
Ketika Ruman pulang dari kantornya, dan mendapati istrinya yang masih pingsan, Ruman terlihat panik, ia menelpon dokter untuk datang ke rumahnya dan mengecek kondisi istrinya.
Sementara Adam, ia terlihat kelimpungan, karena tidak mendapati Wulan di rumah, bahkan rumahnya juga di kunci. Adam sudah menggedor pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Sementara hape Wulan di hubungi tidak mau menjawab.
"Apa, Wulan masih marah denganku? Tapi mana mungkin, dia bukan tipe orang pemarah, lantas, kemana perginya ia? Sudah Maghrib begini belum pulang juga. Di hubungi juga tidak diangkat. Kemana sih kamu, Nduk?" ucap Adam dengan perasan khawatir dan mondar mandir di depan rumahnya yang terkunci.
Perasaan Adam tidak tenang, ia kemudian menghubungi Marsel, untuk meminta pendapat, kira-kira kemana perginya Wulan.
"Hallo, Sel! Aku tidak dapat masuk ke dalam rumah ini," ucap Adam begitu teleponnya diangkat oleh Marsel.
"Kenapa? Apa Wulan masih ngambek denganmu? Artinya, kamu harus tidur di luar, Dam!" jawab Marsel menahan tawanya.
"Bukan begitu, Sel! Aku gedor pintunya, ternyata di kunci, tidak ada jawaban dari dalam. Wulan tidak pernah seperti ini biasanya. Dia pergi juga tidak memberitahuku, aku telpon hapenya tidak diangkat juga. Aku jadi khawatir, Sel, dengan Wulan. Aku takut terjadi sesuatu dengannya,"
"Halah, kamu berpikir positif aja, Wulan itu pasti baik-baik saja. Coba kamu ingat-ingat, Dam! Adakah sesuatu yang Wulan katakan padamu pagi ini, sebelum kamu pergi kerja? Wulan pasti minta izin lah sama kamu, kalo mau pergi. Coba di ingat dulu, Dam," Marsel mencoba memberi pengertian kepada Adam.
Adam mencoba untuk mengingatnya. "Gak ada, Sel! Cuman, dia berencana ingin pergi ke rumahnya Mawar. Tapi katanya nunggu aku balik,"
"Nah, itu bisa jadi, dia sekarang sudah berada di rumahnya Mawar. Kamu coba cari kesana aja,"
"Tapi kalo nanti tidak ada gimana?" tanya Adam dengan raut wajah yang mulai khawatir.
"Ah, belum saja kamu lihat, udah bilang gak ada. Kamu pergi ke rumah Mawar sekarang, aku nyusul dari sini. Kita ketemu di sana. Oke! Aku mau ganti baju dulu,"
"Ya sudah kalo begitu, aku tunggu kamu di sana yah, assalamu'alaikum," Adam menutup teleponnya.
"Wa'alaikum salam," jawab Marsel kemudian melihat hapenya dan menggelengkan kepalanya.
Dengan masih menggunakan seragam pabriknya, Adam menancap gas pergi ke rumah Mawar untuk memastikan keberadaan istrinya. Adam berharap semoga Wulan berada di sana.
***
__ADS_1
Ruman mengantar dokter keluar, setelah selesai memeriksa istrinya.
"Istri bapak tidak apa-apa, sebentar lagi pasti akan sadar. Suruh istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak pikiran. Istri bapak kayaknya cukup setres."
"Iya, Dok! Terimakasih," ucap Ruman diiringi senyuman.
Dokter kemudian berjalan menuju mobilnya, dan segera pergi dari rumah Ruman.
Ruman kembali ke dalam lagi untuk menemui istrinya.
Wulan masih setia duduk di tepi kamar menemani Saras yang masih memejamkan matanya. Pandangannya tak henti menatap wajah Saras.
"Apa yang terjadi, Nak Wulan? Kenapa istri saya bisa pingsan!" tanya Ruman sambil berdiri memandangi istrinya dengan prihatin.
"Mohon maaf sebelumnya, Om. Tante Saras pingsan karena tidak kuat mendengar berita yang saya sampaikan,"
"Berita apa, Nak!"
"Ada apa dengan, Mawar? Apa Mawar sudah di temukan?" Ruman bertanya dengan raut wajah penasaran.
"Belum, Om! Motor Mawar sudah berhasil di ketahui, tapi ... "
"Dimana, Nak? Kalo motor Mawar saja sudah di temukan, berarti tak lama lagi mawar juga ketemu. Ada dimana lokasi motor Mawar, Nak Wulan?" Ruman terlihat bahagia.
"Pak Kyai, belum memberitahu tempatnya, Om. Pak Kyai hanya memastikan saja,"
"Oh begitu, lalu apalagi yang dikatakan oleh beliau soal, Mawar?"
"Katanya, Mawar masuk ke sarang demit, Om!"
"Hah! Sarang demit! Maksudnya? Apa memang ada hal-hal seperti itu, Nak?" tanya Ruman dengan mata membelalak.
__ADS_1
"Pak Kyai yang bilang, Om, masa iya sih beliau bohong. Kita berdo'a saja untuk keselamatan Mawar, Om. Do'a kita tidak boleh putus kata beliau."
Ruman terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Wulan. Ia tampak berpikir. Wulan kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah Saras.
"Permisi, tuan, di luar ada Mas Adam, sama Mas Marsel," ucap Bi Minah dengan berdiri diambang pintu.
Mendengar suara Bi Minah, Wulan tampak kaget. Ia lupa kalo dirinya belum mengabari suaminya kalo ia sedang di rumah Mawar.
"Iya, suruh masuk saja, Bi. Saya mau membersihkan badan dulu," ucap Ruman.
"Baik, tuan," kata Bi Minah kemudian berlalu, untuk mempersilahkan Adam dan Marsel masuk.
"Om, saya ijin keluar dulu, Om," kata Wulan beranjak dari tempat duduknya.
"Oh, iya silahkan. Terimakasih yah,"
"Iya, Om!" jawab Wulan diiringi senyuman.
Wulan kemudian pergi ke ruang tamu untuk menemui suaminya dan Marsel. Wulan tersenyum ketika melihat Adam dan Marsel memandang ke arahnya.
"Nduk, kamu koq gak ngabarin Mas, kalo pergi ke rumah Mawar!" tanya Adam sambil mengamati gerakan Wulan, yang kemudian duduk di sebelahnya, Marsel menggeser tubuhnya, supaya Wulan bisa duduk di sebelah Adam.
"Maaf, Mas, aku lupa, aku pikir, kalian berdua lembur, maaf yah!" ucap Wulan terus tersenyum sambil memeluk lengan suaminya dengan manja karena merasa bersalah.
"Hah! Lain kali minta ijin dulu yah, jangan lagi-lagi begini, Mas khawatir!" kata Adam sambil mengelus puncak kepala Wulan dengan lembut.
"Iya, Mas! Wulan minta maaf yah,"
"Eghm, eghm," Marsel mengingatkan Adam dan Wulan, bukan hanya ada mereka berdua yang duduk di sofa tersebut.
Wulan dan Adam melirik ke arah Marsel yang membuang wajah, kemudian mereka berdua sama-sama tersenyum.
__ADS_1