
Mamat, Juned, dan Bambang gemetar. Seluruh tubuh mereka terasa sangat kaku. Keringat sudah meluncur deras membasahi peluh mereka.
Ruman semakin mendekat dengan menyeringai sambil membawa tiga buah cangkir sekaligus.
"Ayo, minumlah kalian!" ucap Ruman dengan suara besar dan serak macam raksasa.
"Ti-ti-tidak! Ti-tidak!" lidah Mamat terasa kelu.
Juned dan Bambang hanya bisaa menggerakan mulutnya tanpa bisa mengeluarkan suara saking takutnya.
Saat Ruman sudah semakin dekat, tepukan tangan membuyarkan Mamat dan teman-temannya.
"Woy! Woy! Ada apa dengan kalian!" Ruman bertepuk tangan tiga kali.
Mamat dan teman-temannya tersentak dan refleks langsung menengok ke belakang. Mereka sama-sama kaget kembali saat melihat sosok Ruman baru, berdiri di belakang mereka.
"Pak Ruman!" seru Juned, kali ini bisa mengeluarkan suara.
"Ba-bapak darimana?" tanya Bambang kemudian berbalik lagi.
"Loh, pak Ruman tadi di sini," ucap Bambang lagi.
Mereka bertiga mengucek mata masing-masing. Rasa berdebar di hati mereka berangsur hilang.
"Ada apa dengan kalian! Berdiri memeluk tas, berhimpitan! Mari duduk semuanya," perintah Ruman sambil meletakan tiga amplop cokelat di atas meja.
"Bapak, bapak beneran, pak Ruman bukan?" tanya Mamat sedikit gugup.
"Apa maksudmu, Mat!" tanya Ruman menyelidik.
"Ah, tidak apa-apa, pak!" jawab Mamat sambil menggaruk kepalanya.
Mamat dan teman-temannya saling berpandangan kemudian duduk kembali.
"Koq tehnya masih utuh, silahkan di minum dulu," ucap Ruman mengawali, dan meminum teh bagiannya.
Juned dengan ragu mengambil cangkirnya. Memastikan, apakah isi cangkir teh tersebut darah, atau teh biasa.
Dengan tangan bergetar, Juned mulai melihat isi teh tersebut. Mamat dan Bambang ikut mengintip isi cangkir Juned.
Ternyata, isinya beneran teh. Juned bernafas lega. Mamat dan Bambang kemudian mengambil cangkir mereka masing-masing. Ketika di lihat, isinya memang teh.
Tapi, kejadian sebelumnya telah membuat mereka mual dan enggan untuk minum teh tersebut. Ruman merasakan ada yang aneh dengan sikap ketiga anak buahnya.
"Ada apa sebenarnya! Kenapa kalian merasa ketakutan seperti itu?" tanya Ruman menyelidik.
__ADS_1
Mamat dan kedua temannya saling berpandangan kembali. Antara berani dan tidak, mereka ingin memberitahu kejadian yang baru saja mereka alami.
"Anu, pak! Anu, em ...." ucap Juned terbata.
"Anu apa! Bicarakan saja sama saya, barangkali saya bisa membantu kalian," ucap Ruman.
"Tapi, kami takut bapak tersinggung!" sambung Bambang.
"Maksud kalian apa? Coba, coba katakan baik-baik, saya akan menerima pengakuan kalian," ucap Ruman meyakinkan.
Mereka bertiga saling berpandangan lagi. Kemudian, Mamat mengutarakan apa yang telah mereka alami.
"Tadi, sebelum sampean muncul di belakang kami, ada sosok yang mirip dengan bapak. Kami berbincang cukup lama, setelah itu, datang Bu Saras, memberi minuman. Saat kami hendak minum, ternyata isi cangkirnya darah," ucap Mamat.
Ruman kaget mendengar penuturan Mamat, sampai-sampai, matanya membulat.
"Benar, Pak! Lalu, bapak memaksa kami untuk minum darah tersebut. Wajah bapak dan suara bapak berubah, sangat menyeramkan!" sambung Bambang sambil bergidik ngeri.
Ruman mengelus dagunya sendiri sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Saya tadi, begitu masuk, langsung ke kamar untuk mengambil amplop gaji kalian," terang Ruman.
"Berarti, yang menemani kami bicara tadi, bukanlah bapak yang sesungguhnya?" tanya Mamat.
Mereka bertiga seketika merasakan merinding lagi. Bulu kuduk mereka meremang semua. Bahkan setelah di elus-elus sendiri oleh tangan-tangan mereka, tetap saja bulu kuduk mereka berdiri.
"Sebelum kita masuk ke dalam rumah bapak, kami juga melihat, mbak Mawar tengah menyapu di teras, pak! Tapi, mbak Mawar tidak membuka pagar, biarpun berkali-kali kami menekan bel," ucap Mamat lagi.
Ruman tampak menyimak penuturan dari ketiga anak buahnya dengan khidmat.
"Ada satu hal lagi, Pak! Saat bapak turun dari mobil tadi, saya melihat ada nenek tua, ikut keluar dari dalam mobil bapak! Apa itu ibu, bapak, atau ibu Saras?" tanya Mamat lagi.
Kali ini, Ruman, Juned, dan Bambang, memandang ke arah Mamat secara bersamaan.
"Nenek tua? Saya tak melihatnya, Mat!" kata Juned.
"Aku juga tidak," sambung Bambang.
"Apalagi saya, Mat!" terang Ruman.
"La-la-lalu, lalu, siapa dia? Masa kalian tidak melihatnya? Jangan bohong!" ucap Mamat dengan keringat yang mulai membasahi peluhnya lagi, wajahnya kembali pucat.
Bambang dan Juned merapatkan tubuh mereka kepada Mamat. Mereka saling berpegangan tangan karena merasa takut.
"Aneh! Memang aneh! Saya akui, semenjak pulang dari rawa, banyak kejadian aneh di rumah saya," terang Ruman.
__ADS_1
Susasana tetiba hening. Tak ada suara apapun, bahkan bunyi detak jam dinding tak terdengar. Angin halus menyeruak di ruangan tersebut. Ruman dan ketiga anak buahnya memicingkan mata melihat ke semua penjuru ruangan. Tiba-tiba terdengar suara wanita cekikikan dengan lantang.
Mereka semua terhenyak sampai bangkit dari tempat duduknya.
"Astagfirulloh, suara siapa itu," ucap Juned dengan suara bergetar.
Ruman ikut menghambur dengan ketiga anak buahnya. Suara wanita cekikikan itu terdengar sangat jelas. Dari arah dapur, perlahan muncul Saras dengan rambut yang ia biarkan terurai wajahnya pucat, matanya melotot, giginya hitam. Terlihat jelas karena Saras menggeram seperti macan memperlihatkan gigi rapihnya. Sementara kedua tangannya siap untuk menerka.
"Ibu, Bu! Sadar, Bu!" teriak Ruman kepada istrinya.
Mereka berempat mundur perlahan menjauhi Saras yang terlihat menyeramkan. Raut wajah Saras berubah menjadi nenek tua yang pernah Mamat lihat sebelumnya.
"Ahahahahaha! Hihihi!"
"Itu, itu, nenek tua yang aku lihat, Pak!" tutur Mamat sambil menunjuk wajah Saras.
Ruman terhenyak. Dia tahu siapa nenek tua yang tengah berdiri di hadapannya sekarang.
"Aku kembali ... Aku kembali ....!" suara terucap dari nenek tua tersebut secara berulang-ulang.
Sementara dari luar, tetangga Ruman yang berlalu lalang berjalan melewati rumahnya, menghentikan langkah mereka untuk sesekali mengamati rumah Ruman yang terlihat sangat gelap. Bahkan, ada awan hitam di atas rumah Ruman.
"Apa yang terjadi di rumah pak Ruman, yah? Koq, ramai sekali di sana, apa sedang ada acara? Tapi koq, gelap sekali, padahal banyak orang tengah beraktifitas," ucap salah satu tetangga Ruman yang sedang mengintip.
"Ah, mana mungkin ada acara, tidak ada kendaraan lain terparkir di sini. Kecuali tiga truk yang dari kapan hari masih parkir di pinggir jalan. Di halaman pak Ruman sendiri, hanya ada mobil beliau," jawab salah satu teman tetangga Ruman.
"Ya siapa tau, mereka kesini, menaiki kendaraan umum, Wat!" ucap Neni.
"Ah, tidak mungkin! Tapi, Nen, aku selalu merinding saat lewat depan rumahnya pak Ruman loh, kamu juga ngrasain kan?" tanya Wati.
"Iya, sama! Apalagi, semenjak kepulangan Mawar, suasananya jadi agak berbeda. Ada apa ya kira-kira?" sambung Neni tetangga Ruman dengan penasaran.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini saja, takut ada yang dengar! Lagi pula, kamu tau kejadian besar dulu gak?" tanya Wati menarik tangan Neni untuk menjauh dari rumah Ruman dan segera melanjutkan perjalanan mereka.
"Kejadian besar apa, Wat?" tanya Neni yang tidak mengerti.
"Oh iya, waktu kejadian itu, kamu kan belum ada di sini. Kejadian yang sangat menyeramkan, Nen! Aku saja gak berani keluar selama satu Minggu setelah kejadian itu," ungkap Wati bergidik.
"Iya, kejadian apa? Ceritakan dong, jangan buat aku penasaran," ucap Neni sedikit kesal karena Wati bertele-tele.
"Nanti saja, habis dari warung, kamu mampir ke rumah aku dulu, nanti aku ceritain semuanya,"
"Ah, kamu ini. Tau gitu, kamu bilangnya nanti saja, biar aku gak nahan rasa penasaran," jawab Neni manyun.
"Halah, nahan sebentar saja koq!" jawab Wati tak kalah manyun.
__ADS_1