Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 20 : Penjelasan Marsel


__ADS_3

Adam dan Leader segera menghampiri Marsel yang masih anteng diposisinya.


"Sel, sadar, Sel! Kamu kenapa?" Adam bertanya sambil menepuk pipi Marsel yang pucat.


"Kesambet kali dia, Dam. Ayo bawa keluar."


Adam mengangguk, ia dan Leader menggotong tubuh Marsel yang terlihat kaku.


"Bawa ke mushola aja gimana, Pak?" tanya Adam.


"Iya, iya, buruan, berat juga si Marsel ini." keluh Pak Leader.


Sepanjang jalan menuju ke mushola, banyak karyawan yang sudah pada datang dan menatap penasaran dengan Marsel.


"Astaghfirulloh, ada apa dengan, Marse, Dam?" Karyawan lain mencoba bertanya, namun Adam tidak menjawabnya.


Karyawan lain mengikuti langkah Adam dan Leader menuju ke mushola.


Marsel di bawa masuk ke dalam mushola.


"Sel, sel," Adam menepuk-nepuk pipi Marsel.

__ADS_1


"Bacakan suratan apa kek, Dam! Biar sadar dia," kata Pak Leader dengan keringat yang membasahi wajahnya.


Semua karyawan hanya melihat tanpa berani bertanya.


Adam kemudian membacakan suratan yang ia ketahui di telinga Marsel.


Pak Leader memeriksa suhu badan Marsel yang masih melongo dengan tatapan kosong.


"Ini yang belakang, punggungnya panas, tapi koq bagian depannya dingin."


"Wah, ada yang mau coba masuk itu, Pak. Tapi, tubuh Marsel menolak. Khodamnya gak terima gitu." kata salah satu karyawan yang melihat.


Adam masih komat-kamit di telinga Marsel. Setelah sepuluh menit, Marsel tersadar, ia menarik nafas panjang sekali.


Salah satu karyawan yang sedang memegang air minum, segera memberikannya kepada Leader. Leader membuka botol dan meminumkannya kepada Marsel.


Marsel dengan beringasnya menghabiskan air mineral tersebut.


"Waduh, kamu kehausan, Sel!" tanya Leader meledek, kemudian mengambil botol dari tangan Marsel. "Nih, kamu nanti isi lagi yah," kata Leader kembali diiringi senyuman kepada karyawan tersebut.


Marsel tampak ngos-ngosan, kali ini keringatnya mulai bercucuran.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Sel? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" Adam bertanya dengan tatapan khawatir.


Marsel melihat sekeliling. "Loh, koq banyak orang."


Leader menghela nafas. "ya iyalah, Sel! Kamu itu bengong aja, badanmu kaku, dikolong mesin, tadi! Emangnya kamu kenapa? Sampai-sampai mesin rusak karena ulahmu."


"Maaf, Pak, saya tidak sengaja membuat mesin molding rusak. Tapi tadi saya kaget saja karena mesin tiba-tiba mati, padahal saya gak menyetopnya. Pas saya cek, ternyata dikolong itu ada pocong, Pak. Ihhh serem banget." Marsel mencoba menjelaskan dengan bergidik ngeri, mengingat wajah pocong kembali.


"Halah, alasan pasti kamu." jawab Leader tersebut.


"Serius, Pak, saya tidak bohong!"


"Terus nanti saya juga harus jawab begitu? Sama atasan saya? Kalo ditanya mesin rusak? Iya?"


Marsel tidak menjawab pertanyaan Leader lagi. Dia tau, watak leadernya memang menyebalkan dan tidak mau tau dengan hal yang menimpa anak buahnya sendiri.


"Sudah, sudah, yang lain bubar, siap-siap kerja sana. Kerja yang bener, jangan bikin barang NG mulu." Leader bicara sambil beranjak dari duduknya, dan karyawan yang lain bubar, kecuali Adam dan Marsel yang bersiap-siap untuk pulang karena waktu lemburnya sudah habis.


"Sel, beneran, kamu lihat pocong?" tanya Adam memastikan sekali lagi, setelah mendengar cerita dari Marel.


"Iya, Dam. Aku tidak bohong. Aku berani sumpah!" Marsel mengangkat tanganya.

__ADS_1


"Hah, sudah, sudah. Jangan main sumpah-sumpah segala. Gak baik! Kamu sudah enakan kan? Kalo sudah, kita sholat dulu, abis itu pulang." Adam berdiri kemudian mengambil air wudhu. Marsel lalu mengikutinya dan ikut berwudu. Kali ini, Marsel terlihat lebih cerah dan tidak pucat lagi. Mereka menunaikan sholat Maghrib berjamaah.


__ADS_2