Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 16 : Berhasil Menghubungi Pak Kyai


__ADS_3

Sepulang kerja, Marsel sudah berniat untuk langsung ikut pulang bersama Adam ke rumahnya.


Marsel berencana ingin menginap di rumah Adam juga. Untunglah, baik Marsel maupun Adam, mereka tidak ada yang lembur.


Setelah menunaikan sholat Maghrib, Adam, Wulan, dan Marsel berkumpul di depan. Wulan mengambil hapenya dan kemudian menghubungi nomor Pak Kyai lagi.


"Bismillah, semoga kali ini bisa tersambung yah, Mas, Sel," kata Wulan sambil mencari kontak Pak Kyai.


"Amin, insya Alloh, atas restu yang diberikan oleh orang tua Mawar, dan juga atas izinNya, semoga kali ini, Pak Kyai bisa di hubungi." Imbuh Adam.


"Amiiiiiiiiin," jawab Marsel kemudian membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Wulan mulai memanggil nomor Pak Kyai. Mereka bertiga tampak was-was.


"Gimana, Lan?" Tanya Marsel.


"Masih belum diangkat. Aku coba lagi." Wulan kembali mengulangi panggilannya.


Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya telepon Wulan tersambung.


"Alhamdulillah, Assalamu'alaikum," ucap Wulan kepada seseorang yang berada di dalam telepon tersebut.


"Wa'alaikumsalam, maaf dengan siapa yah?"


"Saya Wulan, dari kota K, saya ingin berbicara dengan Pak Kyai, apakah beliau ada di tempat?" Tanya Wulan merasa deg-degan. Adam dan Marsel ikut merasa deg-degan. Mereka antusias melihat percakapan Wulan dengan orang yang ada di panggilan tersebut.


"Beliau baru saja pulang dan sedang tidur, Mba. Silahkan, Mbak Wulan tinggalkan pesan saja, nanti akan saya sampaikan kepada beliau."


"Oh begitu. Baiklah, jadi begini, Mbak. Maksud saya menelpon beliau, adalah ingin meminta tolong untuk di bantu mencarikan teman saya yang bernama, Mawar. Mawar sudah hilang selama kurang lebih empat bulan. Mbak, kalo Mbak berkenan, jika Pak Kyai sudah bangun, Mbak bisa hubungi saya?" Tanya Wulan.


"Insya Alloh, Mbak. Nanti Mbak Wulan bisa tuliskan saja detail masalahnya lewat pesan. Jangan lupa untuk menyertakan binnya Mawar karena saya juga tidak tau, Pak Kyai bisa datang ke tempat Mbak Wulan atau tidak. Soalnya Pak Kyai bilang, beliau ingin berada di rumah saja, minggu-minggu ini."


"Iya baiklah, Mbak, saya akan mengirimkan pesan saja nanti. Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih banyak ya, Mbak, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab wanita tersebut dari dalam telepon.


Wulan mengakhiri percakapannya.


"Gimana, Lan? Pak Kyai bisa menolong?" Tanya Marsel.


"Beliau sedang beristirahat, Sel. Kita berdo'a saja, semoga beliau bisa membantu. Mbak-Mbak yang tadi bilang, sebaiknya kita tuliskan masalah detailnya lewat pesan saja karena Pak Kyai minggu-minggu ini tidak ingin pergi kemana-mana. Mungkin akan di bantu dari tempat Pak Kyai sendiri." Jawab Wulan sambil menghela nafas.


"Di bantu dari sini, ataupun dari sana, tidak jadi masalah, Pak Kyai mau membantu saja sudah Alhamdulillah. Kita tidak usah berkecil hati. Nduk, sebaiknya kamu segera tulis perincian masalah Mawar." Kata Adam.

__ADS_1


"Baik, Mas. Tapi, nama panjang, Mawar dan Pak Ruman, siapa ya? Aku tidak tau, Mas, Sel."


"Tenang saja, Lan, aku tau koq." Jawab Marsel tersenyum. "Malikiya Mawar Sasruman. Kalo Pak Ruman..." Marsel mencoba untuk mengingat terlebih dahulu. Sedangkan Wulan mencatat nama Mawar dalam hapenya.


"Pak Ruman, Mahendra Ruman Sawiji. Iya, itu nama panjangnya." Kata Marsel mantap.


"Serius kamu, Sel? Jangan sampai salah loh karena bin wali harus benar!" Tanya Adam mencoba untuk menakut-nakuti Marsel.


"Benar, Dam, memang nama panjangnya itu koq, Mawar dulu pernah bilang sama aku, waktu aku sedang latian merapalkan Ijab Qabul."


"Wah, rupanya kamu diam-diam sudah latian ya, Sel?" Tanya Adam sambil menahan tawanya.


"Iya, untuk persiapan biar lancar nantinya." Jawab Marsel membuang muka karena tahu, Adam hanya meledek saja.


Wulan tersenyum melihat tingkah suami dan sahabatnya itu. Wulan kemudian mengetik masalah rincinya.


"Assalamu'alaikum, Pak Kyai, saya Wulan dari kota K. Saya bermaksud menyampaikan permasalahan saya, dan ingin meminta bantua dari Pak Kyai. Saya sangat berharap, semoga Pak Kyai bisa untuk membantu masalah saya."


"Saya mempunyai seorang teman, yang sudah menghilang sekitar empat bulan ini, Pak Kyai. Namanya, Malikiya Mawar Saruman bin Mahendra Ruman Sawiji.


Mawar menghilang pada saat keluar rumah ketika adzan Maghrib berkumandang."


"Kami sudah melapor kepada pihak yang berwajib, namun sampai sekarang tidak ada hasil. Bahkan polisi sendiri tidak dapat melacak keberadaan, Mawar. Kami juga sudah bertanya ke seluruh teman-teman, Mawar. Namun tidak ada yang tau juga. Jika Pak Kyai tidak sibuk, dan berkenan, kami mengharap kedatangan, Pak Kyai ke kota K, untuk membantu kami. Sekian dan terimakasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabbarakatuh."


"Bismillah, semoga Pak Kyai bisa datang kesini yah," kata Wulan.


"Amiiiiin." Jawab Adam dan Marsel bersamaan.


"Biarpun tidak bisa datang, asal bisa membantu saja, kita harus bersyukur, Sel." Kata Wulan.


"Itu pasti, Lan. Semoga, Pak Kyai segera memberi kabar begitu baca pesan yang kamu kirim ya, Lan!"


"Amin, Sel."


Mereka bertiga kemudian termenung. Dalam hati mereka masing-masing berharap agar Mawar bisa segera kembali dengan keadaan yang sehat wal'afiat tanpa kurang suatu apapun.


Selesai sholat 'isya, Umi Fatma berniat ingin mengutarakan keinginannya kembali soal mencari Mira melalui orang pintar.


Abi Ilham tengah memandang hapenya, sambil menikmati cemilan dan teh hangat yang disediakan Umi Fatma untuknya.


Umi Fatma datang dari dapur sambil membawa teh hangat untuk dirinya sendiri, dan duduk di sebelah suaminya.


"Abi, Abi sedang apa? Kayaknya sibuk bener!" Tanya Umi Fatma kemudian menyruput teh hangatnya.

__ADS_1


"Iya, lagi balas chat teman saja, Umi."


"Ooh," jawab Umi Fatma sambil manggut-manggut. Umi Fatma ingin mengutarakan keinginannya, dia mengatur nafasnya terlebih dahulu. Jantungnya terasa berdebar.


"Abi, Umi mau bicara soal, Mira." Kata Umi Fatma menggantung kalimat.


Abi Ilham kemudian meletakan ponselnya di meja, dan berganti menatap wajah istrinya. Umi Fatma semakin berdebar ketika melihat dua mata suaminya.


"Ada apa, Umi?" Tanya Abi datar.


Umi Fatma kemudian menaruh tehnya diatas meja.


"Abi, kemaren, Umi bertemu dengan seseorang, namanya, Wulan. Umi tidak sengaja bertemu dengannya. Kami mengobrol panjang. Dan, Nak Wulan ini bercerita tentang sahabatnya, yang sudah hilang selama empat bulan ini, Abi,"


"Lalu?" tanya Abi Ilham menyimak dengan serius.


Umi Fatma menghela nafasnya, membuat Abi Ilham memicingkan matanya.


"Kenapa, Umi mengehela nafas? Apa ada sesuatu yang membuat, Umi tertekan?"


"Oh, tidak, Bi. Emm, begini, Bi. Teman, Nak Wulan yang bernama, Mawar itu katanya keselong, Bi. Abi tau keselong?"


"Tidak, apa itu, Mi?" Tanya Abi sambil mengelus janggutnya yang berjenggot tipis.


"Keselong, katanya disesatkan, Bi. Misalnya, Abi ingin pulang dari masjid ke rumah, jalan antara masjid ke rumah kita kan tinggal lurus saja karena Abi di selongkan, jadi jalan Abi itu berbelok, bukanya lurus. Tapi yang, Abi tau, Abi jalannya tetap lurus."


"Jadi, maksud kamu apa? Mira di selongkan?" Tanya Abi Ilham, yang rupanya sudah tau maksud dari perkataan istrinya.


Mendengar jawaban suaminya, Umi Fatma kemudian menunduk. Dia tampak takut untuk menatap ke dua mata suaminya yang terlihat dingin.


"Umi, sudahlah, Umi jangan membanding-bandingkan cerita orang dengan Mira. Kita hanya cukup berdo'a saja, meminta pertolongan kepada Alloh. Abi tau maksud, Umi. Umi pasti ingin menyarankan ke orang pintar lagi, kan?"


"Tapi, Abi, orang pintar ini bukan lah dukun seperti yang Abi pikirkan, Insya Alloh tidak musyrik, Bi."


"Darimana kamu tau itu tidak musyrik! Meminta sesuatu selain kepada, Alloh, itu syirik namanya. Musyrik, Mi. Abi heran dengan Umi. Semakin ke sini, iman Umi semakin goyah. Umi perlu meningkatkan lagi ibadahnya, Umi. Umi lebih baik pergi mengaji lagi. Ingat ya, Umi, Abi tidak akan pernah setuju dengan cara, Umi untuk meminta bantuan orang pintar." Abi Ilham terlihat marah, kemudian meninggalkan istrinya.


"Abiii, Umi belum selesai bicara." Teriak Umi Fatma dengan keputus asaan.


Umi Fatma menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Kemudian mengusapnya.


"Ya, Alloh, hamba hanya menyembahMu, dan percaya padaMu. Hamba hanya berikhtiar lewat jalan ini. Apakah, hamba salah, ya Alloh?"


Umi Fatma menangis, dia merasa sedih karena suaminya marah, dan tidak setuju dengan usulnya. Bahkan, Umi Fatma belum selesai menjelaskan, tetapi Abi Ilham sudah bisa menduga arah pembicaraannya dan langsung menolak keinginannya mentah-mentah.

__ADS_1


__ADS_2