Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
35. Sampai Di Jalan Buntu


__ADS_3

Jam menunjukan pukul delapan, setelah selesai sarapan, Marsel dan yang lainnya bercengkerama dengan Pak Kyai dan Kang Ridwan. Pak Kyai mulai mengutarakan niatnya.


"Begini, orangtua Mawar, dan juga teman-teman, Mawar. Kedatangan saya beserta Kang Ridwan, kami ingin memberitahu kepada kalian, terutama orangtua Mawar, bahwasannya, kami akan membuka jalan untuk kepulangan, Mawar!" ucap Pak Kyai.


"Iya, Pak kyai! Saya berterimakasih sekali atas bantuan anda, dan juga rekan-rekan sekalian. Jujur saja, saya sudah bingung harus berbuat apa lagi. Untung saja, berkat Nak Wulan, saya bisa mengenal Pak Kyai," ucap Ruman diiringi senyuman.


"Maaf, Pak Kyai, kalo boleh tau, anak saya sekarang berada di mana?" tanya Saras yang sudah penasaran, sedangkan yang lain hanya menyimak.


"Dia berada di rumah Ndoro Kusuma, Bu Saras!" jawab Pak Kyai.


Marsel cs saling berpandangan mendengar penuturan Pak Kyai.


"Ndoro Kusuma? Siapa dia, Pak Kyai!" tanya Saras kembali.


"Dulu, dia sama seperti kita, hanyalah manusia biasa, namun, karena semasa hidupnya ia disiksa, saat meninggal, ia bergentayangan, dan bersekutu dengan iblis. Kekuatannya sangat besar, ia mampu berubah seperti yang dia mau. Apalagi setelah mencuri pusaka Naga Emas milik Raden K," terang Pak Kyai.


Saras, Ruman, dan Marsel cs saling memandang, dan mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Pak Kyai.


"Jahatkah dia, Pak Kyai!" tanya Saras kembali.


"Kalo dia baik, mana mungkin dia menangkap Mawar!" jawab Pak Kyai diiringi senyuman.


"Begini, Bu Saras, Pak Ruman, kedatangan kami ini sangat buru-buru, mengingat Pak Kyai yang sudah berhasil menghancurkan ajudan Ndoro Kusuma, yang bernama Burhan itu. Kami takut terjadi sesuatu pada Mawar, jika terlalu lama mengulur waktu. Untuk itu, setelah ini, kita bergegas menuju selatan. Saya akan membuka jalan di sana. Tolong siapkan peralatan untuk membabad semak belukar, dan juga perahu!" tutur Kang Ridwan untuk mengakhiri basa-basi.


Saras yang mendengarnya merasa shock. Ia memegangi dadanya.


"Memangnya, jalan mana yang Kang Ridwan maksud?" tanya Ruman.


"Jalan itu masuk kawasan pabrik, Pak! Lurus ke selatan mentok," jawab Kang Ridwan.


"Loh! Itu kan jalan buntu di sana, Kang!" jawab Marsel kaget.

__ADS_1


Marsel dan Adam saling memandang satu sama lain. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Kang Ridwan dan Pak Kyai, mampu membuat mereka merinding.


"Iya, memang jalan buntu!" jawab Kang Ridwan sambil tersenyum.


"Kalo jalan buntu biasanya mentok, udah gak bisa di lewatin, Kang!" lanjut Adam.


"Maka dari itu, saya perlu alat. Kalian juga nanti akan membantu saya, kalo boleh saya minta disiapkan dari sekarang peralatannya, Pak Ruman. Dan jangan lupa perahunya,"


"Maaf, Kang! Perahu–nya untuk apa yah!" tanya Wulan yang sedari tadi diam.


"Untuk menyebrang, mengangkut motor Mawar, dan juga dirinya nanti," jawab Kang Ridwan enteng.


Marsel cs merasa heran dan tidak paham apa yang dikatakan oleh Kang Ridwan. Mereka menggaruk kepalanya masing-masing. Meskipun banyak rasa penasaran yang berkecamuk di hati mereka, mereka memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi, karena mereka merasa tidak enak.


"Mohon maaf yah, saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Nanti saja kalo urusannya sudah beres, kalian bisa tanyakan sama Pak Kyai," ucap Kang Ridwan.


"Iya, Kang! Mohon maaf, karena kami orang awam, jadi banyak bertanya," jawab Wulan.


Ia tak lupa menyiapkan perkakas untuk membabad semak belukar maupun pepohonan.


Sekitar satu jam kemudian, peralatan yang dibutuhkan Kang Ridwan telah lengkap, dan sudah sampai di rumah Ruman.


"Pak, pesan tiga perahu untuk apa! Terus ini sebenarnya mau diantar kemana?" tanya salah satu supir truk yang mengangkut perahu.


"Kalian tidak usah banyak tanya, nanti ikuti kami dari belakang saja yah! Ngomong-ngomong, kalian sudah pada makan belum?" tanya Ruman.


"Sudah, Pak!" jawab sopir truk.


Para sopir truk tersebut merupakan anak buah Ruman di kantor, yang biasa bertugas mengirim barang antar kota.


"Kalo begitu, kami akan siap-siap dahulu," jawab Ruman, kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Pak Kyai, semuanya sudah siap, kita bisa berangkat sekarang!" ucap Ruman.


"Iya, sisanya akan saya jelaskan nanti di sana!"


Rombongan akhirnya berangkat menuju ke arah selatan. Beberapa warga yang penasaran berjejer di pinggir jalan untuk melihat rombongan Ruman. Yang membuat mencolok adalah perahu yang dibawa menggunakan truk tersebut. Para warga bertanya-tanya.


"Pak Ruman mau kemana ya? Koq bawa perahu segala!" tanya salah satu warga pada warga yang lain.


"Entahlah, nanti saja kita tanyakan, atau kalo mau ikuti saja!" kata salah satu warga lagi.


"Kita tunggu di sini saja, nanti kalo sudah sampai di rumah, kita langsung tanyakan apa yang terjadi," jawab warga lagi.


***


Marsel cs satu mobil dengan Ruman dan Saras.


Wulan menggenggam tangan Saras dengan kencang.


"Tante, tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan lagi. Tante harus kuat yah, jangan sampai pingsan lagi," ucap Wulan diiringi senyuman.


"Insya Alloh tidak," jawab Saras sambil tersenyum juga.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di jalan buntu yang di maksud.


Adam dan Marsel yang sudah mengenal kawasan merasa merinding.


"Dam, aku pernah dulu kesasar sampe sini waktu sama Mawar. Waktu itu aku pulang kerja dijemput sama Mawar, kita iseng muter-muter kawasan, eh sampai di jalan ini," ucap Marsel berbisik di telinga Adam.


"Berarti sebelumnya, Mawar sudah diincar, Sel!" jawab Adam berbisik juga.


"Heh, ngomongin apaan sih! Koa bisik-bisik segala!" tanya Wulan sambil menepuk pundak Adam dan Marsel.

__ADS_1


"Gak papa! Ya sudah ayo turun," kata Adam kemudian turun terlebih dahulu.


__ADS_2