
Wulan kemudian mengambil hapenya yang berada di dalam tas.
Wulan begitu tercengang ketika mendapati banyak panggilan dari Pak Kyai.
"Astagfirulloh, Mas, Sel, ternyata Pak Kyai telpon aku bolak balik!" ucap Wulan sembari melihat ke arah Adam dan Marsel secara bergantian.
"Bukan hanya Pak Kyai saja yang menelpon mu bolak balik, Mas, juga," kata Adam dengan ekspresi sedikit kesal.
"Iya, Mas! Tapi dari Pak Kyai ini lebih penting,"
"Hem, iya, iya. Coba kamu lihat ada pesan dari beliau atau tidak?" tanya Adam lagi.
Wulan kemudian mengecek pesan masuk,
"Assalamu'alaikum, Mbak Wulan, jika mbak sudah tidak sibuk, abis 'isya nanti, tolong segera hubungi saya yah! Terimakasih."
Begitulah bacaan pesan dari Pak Kyai. Wulan membacanya dengan keras supaya Marsel dan Adam dapat mendengarnya.
"Pasti ada sesuatu yang penting yang akan di sampaikan oleh Pak Kyai, Lan!" ucap Marsel semangat.
"Iya, alangkah baiknya jika pembicaraan ini, jangan diketahui dulu oleh Tante Saras," ucap Wulan.
"Kenapa, Lan? Tante Saras kan berhak tau," kata Marsel.
"Memang, tapi Tante Saras itu mentalnya tidak kuat. Dia perlu istirahat. Tadi saja, beliau pingsan saat aku memberitahu keadaan Mawar," terang Wulan kembali.
__ADS_1
"Hah? Pingsan? Terus bagaimana sekarang?" tanya Adam.
"Masih belum sadar di kamar, tadi Wulan nemenin Tante Saras, Mas! Wulan jadi ngrasa gak enak, gara-gara Wulan, Tante Saras jadi pingsan," Wulan berkata dengan sedikit lesu.
"Kamu jangan selalu menyalahkan diri sendiri, kamu tidak salah, niatmu kan baik. Sudah jangan terlalu dipikirkan. Tante Saras dan Om Ruman pasti mengerti," Adam mengelus punggung istrinya sekedar menenangkan hatinya.
"Adam benar, Lan, kamu jangan selalu merasa bersalah. Tante Saras justru sangat berterimakasih kepadamu. Karena kamu sudah banyak membantu dalam pencarian, Mawar ini loh! Kalo kamu tidak mengenalkan Pak Kyai kepada kami, kami tidak akan tau keberadaan Mawar hingga sekarang," imbuh Marsel.
Wulan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Ruman kemudian muncul dari belakang dan menemui mereka.
"Aduh, mohon maaf yah, kalian sudah menunggu lama. Saya membersihkan badan dulu dan sholat Maghrib sekalian. Kalian sholat dulu saja," kata Ruman.
Wulan dan Marsel beranjak dari tempat duduknya, bersiap untuk menuju mushola.
"Kalian sholat di sini saja. Di belakang rumah saya juga ada mushola kecil. Namun jarang terpakai, kami lebih suka sholat di kamar. Biasanya Bi Minah yang suka sholat di sana," Ruman menjelaskan sambil menunjuk dengan tangan arah mushola tersebut.
"Oh, benarkah Om?" tanya Marsel.
"Iya ... Bi Minah, Bi," teriak Ruman dari ruang tamu.
Bi Minah kemudian muncul dari arah dapur.
"Ada apa, tuan?" tanya Bi Minah sopan sambil membawa Sutil.
__ADS_1
"Wah, lagi masak ya, Bi! Maaf yah, saya mau minta tolong, antarkan mereka ke mushola belakang,"
"Oh, nggeh tuan. Mari nak, saya antarkan," ucap Bi Minah diiringi senyuman.
Marsel, Adam dan Wulan kemudian mengikuti langkah Bi Minah. Wulan tidak lupa membawa tas selempangnya yang berisi dompet dan hape.
***
Malam ini, Kang Ridwan sudah sampai di rumah Pak Kyai, beliau sedang berdiskusi tentang masalah Mawar.
"Menurut saya lebih cepat lebih baik, Pak Kyai. Kenapa tidak malam ini saja kita berangkat ke sana?" tanya Kang Ridwan sambil menyeruput kopinya.
"Nak Wulan belum bisa dihubungi, Kang! Makanya saya bingung. Mungkin, kita tunggu konfirmasi dari keluarga Mawar bagaimana?"
"Kita bisa menghubunginya lagi di perjalanan. Yang penting kita berangkat saja malam ini. Saya yakin mereka akan setuju, saya takut jika terlalu lama menunggu, Mawar akan terancam di sana. Pak Kyai sendiri sudah membunuh Burhan kan? Ndoro Kusuma bisa merubah wujud siapapun yang ia kehendaki, Mawar yang jiwa dan raganya masih menyatu, kita harus segera selamatkan dia, sebelum jiwanya diambil Ndoro Kusuma," Kang Ridwan bicara dengan sangat serius.
Pak Kyai mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aziz, kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Pak Kyai melihat ke arah Aziz.
"Sudah, Pak Kyai. Kita tinggal berangkat saja. Bu Nyai tengah menyiapkan bekal untuk di jalan, supaya kita tidak perlu berhenti. Mengingat perjalanan yang jauh," terang Aziz dengan sopan.
"Baiklah, malam ini juga, kita berangkat ke sana." jawab Pak Kyai dengan mantap.
Mereka berempat kemudian beranjak dari tempat duduknya, mereka menunaikan sholat isya bersama, setelah itu langsung berangkat menuju kota Mawar berada.
__ADS_1