
Marsel membenarkan posisi duduknya. Ia menghela nafas sekali lagi, mengatur ritme nafasnya agar kembali normal.
"Pak sopir, kalian sudah bisa melewati jalan itu, Kang Ridwan menunggu perahu-perahu itu," tutur Marsel.
"Hah! Apa tidak apa-apa, Mas? Koq saya jadi deg-degan!" ucap salah satu sopir truk.
"Insya Alloh tidak apa-apa, Pak! Saya sudah mengujinya, kalian akan aman sampai di tempat Kang Ridwan berada," ucap Marsel kembali.
"Adam masih di sana juga kan, Sel?" tanya Wulan merasa khawatir.
"Tentu saja," jawab Marsel.
"Memangnya apa yang terjadi, Nak Marsel?" tanya Saras.
"Nanti saja jika sudah beres, kita bisa berbincang dengan aso, kalian jika ingin pergi, pergilah! Saya akan di sini menemani, Pak Kyai," kata Marsel menatap semua orang di sana satu per satu.
Wulan mengangguk, mereka bertiga kemudian ikut dengan sopir truk menuju Kang Ridwan.
Dengan perasaan was-was tentunya, karena mereka akan menembus jalan yang belum pernah dilalui sebelumnya.
Sopir truk merasa tidak yakin dengan hal ini, namun, karena dibayar, mereka terpaksa melakukannya.
"Hey, tunggu dulu!" teriak Marsel sambil melambai di depan truk paling depan.
"Ada apa lagi, Sel?" tanya Wulan yang kebetulan duduk dengan sopir pertama.
"Jika kalian melihat sesuatu, atau mendengar sesuatu, terus saja berjalan, tidak usah berhenti, yah!" teriak Marsel.
Wulan mengangguk tanda mengerti. Marsel memberi sopir kedua dan juga ketiga. Saras dan Ruman tampaknya sudah paham juga.
Rombongan truk pengangkut perahu mulai berjalan meninggalkan jalan semula. Marsel menatap kepergian truk tersebut sampai hilang.
"Semoga mereka semua selamat, berhasil membawa Mawar kembali," ucap Marsel dalam hatinya.
Marsel kemudian duduk di depan Pak Kyai, ia memperhatikan raut wajah Pak Kyai. Marsel berjaga, takut jika terjadi sesuatu dengan Pak Kyai.
***
Pak sopir merasa ada yang aneh, ia menambah kecepatan, tapi tetap saja, truk yang dibawanya terasa sangat pelan.
Keringat sudah mulai membasahi peluh sang sopir.
__ADS_1
"Apa tidak bisa ditambah lagi, kecepatannya, Pak!" tanya Wulan melirik sang Sopir.
"Lihat saja speedometernya, Mbak! Harusnya, kecepatannya bisa bertambah, tapi ini gak bisa!" jawab Pak Sopir.
Wulan terdiam ketika melihat speedmeter diangka 80, tapi laju truk tersebut seperti tidak ada kecepatannya sama sekali.
"Tidak apa-apa jika laju truk kalian pelan, diamlah! Jangan banyak bicara. Truk kalian diangkut oleh seekor ular besar, makanya berjalan pelan. Mengikuti sesuai gerak tubuh ular tersebut,"
Wulan, Ruman, dan Saras kaget ketika mendengar suara misterius itu.
Mereka bertiga memang merasakan hal yang tak wajar, di dalam truk masing-masing, mendengar suara asing tersebut, jantung mereka kembali berdetak lebih kencang. Mereka memilih diam setelah suara asing tersebut hilang.
Sedangkan sopir truk yang tidak mendengar suara misterius itu, tubuhnya bergetar menahan takut, dada mereka terasa sesak. Sang sopir bisa merasakan jalan yang begitu licin, ban terasa selip bolak balik. Mereka terus berdo'a di dalam hati masing-masing.
***
Mawar masih mencari sosok Mira, dari kejauhan, Mira terlihat berjalan ke arahnya dengan langkah gontai, wajahnya sudah terlihat pucat, darah yang berada di kepala dan tubuhnya sudah mengering.
Mawar segera berlari menghampiri Mira, tanpa diketahui oleh dayang-dayang Ndoro Kusuma. Mawar menarik tangan Mira, untuk segera masuk ke dalam barisan.
"Mir, kamu tidak apa-apa?" tanya Mawar lirih.
"Tidak apa-apa, War! Aku hanya sudah lelah," jawab Mira diiringi senyuman.
"Lalu setelah itu!"
"Setelah pusaka itu berhasil kita dapatkan, kita terus berlari ke belakang panggung, dan masuk ke dalam hutan,"
"Baiklah, sebentar lagi, Ndoro Kusuma akan keluar untuk menari, kita bisa langsung berlari ke dalam rumah," ucap Mira yang tiba-tiba energinya kembali penuh, mungkin karena semangat akan keluar dari tempat yang menyiksanya.
Suara gamelan semakin riuh, lalu Ndoro Kusuma keluar dengan pakaian penarinya.
Ia mulai menari dengan lihai. Gadis yang berkumpul di sana ikut menari.
"Sekarang, Mir!" ucap Mawar, yang dibalas anggukan oleh Mira.
Mira dan Mawar berlari masuk ke dalam rumah Ndoro Kusuma. Tidak ada dayang di sana, yang ada hanyalah Barong-Barong yang tertempel di dinding. Mata mereka mengikuti langkah Mawar dan Mira.
"Kalian mau apa!" salah satu Barong bersuara.
Mira dan Mawar kaget, namun, mereka segera mengabaikan suara Barong tersebut yang terdengar seperti anak kecil.
__ADS_1
"Itu, Mir, kita harus mengambilnya," ucap Mawar dengan gugup.
"Bagaiman caranya, War? Benda itu terlalu tinggi,"
"Bagaimana kalo kau berdiri di pundaku, jaraknya akan sampai," usul Mawar.
"Ah, tidak! Sebaiknya kamu saja yang berdiri di pundaku, ayo cepat!"
Mira segera berjongkok di singgasana Ndoro Kusuma, sedangkan Mawar bersiap untuk berdiri di kedua pundak Mira. Mira mengerahkan seluruh tenaganya, ia berdiri perlahan. Mawar merasa deg-degan ketika Pusaka itu hampir saja diraihnya.
"Jangan ambil pusaka itu, jangan ambil," ucap Barong.
"Ibu, pusakamu dicuri, ibu, pusakamu dicuri!" ucap Barong yang lain.
"War, cepatlah ambil, sebelum Ndoro Kusuma sadar dan datang kemari," ucap Mira.
Mawar kemudian dapat meraih Puasaka Naga tersebut, ia segera mengalungkan pusaka itu di badannya. Ternyata, ada tali di sana, sehingga ia dengan mudah membawanya.
"Sudah, Mir! Segera turunkan aku!" ucap Mawar.
Mawar dan Mira kemudian turun dari singgasana Ndoro Kusuma, mereka lalu berlari menuju pintu, namun, belum sampai meraih pintu tersebut, Burhan datang menyeringai.
"Awas, Mir," Mawar menarik tangan Mira, ketika Burhan akan mencengkeramnya.
"Ayo, kita lari lewat pintu mana saja, yang belum pernah kita coba sebelumnya," teriak Mira.
Mira sekarang memimpin Mawar, mereka berlari tanpa berhenti.
"Kembalikan pusakaku, gadis bodoh! Kalian sudah lancang mencur di rumahku!" ucap Ndoro Kusuma dengan berang.
Mira dan Mawar memasuki pintu yang terdapat lebih banyak barong. Suara anak-anak terdengar lebih berisik menyuraki Mawar dan Mira.
"Hayo, kalian bakal tertangkap,"
"Kalian pasti mati,"
"Hahaha, hayo mau lari kemana kalian, hayo,"
Mira dan Mawar tidak menggubris celotehan suara tersebut, mereka terus berlari menabrak apapun. Sampai akhirnya mereka bisa keluar dari dalam sana.
Mereka tiba di belakang panggung, dan kemudian terus berlari masuk ke dalam hutan, para dayang Ndoro Kusuma berbondong-bondong mengejar Mawar dan Mira. Tubuh Ndoro Kusuma melayang ikut mengejar mereka berdua.
__ADS_1
"Tangkap mereka berdua, bunuh mereka!" teriak Ndoro Kusuma dengan suara menggelegar seperti petir menyambar.