Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 8 : Merinding Mendengar Cerita Wulan


__ADS_3

Pov Wulan


Setelah aku berkunjung kerumah Mawar dan menceritakan pengalaman dikampungku kepada Pak Ruman, sepertinya beliau masih belum percaya, atau mungkin Pak Ruman memang tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Marsel malam ini berencana untuk menginap di kontrakan ku, rupanya dia masih penasaran dengan ceritaku tadi. Setelah selesai sholat maghrib, tidak lupa juga kami mendo'akan Mawar, Suamiku dan Marsel pergi keluar untuk mencari makanan. Kebetulan hari ini aku tidak memasak. Aku dan Adam sudah berumah tangga selama 10 tahun, namun kami belum juga diberikan keturunan. Bukan karena aku mandul, ataupun suamiku yang bermasalah, tapi memang Alloh belum menitipkan rezeki itu untuk kami. Aku dan Adam tidak pernah putus asa untuk meminta kepada sang khaliq agar segera diberikan momongan. Hujan masih saja mengguyur kota K, entah sampai kapan hujan ini akan terus berlangsung, pakaianku dan suamiku hampir habis karena sebagian masih basah, dan juga belum aku cuci.


Beberapa menit kemudian, Adam dan Marsel datang sambil membawa 3 bungkusan pecel ayam, dan juga wedang jeruk. Aku segera menuju dapur mengambil piring untuk meraka gunakan sebagai alas makan. Ditengah derasnya hujan, kami menikmati makan malam ini sambil ngobrol masalah Mawar.


"Menurut kalian, Pak Ruman bakal setuju dengan usulku atau tidak yah?" Tanya Wulan kepada Adam dan juga Marsel.


"Kalo dilihat dari wajah dan nada bicaranya kemaren, kayaknya beliau masih ragu Nduk," jawab Adam sambil menyuwir ayam.


"Kalo orang tua Mawar tidak setuju, kita bisa apa!" jawab Wulan


"Kalo orang tua Mawar tidak setuju, aku yang akan mencarinya lewat jalan yang kamu tawarkan Lan, terus terang, aku tertarik dan percaya dengan apa yang kamu ceritakan tadi. Setiap hari, aku terus kepikiran sama Mawar, tidak mungkin aku diam saja, sedangkan hasil pencarian Mawar masih nihil. Mungkin menghilangnya Mawar memang ada campur tangan mahluk tak kasat mata." Kata Marsel dengan tatapan yang serius.


"Iya Sel, kita secara diam-diam saja, kalo nantinya orang tua Mawar tidak setuju" jawab Adam


"Ngomong-ngomong kapan kamu bisa menghubungi Pak Kyai itu Lan?" Tanya Marsel lagi sambil menyruput wedang jeruknya.


"Entahlah Sel, aku harus menghubungi saudaraku terlebih dahulu. Pak Kyai itu sangat sibuk, jarang sekali orang yang bisa menemuinya langsung. Telpon bisa sampai ditelinga beliau saja sudah bersyukur"


Marsel tampak manggut-manggut mendengar jawaban Wulan. "Kalo begitu segerakan saja Lan, antisipasi jika Pak Kyai sibuk, pasti beliau banyak acara,"


"Aku usahakan ya Sel"


Mereka bertiga lalu menghabiskan makanannya tanpa tersisa. Cuaca membuat mereka merasa lapar terus. Habis selesai makan mereka terus lanjut ngemil.

__ADS_1


"Aku gak papa nih nginep dirumahmu Dam?"


"Gak papa Sel, cuman kan kamu tau sendiri bagaimana besarnya kontrakanku ini. Nanti kamu tidur disini, pake karpet, gak papa to?"


"Iya gak papa Dam, masa iya aku ambil kamarmu, apalagi cuaca mendukung seperti ini. Jangan buat aku iri ya" ledek Marsel kepada Adam, Adam yang tahu maksud Marsel, hanya tersenyum menanggapinya.


Mereka terdiam cukup lama, lalu Marsel bertanya lagi. "Dam, kalo memang benar Mawar keselong, kira-kira dia keselong kemana yah? Terus bagaimana keadaannya sekarang?"


"Itu bukan ranahku Sel, aku gak tau kalo kamu bertanya seperti itu, lebih baik kamu terus berdo'a saja. Kalo kamu mau, coba habis sholat, setelah berdzikir, kamu pusatkan pikiran dan hatimu untuk berdo'a kepada Mawar, kamu coba panggil namanya dalam hati dan pikiranmu Sel, tapi jangan lupa kau sebut nama Alloh"


"Wahhh, susah kayaknya Dam, mana bisa aku seperti itu"


"Iya usaha aja belum, sudah bilang susah. Kalo kamu sungguh-sungguh in sya Alloh berhasil Sel,"


"Di sepertiga malam, sesudah atau sebelum tahajud Sel."


Marsel manggut-manggut mendengar penjelasan Adam. Lalu ia bertanya lagi. "Dam, bagaimana nasibnya orang yang keselong, kalo misal kita putus do'a dan usaha untuknya?"


"Orang itu mati dan menetap disana Sel, tanpa kembali jiwa dan raganya" jawab Wulan dari dalam dengan membawa nampan yang berisi 2 cangkir kopi untuk Marsel dan juga Adam. Marsel dan Adam melotot kearah Wulan.


"Serius Lan? Kamu itu koq bikin aku ngeri sih!" Tanya Marsel mengelus lengannya sendiri.


"Kata orang begitu Sel, aku juga tidak yakin sih. Tapi ada kejadiannya,"


"Koq aku belum dengar Nduk? Itu dimana kejadiannya?"

__ADS_1


"Di RT sebelah Mas, yang keselong kebetulan orang yang sudah tua, gak diurus sama keluarganya, mereka pernah berusaha untuk mencarinya, tapi gak dilanjutin. Do'a juga berhenti mereka kirim. Nah, selang satu tahun, ada yang nyaranin untuk datang keorang pintar. Terus pas ditanyain, orang pintar itu langsung bilang TELAT begitu."


"Telat maksudnya udah gak tertolong lagi Lan?"


"Iyaaa, karena pas dilihat sama orang pintar itu, orang tua yang keselong, kondisinya sudah mati disana, pikiran dan hatinya sudah dipengaruhi oleh penghuni disana. Bahkan orang itu sudah makan dan minum disana"


"Aduhhh, aku gak mudeng sama jawaban kamu deh Lan, coba jelaskan lagi"


"Iya Nduk, Mas juga ikutan bingung!" Adam tampak menggaruk dahinya yang gatal.


"Hemmm,,, begini Mas, Sel, orang yang keselong, disana juga diberi makan dan minum. Yang mereka lihat itu makanan layaknya seperti didunia ini, nasi, tempe, atau ayam yang biasanya kita makan sehari-hari lah pokoknya. Kalo orang yang tidak mudah dipengaruhi, maksudnya masih ada iman dalam dirinya lah, orang yang keselong itu bakalan merasa aneh dengan makanan itu. Sehingga akan menimbulkan rasa mual dan efek yang lainnya, tapi kalo mungkin yah, ini mungkin, kalo orang itu berdo'a sebelum makan, makanan yang dilihatnya akan terlihat wujud aslinya. Jadi mereka malah gak mau makan. Tapi sebenarnya bagus kalo gak makan, daripada mereka makan sampai habis."


"Memangnya ada bedanya Nduk?"


"Ada dong Mas, kalo mereka makan sampai habis, mereka akan menjadi penghuni disana, gak bakal bisa balik jiwa dan raganya, kalo yang makan tanpa berdo'a terus ngerasa ada efeknya, itu karena mereka masih ingat Alloh, dan juga orang di dunia ini, kerabatnya mendo'akan dia. Sedangkan orang yang tidak makan sama sekali itu, dia ingat dengan Alloh, dan kerabatnya yang ada disini mendo'akan dia tanpa putus. Tapi jika sampai kerabatnya putus mendo'akannya, orang ini bisa kembali tapi dalam keadaan sudah meninggal. Itu kata saudaraku Mas"


Adam dan Marsel menyimak cerita Wulan dengan wajah yang serius dan juga takut, Marsel merapatkan duduknya kepada Adam. Adam lalu menutup kepalanya dengan kudung hoddienya.


"Aku gak bisa bayangin cerita kamu Lan, mendengarnya saja bulu kuduk ku berdiri semua, dadaku juga ikut sesak. Apalagi jika ngalamin sendiri hal seperti itu."


"Na'udzubillah, jangan sampai Sel, makanya kita jangan pernah putus untuk mendo'akan Mawar. Do'a yang tulus dan khusyuk akan didengar Alloh, dan bisa juga sampai ditelinga Mawar kalo kita tulus. Kita tidak tau keadaan Mawar sekarang seperti apa, tapi aku bisa merasakan kalo Mawar butuh pertolongan kita,"


Wulan menatap Adam dan Marsel secara bergantian. Raut wajahnya kembali sedih memikirkan Mawar, melihat dan mendengar ceritanya sendiri di kampung halamannya, Wulan sudah punya gambaran tersendiri untuk Mawar dialam sana. Wulan tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya kepada Adam dan juga Marsel. "Mawar, kamu harus kuat disana, kami disini akan terus berdo'a dan berusaha untukmu"


Batin Wulan, menunduk melihat jari-jarinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2