
Setelah selesai makan malam, mereka berbincang sebentar di teras sambil menikmati gorengan yang disajiikan oleh Bi Minah.
Adam merasa tidak betah karena dia belum mandi dan masih mengenakan seragam pabriknya. Ia sesekali menyenggol lengan Wulan untuk memberi kode, bahwa ia ingin pulang.
"Apaan sih, Mas!" kata Wulan dengan suara lirih.
"Pulang!" jawab Adam sambil menunjuk jam tangan di pergelangan kirinya.
"Iya sebentar!" jawab Wulan kembali.
"Nak Adam, mandi di sini saja! Nanti pake baju saya!" tawar Ruman yang melihat kerisihan Adam pada dirinya sendiri.
Adam kaget saat Ruman menawarinya. Apakah Om Ruman mendengar percakapan dirinya denga Wulan? Ataukah Om Ruman bisa menebak kegelisahan Adam yang terlihat tidak nyaman.
"Eh— iya Om, terimakasih!" ucap Adam sambil menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Saya serius, Nak Adam! Monggo kalo mau mandi di sini! Nanti, Bi Minah yang siapkan bajunya. Kebetulan baju saya waktu jaman muda dulu juga ada, Bi Minah yang simpan. Tentunya, kalo kamu gak keberatan,"
Adam hanya tersenyum, dan kemudian melirik ke arah Wulan untuk meminta pendapatnya.
Wulan menganggukan kepalanya tanda setuju bahwa Adam harus mandi di rumah Mawar.
"Kalo begitu, saya permisi dulu, Om!"
__ADS_1
Adam kemudian melangkahkan kakinya menuju toilet belakang.
"Iya, iya! Saya akan panggilkan, Bi Minah untuk menyiapkan bajumu!" jawab Ruman kemudian memanggil Bi Minah. "Bi, Bi!"
Bi Minah kemudian muncul lagi dari belakang menemui tuannya.
"Iya, Tua! Ada apa?"
"Tolong siapkan baju buat, Nak Adam yah! Baju jaman muda saya!" perintah Ruman dengan nada halus.
"Iya, Tuan!" jawab Bu Minah kemudian pamit ke belakang lagi.
"Kamu bilang, Pak Kyai sedang dalam perjalanan kemari, Nak Wulan! Bagaimana kalo kalian menginap saja di rumah kami. Supaya nanti pas Pak Kyai datang, kami tidak canggung. Kan yang kenal sama beliau itu kamu, Nak Wulan!" Saras memberikan usul.
"Emm, boleh saja, Tante! Kebetulan, besok kan hari minggu juga, Mas Adam tidak lembur. Kalo kamu sendiri, libur nggak, Sel!" tanya Wulan. Kepada Marsel yang tengah sibuk melamun.
Wulan kemudian menyenggol lengan Marsel.
"Sel!" kata Wulan dengan nada tinggi.
Ruman dan Saras saling menatap satu sama lain, karena Marsel tidak bersikap seperti biasanya. Marsel yang kaget langsung berpaling ke arah mereka, dan tersenyum lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh, maaf, maaf! Aku gak denger, Lan! Maaf Om, Tante!" kata Marsel seraya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Nak Marsel! Saya perhatikan, kamu dari tadi melamun terus," tanya Ruman.
"Tidak ada apa-apa, Om! Saya cuman teringat Mawar saja," jawab Marsel kemudian menunduk.
Iya jujur saja, setiap hari, Marsel memikirkan keadaan Mawar di sana. Marsel berharap ia bisa segera bertemu dengan kekasihnya itu.
Mendengar jawaban Marsel, Saras dan Ruman saling memandang. Mereka merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Marsel juga.
"Marsel, saya dan suami saya, minta maaf yah! sebab, masalah ini timbul karena kami," ucap Saras dengan raut wajah sedihnya.
"Jangan seperti itu, Tante! Saya tidak menyalahkan siapa pun di sini! Mungkin ini sudah kehendak illahi. Kita berdo'a saja untuk keselamatan Mawar, Tante!" jawab Marsel.
"Yang dikatakan Marsel benar, Tante, Om! Untuk saat ini, lebih baik kita fokus kepada pencarian Mawar saja."
Mereka kemudian saling terdiam satu sama lain.
Marsel, Wulan, dan Adam, memutuskan untuk menginap di rumah Mawar. Karena mereka akan menyambut kedatangan Pak Kyai.
Setelah subuh berlalu, rombongan Pak Kyai sampai di rumah Mawar. Persiapan penjamuan sudah disiapkan.
Kedatangan Pak Kyai membuat semua orang di sana merasa bahagia. Mereka berebut untuk salaman dengan Pak Kyai dan Kang Ridwan.
"Terimakasih, Pak Kyai sudah menyambangi rumah saya!" ucap Ruman sambil terus memandang wajah sang Kyai dengan kagum.
__ADS_1
Raut wajah Pak Kyai dan Kang Ridwan mampu menemtramkan hati mereka.
Saras dan Wulan mempersilahkan rombongan untuk beristirahat dahulu. Sebelum berbincang masalah Mawar.