Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
52. Mawar Di Pohon Mangga


__ADS_3

Jiwa Pak Kyai kembali menyatu dengan raganya. Ia tampak ngos-ngosan, dengan jubahnya yang sudah basah kuyup.


"Pak Kyai," ucap Dimas, kemudian membantu Pak Kyai untuk berdiri.


Adam kemudian datang dengan membawa bingkisan yang berisi beberapa baju dan celana Koko.


"Mas Aziz, ini buat ganti Pak Kyai," tutur Adam.


"Terimakasih, Mas," jawab Aziz sambil menerima bingkisan tersebut.


Tak berapa lama, perahu yang di dikendarai Kang Ridwan sampai di daratan. Adam dan Ruman segera berlari ke arah perahu untuk membantu mereka.


"Tolong segera telepon ambulans dan tenaga medis," ucap Kang Ridwan dengan gugup.


Pak Ruman segera mengambil hapenya dan menghubungi ambulans terdekat. Tubuh Mamat di bopong ke tepi di pinggir rumah pemilik perahu.


Pemilik perahu yang memang tengah menanti kedatangan Juned dan rombongan, segera ikut menghambur ke dalam rombongan, dan ikut membantu.


Tak berapa lama, ambulans datang dan segera membaringkan tubuh Mamat di troli brankar, dan memasukannya ke dalam mobil ambulans.


Rombongan kemudian ramai-ramai ikut mengiring Mamat ke rumah sakit terdekat. Pak Kyai kemudian memutuskan untuk berganti di dalam mobil.


Bunyi serene ambulans terdengar di tengah malam yang sunyi. Membuat semua orang disekitar pantai keluar karena penasaran.


"Ada apa ya?" bisik-bisik warga.


"Ada orang yang tenggelam katanya," jawab salah satu warga.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Mamat segera dibawa ke ruang ICU dan ditangani dokter.


Ruman mengurus semua pendaftaran dan biaya untuk pengobatan Mamat.


Mereka berkumpul di ruang tunggu dengan harap-harap cemas.


Dokter mengecek denyut nadi dan jantung Mamat. Dokter segera memasang alat pacu jantung.


Setelah tiga puluh menit penanganan, tubuh Mamat memberikan reaksi, detak jantungnya terlihat di monitor.


Dokter dan perawat menghela nafas lega.


"Alhamdulillah, pasien masih bisa di selamatkan," tutur Pak Dokter yang berjaga malam itu.


Perawat kemudian memasang infus untuk asupan makanan Mamat. Sedangkan dokter keluar untuk menemui rombongan yang tengah menunggu Mamat di luar.

__ADS_1


"Pak dokter, bagaimana kondisi pasien?" tanya Ruman beranjak dari tempat duduknya.


"Alhamdulillah, atas izin Alloh, pasien selamat, Pak! Tapi, kondisinya masih kritis, berdo'a saja, semoga beliau segera sadar yah," ucap Pak Dokter.


"Alhamdulillah," ucap seluruh rombongan.


"Terimakasih, Pak dokter," ucap Ruman.


Pak dokter kemudian meninggalkan mereka.


"Bagaimana, Pak! Apakah kita perlu menghubungi istrinya, Mamat?" tanya Juned kepada Ruman.


"Em, sebaiknya jangan dulu, kita tunggu sampai Mamat sadar saja. Tadi kan kamu sudah bilang kalo Mamat masih ada tugas kan, sama istrinya?" tanya Ruman.


"Iya, Pak!" jawab Juned.


"Tunggu saja dulu, kalo sampai tiga hari, Mamat belum sadar, kamu segera hubungi istrinya. Tapi, semoga saja, tidak sampai tiga hari, Mamat sudah sadar," ucap Ruman.


"Amin," jawab Juned.


"Pak Ruman, mohon maaf sebelumnya, saya dan rombongan hanya bisa sampai di sini saja. Kami harus segera pulang, kurang lebihnya saya dan rombongan mengucapkan terimakasih," tutur Pak Kyai.


"Loh, nanti saja, Kyai! Sebaiknya kita kembali ke rumah saya dulu, jangan sekarang," ucap Pak Ruman sambil memegang tangan Pak Kyai.


"Iya, kita sebaiknya kembali ke rumah Pak Ruman dulu, kyai! Sekalian mengambil tongkat delima saya yang tertinggal," sambung Kang Ridwan.


"Baiklah kalo begitu, kita ke rumah Pak Ruman dulu," tutur Pak Kyai.


"Jun, Bang, kalian jaga di sini yah, kalo ada apa-apa segera hubungi saya," perintah Ruman kepada Bambang dan Juned.


"Baik, Pak!" jawab Juned.


Rombongan akhirnya kembali ke rumah Pak Ruman. Selain untuk mengambil tongkat, mereka juga sekalian berpamitan dengan orang-orang yang berada di rumah Pak Ruman.


Ruman menghubungi istrinya untuk menyiapkan bingkisan dan amplop untuk rombongan Pak Kyai.


"Iya, Bu. Suruh saja Minah, untuk mengambil bingkisan yang sudah bapak pesan di toko sebelah. Ini kan sudah jam empat, pasti sudah pada bangun ... Iya, minta temani, Marsel saja ... Bapak masih dalam perjalanan, sebentar lagi sampai di rumah ... Pokoknya, siapkan saja, oke ... Wa'alaikumsalam," Ruman mengakhiri percakapannya.


Bi Minah segera mengambil parsel yang berada di toko dekat dengan rumah Saras. Dengan di temani oleh Marsel.


"Memangnya, Pak Kyai, mau pulang hari ini juga, Mas Marsel?" tanya Bi Minah.


"Mungkin saja, Bi. Urusannya di sini kan sudah selesai," jawab Marsel sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

__ADS_1


Kabut tipis masih menyelimuti perjalanan mereka. Samar-samar, Marsel melihat sosok perempuan yang mirip dengan Mawar. Marsel sesekali berhenti dan mengucek matanya.


"Ada apa, Mas Marsel? Koq bolak balik berhenti, saya jadi ikut-ikutan nih," tutur Bi Minah.


"Ah, gak papa, Bi! saya cuman ...."


Marsel tidak melanjutkan kalimatnya ketika ia tiba-tiba melihat Mawar dengan sangat jelas, tengah berdiri di bawah pohon mangga yang ada di pinggir jalan. Marsel kemudian berlari ke arah Mawar.


"Mas Marsel, tungguin saya dong!" ucap Bi Minah yang kemudian ikut berlari menyusul Marsel yang sudah lebih dulu berlari meninggalkannya.


"Mawar, kamu koq ada di sini? Kamu lewat mana?" tanya Marsel kepada Mawar.


Mawar hanya tersenyum, tanpa membalas pertanyaan Marsel.


"Kamu koq pucet! Kamu sakit lagi?" tanya Marsel sambil mencoba mengelus pipi Mawar.


Mawar masih diam dan tersenyum merasakan belaian hangat dari Marsel.


Bi Minah berhenti ketika melihat gelagat aneh Marsel. Bulu kuduk Bi Minah meremang saat melihat Marsel yang tengah mengelus-elus pohon Mangga yang berdiri kokoh di pinggir jalan.


"Mas Marsel ngapain di sana? Koq pohon mangganya di elus-elus segala ... Ih, amit-amit jabang bayi, masa pohonnya di cium juga, wah tidak beres nih," Bi Minah tambah bergidik.


Bi Minah kemudian memutuskan untuk menghampiri Marsel yang masih bertingkah aneh. Dengan menguatkan tekad, Bi Minah menepuk punggung Marsel dari belakang.


Marsel terperanjat dan menengok ke belakang.


"Astagfirulloh! Bi Minah! Ada apa, Bi? Ngagetin saya saja," ucap Marsel sambil mengelus dadanya.


"Loh! Yang kaget justru saya, Mas! Mas Marsel ngapain di sini?" tanya Bi Minah dengan nada tinggi.


"Anu ...." Marsel menengok ke arah Mawar, "loh, koq ilang," ucap Marsel sambil menggaruk kepalanya.


"Apanya yang ilang, Mas!" ucap Bi Minah sambil menepuk bahu Marsel dengan keras.


"Aduh! Jangan kenceng-kenceng, Bi! Sakit!" ucap Marsel sambil mengelus pundaknya sendiri.


"Maaf, Mas! Habisnya, Mas Marsel bikin saya kesel dan bingung. Ya sudah, Mas, lebih baik kita segera ke toko buat ngambil parselnya," ucap Bi Minah.


"I-iya, iya, Bi, mari," ucap Marsel sedikit tergagap dan sesekali menengok ke arah pohon mangga.


"Kemana perginya, Mawar! Tadi jelas-jelas dia berdiri di situ, koq cepet banget ngilangnya," ucap Marsel dalam hatinya.


"Mas, jangan liat ke belakang terus dong! Memangnya ada apa sih, di pohon mangga itu?" tanya Bi Minah, yang diam-diam memperhatikan sikap Marsel.

__ADS_1


__ADS_2