Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
55. Pak Ruman Berubah Wujud


__ADS_3

Ruman menunggu dokter di teras, sambil melirik jam tangannya, hapenya kembali berdering. Ruman segera mengambilnya dari saku.


"Hallo, Jun!" jawab Ruman.


"Hallo, Pak! Mamat Alhamdulillah sudah sadar," kata Juned dari seberang sana.


"Alhamdulillah, terus, sudah diperiksa dokter lagi, belum?"


"Sudah tadi, Alhamdulillah semuanya normal, Pak!"


"Syukurlah, lalu, kapan bisa keluar dari sana?"


"Besok kata dokter,"


"Kalo begitu, besok langsung ke rumah saya saja yah, saya akan berikan bayaran buat kalian,"


"Baik, Pak! Terimakasih,"


"Mohon maaf yah, saya tidak bisa ke sana lagi, saya ada urusan di rumah. Semua administrasinya sudah saya bayar, Jun, kamu jangan khawatir ya,"


"Iya, Pak! Terimakasih lagi, asalamu'alaikum," jawab Juned merasa senang, tujuannya memang untuk menanyakan pembayaran Mamat.


"Wa'alaikumsalam," ucap Ruman kemudian mengakhiri percakapan.


Berbarengan dengan terputusnya telepon Juned, dokter datang sambil menenteng tas berwarna hitam.


"Dokter, mari saya antar," ucap Ruman mempersilahkan masuk dan berjalan beriringan menuju kamar Bi Minah.


Baru saja menginjakkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang tamu, sebuah suara memanggil nama Pak Ruman.


"Pak Ruman! Pak!"


Pak Ruman kemudian berbalik, dan langsung tercengang. Ruman kemudian menengok ke arah samping, tidak ada siapa-siapa di sebelahnya.


Dokter kemudian berlari menghampiri Ruman yang tengah berdiri mematung.


"Pak Ruman, saya panggil dari tadi, tidak dengar ya?" tanya Dokter.


Ruman masih kaget, ia mengucek kedua matanya. Dokter menepuk pundak Ruman.


"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Dokter.


"I-ya, ya, saya baik-baik saja, mari, dok, saya antar," ucap Ruman.


Dokter tersenyum kemudian mengikuti langkah Ruman.


"Aneh, apa aku salah liat atau bagaimana? Jelas-jelas tadi, dokter sudah bersamaku, tapi koq," Ruman berkata dalam hatinya.


"Dimana kamarnya, pak?" tanya dokter.


"Ada di belakang, Dok!" jawab Ruman.


"Oh," jawab dokter menganggukan kepalanya.


Mereka kemudian melewati dapur, dokter mengangguk dan tersenyum ke sudut dapur. Lalu berjalan ke kamar Bi Minah.


Kriet


Pintu terbuka, Dokter dan Ruman masuk ke dalam. Dokter sedikit kaget. Ia berdiri mematung di pintu melihat Bi Minah.


"Loh, bukanya, wanita itu tadi sedang berdiri di dapur, lagi masak," kata Dokter dalam hatinya.


"Dokter, yang sakit Bi Minah, pembantu saya. Tiba-tiba saja, bibi demam," ucap Ruman.


"Oh, iya, iya, saya akan coba periksa," terang dokter dengan sedikit gugup.

__ADS_1


Dengan langkah sedikit ragu, dokter berjalan mendekati Minah, dan memeriksanya.


Setelah mengecek tensi, dan memeriksa jantungnya, dokter kemudian menuliskan resep untuk ditebus.


"Darahnya tinggi, Pak! Terus, kayaknya asisten anda shock, untung saja, itu tidak berpengaruh kepada jantungnya ... Ini resep obatnya, tolong segera dibeli ya," ucap dokter sambil menyerahkan secarik kertas.


"Iya, terimakasih, Dok!" ucap Ruman sambil mengamati tulisan yang ia sendiri tak dapat membacanya.


"Kalo tidak ada perubahan, bawa ke rumah sakit segera ... Saya permisi dulu ya," ucap dokter sambil tersenyum.


"Baik, Dok. Mari saya antar," ucap Ruman kemudian berjalan keluar bersama Dokter.


Disela-sela menuju keluar, dokter menanyakan sesuatu kepada Ruman.


"Pak kalo boleh tau, anda punya asisten berapa?"


"Hanya satu, Bi Minah saja, ada apa, Dok?"


"Ah, tidak apa-apa, saya pikir, ada dua orang," jawab dokter diiringi senyuman.


***


Mamat akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, setelah dua hari di rawat. Juned, Bambang, dan Mamat, pergi ke rumah pak Ruman berbarengan dengan menaiki ojek.


Satu jam kemudian, mereka sampai di rumah pak Ruman. Setelah membayar ojek tersebut, mereka tidak langsung masuk. Selain posisi pagar yang masih di tutup, mereka juga tengah memandangi truk yang masih berjajar rapih di sana, beserta perahu di dalamnya.


"Habis dari sini, kita harus mengembalikan ini ke kantor, Jun, betapa capeknya," ujar Mamat sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalo kamu belum fit, kamu kembalikan kapan-kapan saja, jika kamu sudah merasa enakan, Mat," tutur Juned sambil menepuk bahu Mamat.


"Tapi aku gak enak sama, pak Ruman, Jun!" jawab Mamat menunduk lesu.


"Ya sudah, nanti biar aku saja yang bawa truknya, aku balik dua kali tak masalah," jawab Bambang.


"Yang benar, Bang?" tanya Mamat.


"Memangnya, kamu tidak capek?" tanya Juned.


"Capek pasti, tapi, aku masih bujangan. Tidak ada yang menanti kepulangan ku. Sementara, aku ini anak kost-kostan, jadi, aku masih bebas," jawab Bambang sambil melirik kedua temannya bergantian.


"Terimakasih, Mbang," ucap Mamat kemudian memeluk Bambang.


"Sama-sama, Mat!" jawab Bambang.


Mereka kemudian memandang rumah Ruman dari balik pagar besi. Disana, tampak Mawar sedang menyapu.


"Jun, kamu pencet belnya saja, supaya kita bisa masuk," ucap Mamat.


Juned mengangguk dan melakukan perintah Mamat. Bel sudah di pencet, tapi Mawar tak kunjung membukakan pintu. Juned menekan bel sekali lagi.


"Aneh, apa Mbak Mawar tidak dengar ya?" tanya Juned.


"Coba sekali lagi, Jun!" terang Bambang.


Saat ingin menekan bel lagi, suara klakson mobil terdengar dari belakang mereka. Rupanya, Ruman dan keluarganya baru saja pulang mengantarkan Bi Minah ke rumah sakit.


"Mamat, sudah sehat?" tanya Ruman dari dalam mobil.


"Sudah, pak!" jawab Mamat diiringi senyuman.


Mamat sedikit kaget ketika ia menunduk dan melihat ada wanita tua dengan rambut putih duduk di belakang Ruman. Tapi, Mamat menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu.


"Syukurlah, eh, ayo langsung buka saja pagarnya, tidak ada orang di rumah, pagarnya tidak kami kunci," ucap Saras menimpali dari sebelah Ruman.


Mendengar kalimat Saras, mereka bertiga saling berpandangan, bukankah tadi jelas-jelas ada Mawar yang tengah menyapu di sana.

__ADS_1


Juned segera membuka pagar, dan mobil pun bisa masuk ke halaman. Juned dan teman-temannya mengekor di belakang.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Saras, dan Ruman turun dari mobil. Wanita tua itu ikut turun dari mobil.


Mamat tidak berani bertanya, siapa wanita tua tesebut. Yang jelas, Ruman dan Saras tidak mempersilahkan wanita tua itu dengan ramah. Terkesan seperti di acuhkan.


"Mari, masuk ke dalam," ujar Ruman kepada para anak buahnya.


Mereka semua kemudian masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara, Saras membuatkan minuman di dapur.


"Kalian sudah lama?" tanya Ruman.


"Ah, baru saja koq," jawab Juned.


"Ngomong-ngomong, bapak dari mana?" tanya Mamat.


"Dari rumah sakit, pembantu saya sakit, harus di rawat. Jadi, saya antarkan ke sana," jawab Ruman.


"Oh, lalu, anak bapak! Apakah di rumah?" tanya Mamat lagi.


"Dia menemani pembantu saya, sembari menunggu anaknya pembantu saya, datang ke sini," jawab Ruman diiringi senyuman.


Mamat dan teman-temannya, tertegun saling berpandangan lagi. Jika, Mawar berada di rumah sakit, lalu, siapa orang yang tengah menyapu tadi? Mereka saling berkutat dengan pikiran masing-masing.


Tak berapa lama, Saras datang dengan membawa minuman, dan menyajikannya di atas meja.


"Silahkan di minum, mumpung masih anget, tehnya," tutur Saras.


"Terimakasih, Bu!" jawab Juned.


"Saya tinggal ke belakang ya, mau beres-beres," ucap Saras diiringi senyuman.


Mereka bertiga mengangguk dan tersenyum.


Kemudian mengambil cangkir teh masing-masing.


Saat ingin meminumnya, mereka tersentak kaget. Hampir saja menjatuhkan cangkir yang mereka pegang.


Nafas mereka menderu ketika melihat isi cangkir itu. Sebuah cairan berwarna merah dan berbau amis. Mamat dan teman-temannya saling pandang, kemudian meletakkan kembali cangkir tersebut ke meja.


Mamat menahan mual, meskipun perutnya sudah bergejolak ingin mengeluarkan isi dalam perutnya.


Ruman tampak merasa aneh atas sikap anak buahnya.


"Ada apa? Kenapa kalian tidak jadi minum?" tanya Ruman.


"Eh, maaf pak! Coba, bapak lihat sendiri minuman bapak," ucap Juned dengan hati-hati karena tidak mau menyinggung pak Ruman.


"Memangnya ada apa dengan minuman kalian?" tanya Ruman sambil mengambil secangkir teh miliknya.


Ruman mengambil tehnya, dan melihat isinya. "Isinya teh, masih hangat," ujar Pak Ruman dengan tatapan menyelidik.


Mamat dan teman-temannya saling berpandangan lagi. Mereka bertiga kemudian kembali melihat isi cangkir tersebut. Isinya masih sama, darah.


Mamat dan kedua temannya tersenyum ke arah pak Ruman mereka tidak mau membuat pak Ruman marah.


"Ayo, silahkan di minum," ucap Ruman sambil menyruput tehnya.


Mamat dan teman-temannya merasa bingung. Di satu sisi, mereka tidak mau mengecewakan Ruman selaku tuan rumah dan juga bos mereka. Tapi tidak mungkin juga mereka minum darah.


"Kenapa kalian tidak ikut minum!" ucap Ruman dengan berang.


Mata Ruman mendadak berubah menjadi putih, suaranya berubah besar. Rambutnya memutih. Mamat dan teman-temannya terbelalak dan ketakutan. Mereka berdiri dan saling meremas tas masing-masing yang sedari tadi mereka gendong di depan.


Keringat mulai mengalir di dahi mereka. Ruman perlahan mendekat dan tersenyum menyeringai memperlihatkan giginya yang hitam dan runcing.

__ADS_1


__ADS_2