
Disisi lain, Wulan dan teman-temannya sudah selesai menunaikan sholat isya juga.
Wulan mengajak Adam dan Marsel untuk tetap di mushola sebentar.
"Tunggu di sini dulu, Mas, Sel! Aku mau menghubungi Pak Kyai dulu,"
Adam dan Marsel menganggukan kepalanya. Mereka duduk di teras mushola.
Wulan mulai menekan nomor Pak Kyai dan menelponnya. Baru satu kali panggilan, telepon Wulan sudah di jawab.
"Assalamu'alaikum," jawab Dimas dari seberang.
"Wa'alaikumsalam, mohon maaf, Pak Kyai ada?" tanya Wulan.
Tanpa menjawab, Dimas segera memberikan teleponnya kepada Pak Kyai yang duduk di belakang bersama Kang Ridwan. Kebetulan, mereka sudah berada dalam perjalanan.
"Pak Kyai, telepon dari mbak Wulan," kata Dimas sambil menyerahkan hape tersebut.
Pak Kyai menganggukan kepalanya dan mulai mengobrol dengan Wulan.
"Assalamu'alaikum, Nak Wulan!" sapa Pak Kyai.
"Wa'alaikumsalam, Pak Kyai, saya mohon maaf karena tadi siang hingga sore tidak bisa menjawab telepon dari njenengan," kata Wulan merasa tidak enak.
"Oh, tidak apa-apa, Nak Wulan, saya maklumi. Begini, saya sekarang ada dalam perjalanan menuju kota mu, nanti saya langsung menuju ke alamat Mawar, yang pernah kamu berikan dulu,"
"Masya Alloh, benar, Pak Kyai? Kenapa mendadak sekali memberi kabar, kebetulan saya juga sedang berada di rumah, Mawar. Saya akan memberitahukan orang rumah kalo begitu," Wulan tampak bahagia mendengar kabar dari Pak Kyai.
"Iya, silahkan! Nak Wulan,"
"Baiklah kalo begitu, Pak Kyai. Kalo sudah dekat kabari saja,"
__ADS_1
"Insya Alloh. Jangan lupa berdo'a untuk Mawar yah, kalo begitu saya tutup dulu teleponnya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," Wulan mengakhiri panggilan tersebut.
Senyum mengembang tak pernah lepas dari wajah Wulan, yang mendengar kabar bahwa Pak Kyai sedang dalam perjalanan menuju kota yang sekarang ia singgahi.
"Gimana, Nduk! Ada kabar bahagia apa?" tanya Adam sambil merapatkan duduknya.
"Beliau sedang dalam perjalanan kemari, Mas!" jawab Wulan sumringah.
"Alhamdulillah, semoga Mawar segera ditemukan. Ngomong-ngomong, Mas laper nih, kita cari makan di luar yuk! Belum makan dari ashar, Nduk!" Adam memasang wajah masam dan memegang perutnya yang dari tadi keroncongan.
"Aduh, kasian banget, maaf ya, Mas!" ucap Wulan dengan ekspresi bersalahnya. "Eh, Marsel mana?"
Adam dan Wulan menyadari Marsel tidak ada di samping mereka. Kemudian mereka berdiri dan celingukan mencari keberadaan Marsel.
"Sel, Marsel!" teriak Adam.
"Sel, kamu ngapain di situ? Kita mau cari makan, kamu ikut gak?" teriak Wulan.
Adam kemudian menghampiri Wulan. "Mana si Marsel?"
"Itu!" tunjuk Wulan ke arah Marsel yang berdiri menghadap ke atas pohon mangga.
"Sel, kamu ngapain di situ?" teriak Adam.
Adam dan Wulan saling berpandangan, karena Marsel tidak menggubris panggilan mereka.
"Ayo samperin dia, Nduk!"
Adam dan Wulan menghampiri Marsel perlahan.
__ADS_1
Ditatapnya Marsel oleh mereka berdua, Wulan dan Adam mengikuti arah mata Marsel melihat.
"Kamu lihat apa sih, Sel!" tanya Wulan yang tidak melihat apa-apa di pohon mangga tersebut.
"Iya, aku juga gak lihat apa-apa ... Sel!" Adam menepuk pundak Marsel dengan kencang.
Marsel segera sadar ketika Adam menepuk bahunya dengan sangat keras. Ia sampai merasa panas akibat tepukan itu.
"Aw! Sakit, Dam!" kata Marsel sambil mengusap-usap pundaknya.
"Makanya jangan ngelamun! Aku sama Wulan manggilin kamu dari tadi, tapi kamu gak ngrespon! Memangnya ada apa di pohon Mangga itu?" tanya Adam dengan melipat tangannya di dada.
Marsel mengucek matanya, kemudian memandang ke atas pohon mangga kembali.
Marsel membelalakan matanya agar dapat melihat dengan jelas. Namun, hasil pandangannya masih sama, tidak ada apa-apa.
"Woy, ada apa sih!" tanya Adam kembali memukul pundak sebelah kiri Marsel.
Kini kedua pundak Marsel merasakan panas kembali, akibat tepukan Adam yang keras.
"Aduhhh! Sakit, Dam! Kamu bisa pelan gak sih!"
"Maaf, maaf, aku sengaja, Sel! Hehehe!" Jawab Adam sambil menggaruk kepalanya.
Belum sempat menjawab, Bi Minah memanggila mereka bertiga untuk makan malam bersama.
"Mas Marsel, Nak Wulan, Adam! Bapak sama Ibu ngajakin makan malam, ditunggu di ruang makan!" seru Bi Minah dari teras dapur.
"Iya, Bi!" teriak Wulan diringi senyuman.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba, Mas sudah tidak tahan, Nduk! Ayo buruan ke sana!" Adam terlihat bersemangat mendorong punggung istrinya untuk berjalan.
__ADS_1
Sementara Marsel masih sesekali memandang pohon mangga tersebut, sebelum berjalan mengikuti Adam dan Wulan.