaf. Marsel tidak akan mengulangi lagi. Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah ini, Pak! Marsel ingin pernikahan Marsel dan Mawar, berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun," keluh Marsel merasa sedih.


"Kita harus musyawarahkan ini dengan keluarga calon mertuamu itu karena yang punya rumah dan kasus adalah mereka. Kita hanya bisa membantu. Bapak sudah tau harus berbuat apa. Hanya tinggal menunggu kesepakatan dari calon mertuamu. Lebih baik, kamu dan Mawar, ngobrol dulu dengan Pak Ruman. Kalo mereka sama-sama terbuka dan lega, bapak siap membantu mengusir nenek itu," ucap Pak Ahmad mantap.


"Baik, Pak! Segera Marsel, akan hubungi Mawar dan membicarakan masalah ini. Semoga tidak ada halangan ya, Pak!"


"Amin, semoga saja. Kami hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kamu. Perikahanmu tinggal menghitung hari, Nak! Kamu harus cepat bertindak, sebelum kamu sendiri menikahi jiwa lain,"


"Iya, Pak! Marsel pamit membersihkan badan dulu. Terimakasih, Pak, Bu," ucap Marsel sambil mencium telapak tangan bapak dan ibunya.


Marsel kemudian menuju kamarnya dan mengambil baju ganti. Ia membersihkan badan dengan perasaan galau namun sedikit lega karena bapaknya tau dengan kondisi yang menimpanya. Bahkan, bapaknya tau harus berbuat apa dengan nenek Jamilah yang meresahkan itu.


***


Dua hari berlalu, Pak Ruman seperti sangat disibukan dengan pekerjaannya untuk menyiapkan acara pernikahan anaknya. Marsel dan Mawar tidak punya celah untuk menemui Pak Ruman sedikitpun. Setiap ingin bicara, Pak Ruman selalu pergi dan menghindar. Marsel dan Mawar sampai bingung harus berbuat apa.


Bu Saras sudah menceritakan semua kejadian di rumahnya pada 22 tahun yang lalu kepada Mawar dan Marsel. Ia setuju jika harus bermusyawarah dengan kedua orang tua Marsel. Bu Saras ingin agar masalah itu cepat selesai sebelum acara pernikahan di mulai.


"Bapakmu itu sibuk bertemu dengan tamu-tamu pentingnya, Nak. Padahal dia tau sendiri, ada masalah besar yang harus cepat diselesaikan. Ia malah acuh," ucap Bu Saras geram.


"Apa ibu tidak bisa membujuk bapak, Bu?" tanya Mawar khawatir.


"Ibu sudah bilang, tapi bapakmu pura-pura tidak dengar. Seperti ada yang menyumbat telinganya. Setiap ibu bicara masalah ini, dia tidak dengar. Tapi kalo ibu bicara hal lain, bapakmu dengar," terang Bu Saras kesal.


"Berarti benar, tidak aman jika membicarakan masalah ini di rumah, Bu. Bapak harus bisa keluar dari sini. Lalu kita bicarakan di luar. Sebaiknya, musyawarahnya di rumah kamu aja, Sel!" ucap Mawar melirik Marsel.

__ADS_1


"Iya, kamu benar, War. Bu, jika ada celah waktu, segera ajak Pak Ruman keluar. Langsung bawa pergi ke rumah saya," terang Marsel.


"Iya, Nak! Pasti!" ucap Bu Saras tambah khawatir.


__ADS_2