
Ayah Ruman berhasil menepi ke daratan dengan memegang ari-ari tersebut.
Nek Jamilah kemudian terkurung di rawa dengan tubuh terikat, mulut tersumpal ari-ari.
Ayah Ruman beserta para warga kembali pulang ke rumah Ruman dengan membawa separuh ari-ari.
Dokter sudah memeriksa Saras dengan dibantu oleh dua suster. Bi Minah membersihkan spray dan lantai bekas darah yang berceceran.
"Saya turut berduka ya, Pak Ruman!" ucap Dokter sambil menepuk pundak Ruman.
Betapa sedihnya Ruman dan Saras kala itu. Melihat bayi pertamanya meninggal dunia. Untunglah, bayi kedua mereka dalam keadaan yang sehat.
Bayi kedua terus menangis sejak kelahirannya. Bahkan tak mau disusui oleh Saras. Mereka bingung harus berbuat apa.
Ayah Ruman tiba di rumah bersama warga yang mengikutinya. Waktu sudah sepertiga malam. Ia kemudian membersihkan ari-ari tersebut bersama dengan jasad cucu pertamanya.
***
Saat sedang break, Marsel mencoba untuk menghubungi Mawar. Ia duduk di batas tanggul dekat parkiran. Tubuhnya tak terlihat karena tertutup oleh kendaraan karyawan yang berjajar.
Marsel mencari kontak Mawar di dalam hapenya dengan senyuman yang terus mengembang di sudut bibirnya.
"Ayo angkat, War! Aku mau ngasih kabar bahagia sama kamu," gumam Marsel.
Sudah tiga kali, Marsel mencoba menghubungi nomor Mawar. Tetapi hasilnya nihil.
"Sibuk kali ya! Koq telpon aku gak diangkat sih," ucap Marsel sambil memandangi layar hapenya.
"Mending aku kirim pesan saja deh!" ucap Marsel.
Tangannya mulai mengetik beberapa huruf di sana. Setelah terkirim, Marsel mengantongi hapenya kembali dan berjalan ke dalam gedung untuk kembali bekerja.
"Sel, kamu darimana saja? Aku cari dari tadi juga," tanya Adam tanpa berpaling dari mesinnya.
"Dari depan. Ada apa nyariin aku!" tanya Marsel kemudian mulai menghidupkan mesin moldingnya kembali.
"Tadi kamu dicariin sama leader, tapi gak tau sekarang kemana orangnya,"
"Ada urusan apa nyariin aku,"
"Mana aku tau, mau disuruh lembur kali,"
"Pengin juga sebenernya, tapi aku lagi gak mood. Aku pengin ke rumah Mawar," ucap Marsel sambil mengambil produk yang keluar dari mesinnya.
"Ya elah, udah gak tahan nie," goda Adam.
"Bukan gitu, Dam! Aku tadi menghubungi dia, tapi gak diangkat. Aku mau ngasih tau, kalo Minggu depan, aku sama keluargaku mau datang melamar. Nanti, kamu sama Wulan ikut juga ya," terang Marsel sumringah.
"Yang benar? Alhamdulillah, akhirnya impian kamu sebentar lagi akan terwujud, Sel!" ucap Adam lebih bahagia dari Marsel.
"Amin, insya Alloh, Dam. Do'akan ya semoga lancar,"
"Pasti, Sel!" jawab Adam.
__ADS_1
"Woy, kerja jangan ngobrol mulu! Seru leader yang tiba-tiba datang dari belakang mereka.
Adam dan Marsel saling melirik kemudian terdiam dan fokus kembali dengan pekerjaannya.
Suara bising memenuhi ruangan tersebut.
"Sel, kamu kemaren yang ngerjain mesin nomor 13 kan?" tanya leader.
"Iya, Pak! Ada apa emangnya?"
"Kamu di suruh sortir ulang,"
"Koq saya yang harus sortir, harusnya tugas yang seleksi tuh, Pak!"
"Kemaren waktu barang urgent, produk yang kamu kerjain, gak di seleksi dan gak masuk QC. Jadi kamu sendiri yang harus ngecek kesana,"
"Koq bisa gitu sih, harusnya jangan saya lah pak, saya bagian molding gak bisa harus kesana," terang Marsel kesal.
"Kenapa gak bisa? Memangnya kamu bos di sini!" seru leader sambil berkacak pinggang dan mata membulat.
Marsel terdiam mendengar pernyataan leadernya. Wajahnya mendadak kusut dan kesal.
"Kamu itu siapa di sini? Cuman karyawan, kalo masih butuh kerja, nanti sortir barang ke PT XX, habis pulang kerja," ucap Leader kemudian pergi meninggalkan mesin Marsel.
Adam melirik ke arah Marsel yang kini benar-benar terlihat dari raut wajahnya menahan amarah.
"Sel ... Sel ... Marsel ...!" seru Adam.
"Apaaaaa!" jawab Marsel tanpa menoleh Adam.
"Sel, kalo kamu butuh teman, aku mau nemenin kamu," Adam menawarkan diri berharap Marsel tidak marah lagi.
Marsel tidak menjawab tawaran dari Adam. Ia masih fokus dengan produknya.
"Gimana? Mau gak aku temenin?" tanya Adam lagi.
Marsel menoleh ke arah Adam perlahan dan kemudian tersenyum dan mengangkat jempolnya.
"Gitu dong! Semangat! Inget, mau nikah pasti banyak cobaannya," kata Adam sambil tersenyum.
***
Pukul lima sore Adam dan Marsel menuju pabrik XX untuk menyortir barang. Mereka mengendarai sepeda motor masing-masing dengan kecepatan sedang.
Banyak karyawan lain yang berlalu lalang untuk pulang kerja, atau sekedar mencari makan untuk lembur. Adam dan Marsel berkendara beriringan.
Mereka memandangi jalan sekitar dan mengamati pabrik-pabrik di samping kanan dan kiri.
"Dam, pabrik XX itu kan yang berada di jalur mau ke rawa itu kan?" tanya Marsel.
"Aku gak ngeh, vendor pabrik kita kan banyak, kalo pabrik XX aku gak tau malah. Tapi kalo jalannya lewat sini, kayaknya sih memang benar," jawab Adam sambil mengamati jalan sekelilingnya.
"Iya, pabrik XX termasuk yang paling pojok. Koq aku jadi berdebar gini yah," ucap Marsel sambil mengusap tengkuk belakangnya.
__ADS_1
"Kalo tidak berdebar malah bahaya, Sel!" kata Adam terkekeh.
"Hish, kamu ini. Maksud aku bukan itu, semoga aja gak ada hal yang aneh," ucap Marsel yang mulai merinding.
"Udahlah, berpikir positif aja. Kalo pikiran kamu negatif, pasti yang dateng negatif juga. Demikian sebaliknya, Sel!"
"Iya, Dam!" jawab Marsel kemudian fokus ke jalan lagi.
Di tengah ke fokusannya, tiba-tiba angin halus datang dari arah depan menyapu wajahnya.
Marsel bolak-balik menggobidkan kepalanya yang terasa berat dan mulai mengantuk. Kaca helmya sengaja tidak ia tutup sehingga sangat terasa angin itu menyentuh wajah mulusnya.
Dari kejauhan, dia melihat sosok perempuan yang sama persis seperti Mawar. Sosok itu melambai dengan lembut dengan senyuman yang begitu manis. Marsel ikut tersenyum. Ia merasakan tubuhnya yang sangat ringan terbawa angin mendekati sosok Mawar di depan sana.
Tiba-tiba saja, GUBRAK!
POV Adam.
Aku sebenarnya sebal ketika Marsel sudah mengeluhkan hal-hal yang aneh. Aku takut terjadi sesuatu pada dirinya. Entah sejak kapan, dirinya menjadi peka dengan hal yang ghaib.
Aku terus memperhatikan Marsel. Setelah kami terdiam cukup lama, aku mulai merasa tingkah Marsel semakin aneh saat ia tiba-tiba mulai tersenyum sendiri, bahkan kedua tangannya ia lepas dari stang motornya. Marsel membentangkan kedua tangannya seperti menantikan seorang kekasih yang tengah berlari ke arahnya.
Aku mencoba menyadarkannya bahwa hal yang ia lakukan sangat berbahaya. Tapi Marsel tak mendengar teriakan ku. Bahkan orang-orang yang mengendarai motor melewati kami menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol Marsel.
"Sel, kamu gila ya? Apa yang sedang kamu lakukan? Woy! Bahaya, Sel!" Aku berteriak dengan sangat kencang, namun usahaku sia-sia saja.
Saking keselnya, aku memutuskan untuk menendang motor Marsel.
GUBRAK!
Marsel terjatuh bersama dengan sepeda motornya. Aku segera berhenti di depan Marsel dan menyetandar sepeda motorku.
Aku segera menolong Marsel yang kini meringis menahan sakit. Aku mengangkat sepeda motor yang menimpa dirinya.
Aku membantunya untuk segera berdiri. Untung saja ia menggunakan helm, kalo tidak pasti pingsan akibat benturan dari aspal.
Aku sedikit merasa bersalah atas peristiwa ini. Tapi juga kesal sebab Marsel terlihat seperti orang gila. Apa dia pikir, dia itu Shahrukhan! Yang sedang menari di Padang rumput penuh bunga bersama Kajol?
"Kamu tidak apa-apa, Sel?" tanyaku sambil memeriksa anggota tubuhnya.
"Gak papa, sedikit pusing aja, emangnya apa yang terjadi sih Dam! Koq aku bisa nyampe jatuh!" kata Marsel sambil melepas helm.
Ya ampun, ternyata dia gak tau kalo aku yang menendang sepeda motornya? Wah pasti ada yang gak beres dengan Marsel. Aku harus berhati-hati.
Aku bingung juga, mau ngaku atau tidak dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Nanti saja lah ceritanya. Tuh, pabriknya udah di depan mata, tinggal muter sedikit. Kamu masih bisa naik motor sendiri kan?" tanyaku sambil mengusap pundak Marsel.
"Masih lah," jawab Marsel kemudian memilih menenteng helmnya.
Marsel kembali menaiki sepeda motornya. Aku lalu memperingatkannya sesuatu sebelum ia menyalakan mesinnya lagi.
"Sel! Kamu jangan sering melamun. Terus, jangan lupa untuk selalu berdo'a. Kalo kamu merasakan ada yang janggal, atau kamu melihat hal yang tak lazim, aneh, kamu segera berdo'a, dan usap lah wajahmu tiga kali," ucapku sambil menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Iya, Dam! Terimakasih ya sudah diingatkan. Kalo urusan kerja ini sudah selesai, aku akan ceritakan padamu, apa yang aku lihat," kata Marsel dengan wajah serius.
Aku hanya mengangguk mendengar penuturan dari Marsel. Dari kalimat yang Marsel lontarkan, sudah jelas kalo dia melihat sesuatu yang tidak dapat aku lihat.