
Mira dan Mawar terus berlari tergopoh-gopoh. Rasa haus dan lelah merasuki keduanya.
Perjalanan mereka tidak seperti biasanya. Demit yang biasa menghalangi mereka kini tidak ada. Namun, baru saja berpikir seperti itu, tiba-tiba, gerombolan pocong melayang-layang diatas mereka.
"Mba, tolong, lepaskan tali saya, mbak!"
"Lepaskan tali saya Mbak,"
Suara-suara berisik sang pocong menyeruak di seluruh penjuru.
"Tidak usah tatap mereka, War!" ucap Mira sambil terus berlari.
Mawar hanya mengangguk saja menuruti perintah Mira.
Dayang-dayang Ndoro Kusuma berhasil menyerbu Mawar dan Mira yang sudah kelelahan. Mawar merasa sangat kehausan. Ia sampai menjilati keringatnya sendiri.
"Mira bagaimana ini, kita dikepung," ucap Mawar.
"Terpaksa kita lawan," ucap Mira.
"Hah! Kita kan tidak bisa berkelahi," tanya Mawar bingung.
"Kita coba saja!" Perintah Mira.
Para dayang memang tidak mengeluarkan suara, tetapi tatapan mereka yang mendelik, terasa menyeramkan.
Mawar dan Mira segera menyerang dayang-dayang tersebut, mereka terus berkelahi. Setelah ada celah untuk kabur, mereka berlari kembali.
"Mir, sudah sampai manakah kita! Kita sudah berlari sangat jauh, kakiku sudah tidak tahan untuk berdiri, sudah lemas, tidak ada tenaganya,"
"Mungkin kamu keberatan membawa pusaka itu, War! Bagaimana jika aku saja yang menggendongnya, menggantikan bebanmu. Pusaka itu pasti sangatlah berat,"
Mawar seketika memandang Mira sebentar, ia kemudian bertakbir beberapa kali. Tapi tidak mendapati suara lelaki yang menuntunnya.
"Dia pasti Ndoro Kusuma. Lalu, dimanakah, Mira? Atau apa mungkin, Mira dirasuki Ndoro Kusuma," batin Mawar.
"Kalian tidak akan lolos dariku, hahahaha!" teriak Ndoro Kusuma yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
__ADS_1
Mawar kaget, baru saja dia berasumsi jika Mira adalah Ndoro Kusuma. Tetapi, Ndoro Kusuma malah muncul di depannya, menghadang langkahnya. Wujud Ndoro Kusuma berubah-ubah.
Mawar dan Mira kemudian berhenti.
Mawar menelan ludahnya beberapa kali, ia memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang Ndoro Kusuma.
Ndoro Kusuma maju. Mawar dan Ndoro Kusuma beradu sengit, sedangkan Mira, ia malah berusaha untuk menarik pusaka dari punggung Mawar.
"Mira, kamu kenapa? Bantu aku melawan Ndoro Kusuma," ucap Mawar sambil berkilah dari Mira.
Entah kekuatan dari mana, Mawar bisa melawan Ndoro Kusuma. Mawar dengan cekatan menangkis semua serangan dari Ndoro Kusuma, Mawar mendapat celah untuk kabur dari Ndoro Kusuma. Ia segera melarikan diri sambil menarik tangan Mira.
Mira bertingkah aneh, dia malah berjalan santay seperti orang yang sedang menikmati indahnya senja di tepi laut. Padahal ia sendiri tengah berada di tuhan yang remang.
Mira terseok karena Mawar menariknya.
"Mir, sadarlah!"teriak Mawar.
Mira hanya tersenyum seperti orang linglung. Mawar berhenti sejenak saat melihat tingkah Mira yang semakin aneh. Mawar mengepalkan tangan kanannya, ia mengucap kalimat Alloh, kemudian dengan sekuat tenaga menghajar wajah Mira, hingga darah segar keluar dari hidung Mira.
Bug
"Maafkan aku, Mir! Aku tak bermaksud menghajarmu," ucap Mawar merasa tidak enak.
Mira mengelap darah yang menetes dari hidungnya. Kepalanya terasa pening. Perlahan ia mengadakan wajahnya kepada Mawar.
"War, ada apa! Kepalaku pusing sekali, kamu sengaja menghajarku?" tanya Mira sambil memegangi kepalanya, kemudian bangkit.
"Maaf, Mir. Habisnya kamu itu seperti orang gila,"
"Hah!" Mira mendengus tak mengerti.
"Sudah lupakan saja, ayo cepat lari!"
Mawar kembali menarik tangan Mira untuk terus berlari.
Kemudian, suara Pak Kyai terdengar kembali.
__ADS_1
"Mawar, setelah kamu sampai di sebuah makam dengan pahatan aksara Jawa, carilah makam Raden K, satukan pusaka itu di ma ...."
Tiba-tiba, suara Pak Kyai hilang lagi, Mawar tak bisa mendengar suara Pak Kyai, padahal Ndoro Kusuma tidak bersamanya.
Mawar tidak menjawab suara Pak Kyai. Dia hanya melihat ke atas mencoba mencari suara tersebut.
Setelah berlari cukup jauh tanpa gangguan lagi, Mawar sampai di sebuah makam dengan gapura yang bertuliskan dengan abjad Jawa pada abad 20. Dia sama sekali tidak mengerti aksara tersebut. Dia kemudian masuk di makam tersebut. Hawa di sana terasa beda, dingin namun tak menusuk tulang.
"Mir, kita cari makam Raden K, ayo!"
Mira tidak menggubris Mawar. Tiba-tiba para dayang Ndoro Kusuma berada di hadapan mereka, mengelilingi Mawar dan juga Mira. Mereka semua kini membawa senjata berupa tombak. Ndoro Kusuma kemudian muncul dengan wujud separuh ular, namun, wajahnya terlihat tua, rambut ubannya tergerai, taringnya tajam meruncing ke bawah. Kukunya panjang sepanjang kacang panjang yang biasa di masak untuk sayur.
Nafas Mawar menderu. Lututnya seketika terasa lemas, ia sudah pasrah jika harus mati sekarang.
Kesadaran Mira kembali pulih, ia mengucek matanya perlahan.
"War, kenapa tiba-tiba mereka berkumpul disini? Mengerumuni kita?" tanya Mira sambil berjaga-jaga.
"Sudah dari tadi, Mir! Pikiranmu pergi kemana sebenarnya? Kenapa baru sadar sekarang? Aku sepertinya mau pingsan ini," keluh Mawar dengan keringat yang sudah mengucur kemana-mana.
Tubuh Mawar basah seperti habis nyemplung dari kolam, karena keringat.
Sedangkan tubuh Mira masih seperti biasa, tidak mengeluarkan keringat.
"Hahaha! Kalian tidak akan bisa lari dariku, serahkan Pusaka itu padaku, jika kalian masih ingin hidup!" ucap Ndoro Kusuma.
"Sampai matipun, kau tidak akan mendapatkan pusaka ini kembali wanita tua sialan!" ucap Mira tegas.
Ndoro Kusuma berang mendengar kalimat Mira. Wajahnya berubah bengis, ia kemudian menyabet Mira dengan ekornya, sehingga Mira terpental lima meter.
"Miraaaa!" teriak Mawar.
Mawar kemudian mencoba menerobos para dayang Ndoro Kusuma. Dan ia berlari mengejar Mira.
Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja muncul pasukan berkuda, seperti prajurit kerajaan. Mereka membawa tombak, anak panah, dan juga pedang.
Mereka segera melawan para dayang Ndoro Kusuma.
__ADS_1
Seperti tengah di Medan Perang, mereka bertempur sengit. Ndoro Kusuma kemudian berhadapan dengan seorang Patih, dengan badan yang tinggi, tegap, dan kekar. Tatapan matanya tegas dan tajam. Patih tersebut mengeluarkan pedang.
Hari itu terjadi pertempuran yang dahsyat, Mawar yang melihatnya tak kuasa, ia pingsan disamping Mira yang terkapar.