
Wulan menanti kepulangan Adam dan Marsel di teras. Ia tampak mondar mandir.
"Koq belum nyampe-nyampe yah, Mas Adam."
Tak berapa lama, Adam datang dengan Marsel.
Marsel dan Adam memarkir sepeda motornya di depan.
"Assalamu'alaikum," sapa Adam.
"Wa'alaikumsalam, koq lama banget si, Mas!"
"Aku mampir beli baso, sama Marsel. Kamu siapkan mangkok, kita makan bersama yah." kata Adam diiringi senyuman. Wulan mengangguk dan masuk ke dalam.
Mereka berdua duduk di karpet depan televisi.
Wulan datang dengan membawa tiga mangkok.
"Sama bikinin kopi dong, Nduk, hehehe!" kata Adam sambil tertawa.
Wulan menghela nafas kemudian beranjak ke dapur, membuat dua cangkir kopi untuk suami dan temannya.
"Wajah Wulan tampak risau, Dam. Masih kamu suruh-suruh saja." kata Marsel sambil menuangkan bakso ke dalam mangkoknya.
"Biarkan saja, biar dia tidak terlalu sepaneng. Aku tau, dia pasti sudah tidak sabar ingin bercerita tentang Pak Kyai." Adam tampak mengaduk-aduk baksonya dan menyruput kuah bakso tersebut.
Tak berapa lama, Wulan datang, ia meletakkan dua cangkir kopi di atas karpet.
"Makasih ya, Nduk!" kata Adam diiringi senyuman.
"Sama-sama, Mas!"
"Baksonya udah Mas bukain, kita makan dulu aja, abis itu ... "
__ADS_1
Belum selesai bicara, Wulan memotong kalimat Adam.
"Jadi gimana? Plat nomor itu punya Mawar, bukan Sel?" tanya Wulan.
"Aku belum liat koq," jawab Marsel.
"Loh, kamu belum memberitahu, Marsel, Mas?"
"Hehehe, lupa, soalnya tadi, kita langsung kerja. Jadi gak sempet mau nunjukin, Nduk, Mas minta maaf yah." Adam menggosok kedua telapak tangannya di depan wajahnya simbol meminta maaf. Wulan memasang wajah jutek.
"Jangan marah dong, kamu kan bisa nanya langsung sama orangnya, mumpung dia di sini juga!" kata Adam sambil melirik Marsel yang tengah melahap baksonya.
Wulan tidak merespon Adam. Ia lebih memilih untuk menghabiskan baksonya.
"Kamu tau nggak, Nduk? Marsel tadi habis liat pocong." Kata Adam mencoba membuat Wulan tidak bete dengannya.
"Hah! Serius kamu, Mas? Benar itu, Sel?" tanya Wulan sambil melihat Adam dan Marsel bergantian.
Marsel melirik ke arah Adam. Sebenarnya dia tidak mau cerita hal itu kepada Wulan, tapi si lemes Adam malah memberitahunya. Adam meringis ketika Marsel menatapnya.
"Hii, serem banget. Seperti apa wajah pocong itu, Sel?"
"Ah, kenapa kamu menanyakan hal itu, Lan! Aku saja sedang berusaha untuk tidak mengingatnya lagi." Marsel menghabiskan jauh yang berada di mangkoknya. Kemudian ia menyruput kopi yang sudah di sediakan Wulan.
"Ya, habisnya aku penasaran saja, Sel. Kamu takut nggak!" tanya Wulan kembali sambil menata mangkok untuk dibawa ke dapur.
"Bukan takut lagi, Nduk. Marsel wajahnya pucat, badanya separuh dingin, separuh panas. Udah gitu, matanya mendelik, sekujur tubuhnya kaku. Mas, sama Leader tadi yang menggotong dia." sambung Adam sambil memegang gelas yang berisi kopinya.
Wulan dan Marsel sama-sama memandang ke arah Adam.
"Aku tanya Marsel, bukan nanya kamu, Mas!" kata Wulan dengan sewot. Marsel menahan tawanya.
"Aduh, jangan ngambek gitu dong, Nduk. Mas, kan sudah minta maaf. Nih, Marsel sekarang ada di sini, lebih jelas kalo kamu menanyakan langsung padanya. Tak perlu lah kamu marah sama Mas."
__ADS_1
"Aku bukannya marah, Mas. Aku kesal saja. Kamu tidak amanah."
"Iya, iya, Mas minta maaf ya, Mas janji gak bakal ngulangin lagi."
Wulan tidak merespon Adam, ia membawa mangkok kotor ke dapur untuk langsung di cuci.
"Kelihatanya, ada yang gak bakal dapat jatah nanti malam." kata Marsel setengah meledek.
"Apes tenan, Sel!" Adam memegangi kepalanya.
Wulan kemudian keluar lagi dengan membawa toples yang berisi kerupuk ikan.
"Sel, coba lihat, ini plat nomor motor Mawar, bukan?"
Wulan memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor plat motor Mawar kepada Marsel.
Marsel memperhatikannya dengan seksama, ia mencoba mengingatnya.
"Iya, benar! Ini nomor plat motor Mawar. Bagaimana Pak Kyai bisa tau, Lan?"
"Pak Kyai tadi pagi menelpon memberitahu, dia sudah mencoba merogo sukmo, dia menemukan sebuah motor di semak-semak. Warnanya sudah lapuk juga. Jika memang benar, itu nomor plat Mawar, Pak Kyai bilang, kita jangan sampai berhenti untuk mendo'akan Mawar. Kata-kata Pak Kyai, seperti sebuah peringatan besar buat kita, Sel! Aku saja merinding mendengar penuturan beliau."
Marsel dan Adam menyimak perkataan Wulan.
"Terus, apa Pak Kyai bisa datang ke sini, Lan?" tanya Marsel.
"Memangnya, Mawar Keselong dimana, Nduk?" tambah Adam.
"Pak Kyai tidak bisa kesini, Sel. Beliau bilang, akan membantu dari sana. Pak Kyai bilang, jika Mawar masuk ke dalam sarang demit!"
Perkataan Wulan membuat Marsel dan Adam terbelalak. Mereka saling berpandangan. Seketika tubuh mereka merinding. Ada rasa tak percaya dengan penuturan Wulan. Marsel merasa jantungnya berpacu lebih cepat.
"Lan, kamu bisa hubungi Pak Kyai, lagi? Aku ingin mendengar lebih jelas lagi." Kata Marsel.
__ADS_1
"Iya, tadi beliau juga berpesan, jika nomor plat itu benar, aku disuruh untuk menghubunginya kembali. Tunggu batire ponselku penuh, aku akan menghubunginya lagi."
Mereka bertiga terdiam dalam lamunan masing-masing. Isi pikiran mereka sama. Memikirkan keadaan Mawar yang berada di sarang demit.