Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 7 : Mungkin Benar Mawar Keselong!


__ADS_3

Marsel dan teman-temanya telah sampai dirumah Mawar. Mereka membuka mantol yang melindungi mereka dari hujan lalu menggantungnya dihalaman. Orang tua Mawar mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Terimakasih yah, hujan deras begini, kalian mau main kerumah kami, Nak Wulan juga repot-repot bawa buah tangan segala terimakasih loh"


"Iya Om, niatnya sih tadi pagi kami ingin kemari, tapi saya dengan Adam kerja" jawab Marsel sambil tersenyum.


"Iya sama-sama om" jawab Wulan sembari tersenyum.


"Iya, iya, gimana dengan pekerjaan kamu Sel? Lancar?"


"Alhamdulillah lancar saja Om"


Bi Minah lalu datang dari arah dapur sambil membawa nampan yang berisi air minum. Bi Minah meletakan cangkir-cangkir tersebut diatas meja.


"Minumnya Tuan"


"Wah, jadi merepotkan Bi" kata Marsel


"Nggak Nak Marsel, saya malah senang" jawab Bi Minah.


"Silahkan diminum Sel, Nak Adam, Nak Wulan, mumpung masih hangat"


"Iya Om" jawab mereka bertiga. Bi Minah lalu pergi ke belakang kembali.


"Om Ruman, dimana Tante Saras, beliau tidak terlihat!" Tanya Saras sambil meneguk teh hangatnya.


"Ada dikamarnya, sedang tidur,"


"Mau maghrib koq tidur Om!"


"Iya, dari tadi nangis soalnya." Mendengar jawaban Ruman, mereka bertiga saling memandang dan terdiam sejenak.


"Ngomong-ngomong bagaimana perkembangan laporan dari kasusnya Mawar Om? Sudah ada titik terang kah?" Tanya Marsel mengawali maksud mereka bertiga.


Ruman menghela nafas panjang, dan menyandarkan tubuhnya.


"Belum ada Sel, bahkan sekarang sudah hampir satu bulan lamanya, kasus menghilangnya Mawar tidak berkembang sedikitpun"


Ruman tertunduk lesu. Mereka bertiga merasa iba dengan Ruman. Marsel pun terlihat sangat sedih, wanita yang selama ini ia perjuangkan tidak ada kabarnya.

__ADS_1


"Kami turut bersedih atas berita ini Om, semoga Mawar bisa segera ditemukan ya Om" kata Adam.


"Iya terimakasih Nak Adam, tolong bantu do'a yah"


"Itu pasti Om." jawab Adam lagi.


"Maaf Om, kalo boleh tau, waktu Mawar pergi dari rumah, itu jam berapa ya Om?" Tanya Wulan yang menahan rasa berdebarnya, berharap jawaban yang akan dikeluarkan Ruman tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


"Maghrib Nak Wulan, bahkan posisinya adzan belum selesai berkumandang"


Wulan kaget saat mendengar jawaban Pak Ruman, Wulan dan Adam saling berpandangan, dia sesekali menelan ludahnya. Ternyata jawaban Ruman sesuai dengan apa yang dia pikirkan, apakah memang benar kalo Mawar itu keselong?


"Ada apa Dam? Koq kamu sama Wulan keliatan takut!" Tanya Marsel


"Iya, ada apa Nak Wulan?" Imbuh Ruman yang penasaran melihat ekspresi kagetnya Wulan dan Adam.


"Gak papa Om," jawab Adam dan Wulan sambil tersenyum.


Mereka lalu menjeda percakapan dengan minum teh yang sudah disuguhkan. Wulan ingin mengutarakan keinginannya, namun dia masih ragu. Bagaimana jika nanti orang tua Mawar menolak usulnya?


"Om, Wulan mau usul nih Om, apa gak sebaiknya kita minta tolong orang yang pintar dalam hal-hal spiritual Om, untuk menemukan Mawar?"


Ruman dan Marsel tampak kaget mendengar usulan Mawar.


"Maaf ya Om, Wulan mau sedikit cerita, dulu dikampung Wulan, banyak anak-anak atau orang dewasa yang keselong, karena keluar dijam-jam wajib, contohnya saat waktu dzuhur, ashar, dan juga maghrib, Wulan takut, kalo Mawar juga mengalami hal yang sama Om!"


Wulan menjelaskan pendapatnya, Ruman, Marsel dan Adam tampak khidmat mendengarkan.


"Keselong itu apa Lan? Sepertinya aku baru dengar" tanya Marsel yang bingung. Diikuti dengan Ruman yang tampak kebingungan juga.


"Keselong itu, seperti disesatkan Sel. Gini yah, misal kamu mau pulang nih maghrib-maghrib, jalan yang kamu lalui setiap hari kan lurus, nah karena kamu diselongkan sama demit, otomatis jalan yang kamu lalui itu berbelok Sel, tanpa sepengetahuan kamu. Kamu taunya jalan itu lurus aja, tapi ternyata berbelok."


Ruman dan Marsel tampak tidak percaya dengan penuturan yang disampaikan oleh Wulan.


"Ah, masa iya begitu sih Lan?"


"Di kampungku begitu Sel, percaya gak percaya, tapi banyak yang sudah mengalaminya"


"Benar Om, Sel, dulu waktu saya jadi pengantin baru di rumahnya Wulan, ada tetangga yang keselong, dia anak-anak, hilang selama 5 hari. Dicari gak ketemu-ketemu. Tiap malam kami ronda, berpencar menelusuri jalan, hutan, alas, kota, hilir sungai, bahkan Tim SAR setempat ikut mencari, tapi hasilnya nihil. Untungnya ada suadaranya Wulan punya kenalan orang pintar, dia seorang Pak Kyai, terus Pak Kyai tersebut mencoba merogo Sukmo. Kata beliau, anak yang hilang itu ternyata keselong, dan masuk kedalam rumahnya Wewe Gombel. Untungnya anak tersebut bisa dibawa pulang sama Pak Kyai, tapi keadaannya memprihatinkan, anaknya jadi bisu gak bisa ngomong lagi sampai sekarang"

__ADS_1


"Inalillahiroji'un, apa memang benar seperti itu Dam? Koq ngeri sekali aku mendengarnya" tanya Marsel sambil mengusap lengannya yang sudah merinding.


"Tapi apa memang benar Nak Adam? Saya koq kurang percaya dengan hal-hal seperti itu yah" kata Ruman sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kita pikir secara logika saja Om, kalo Mawar benar-benar gak keselong, harusnya ada jejaknya, nomor Mawar harusnya bisa dilacak juga oleh polisi, tapi ini sudah hampir satu bulan, tidak ada tanda-tanda keberadaan Mawar. Lagi pula Mawar tidak mungkin meninggalkan rumah selama ini hanya karena Om dan Tante tidak merestui hubungannya dengan Marsel." Kata Wulan yang mulai meyakinkan Ruman.


"Benar yang dikatakan Wulan Om, setidaknya Mawar menghubungi Marsel, atau pergi ke rumah Marsel untuk membicarakan hubungannya, karena Marsel pacarnya. Tapi Mawar sama sekali tidak pernah menghubungi bahkan datang kerumah Marsel. Ini kan ganjil aja Om."


Ruman masih terdiam mendengarkan nasehat dari Wulan dan juga Adam. Marselpun tampak berpikir dengan kata-kata yang diucapkan oleh Wulan dan Adam. Kalo dipikir-pikir memang ada benarnya juga.


"Aku juga sudah mencari ketempat kami sering bertemu, dan juga menanyakan kepada teman-teman kampus Mawar, memang tidak ada yang tau dengan keberadaan Mawar Om, mungkin yang dikatakan Wulan benar Om, jika Mawar keselong"


Ruman masih terdiam untuk beberapa saat. Wulan, Adam, dan Marsel saling memandang satu sama lain, mereka berharap Ruman setuju dengan usul mereka yang ingin menanyakan masalah ini kepada orang pintar.


"Apa benar yang kamu katakan Nak Wulan?" Ruman mengulangi pertanyaanya, Ruman merasa aneh dengan pernyataan yang diberikan oleh Wulan.


"Percaya sama saya Om, Cerita ini benar apa adanya, karena dikampung saya sendiri kejadiannya. Jika Om berkenan, saaya akan mengundang Pak Kyai tersebut kemari. In sya Alloh ini gak musyrik koq Om, kita hanya berikhtiar lewat jalan ini. Lagi pula Pak Kyai kenalan saudara saya ini tidak pernah mau make sesajen, atau bakar kemenyan dan lain-lain. Tidak pake piranti apa-apa koq Om, murni hanya dengan kalimat-kalimat Alloh, yang saya sendiri juga tidak tau kalimat apa yang beliau rapalkan. Tapi terbukti, orang yang keselong bisa pulang semua, tapi tidak semua orang yang keselong itu bisa dibawa pulang dalam keadaan sehat dan selamat Om, ada juga yang meninggal, terkena gangguan jiwa, dan yang benar-benar sehat seperti biasa juga ada, tergantung lamanya orang tersebut hilang, dan usaha kita disini"


Ruman tampak berfikir lagi, dia meremas kepalanya.


"Mumpung belum terlalu lama Om, karena penjemputan ini juga tidak mudah bagi Kyai, tergantung mahluk apa yang membawanya. Soalnya anak yang hilang 5 hari saja, 5 bulan baru bisa ditemukan,"


"Serius Lan? Aku kira langsung bisa ditemukan saat itu juga" tanya Marsel yang mulai penasaran dengan cerita Wulan. "Memangnya apa saja yang dialami Pak Kyai itu selama penjemputan anak yang hilang itu Lan?"


"Aku tidak terlalu paham Sel, cuman kata saudaraku, Pak Kyai itu masuk kedalam dimensi lain, dan Pak Kyai juga menyusuri hutan yang banyak demitnya, harus bertarung sama penjaga-penjaganya juga. Pokoknya gak mudahlah, aku gak tau banyak soal itu sih Sel, gak enak kalo mau nanya-nanya juga." Jawab Wulan sambil memperhatikan raut wajah Ruman yang terlihat mengkerut karena mendengar cerita Wulan.


"Gimana Om! Om setuju dengan usul saya!" Tanya Wulan kembali.


"Hem, saya perlu membicarakanya dengan istri saya terlebih dahulu, gak papa yah?"


Wulan menghela nafas lalu menjawab. "Iya Om gak papa, tapi lebih cepat lebih baik Om, jangan banyak mengulur waktu"


"Iya, sesegera mungkin nanti saya akan kabarin kamu lagi yah"


"Ya sudah kalo begitu, kami ijin pamit pulang dulu ya Om," Wulan beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Adam dan juga Marsel. Ruman berdiri dan mengantarkan mereka bertiga sampai didepan pintu.


"Terimakasih yah, karena kalian sudah peduli dengan masalah ini, Marsel, saya minta maaf yah sama kamu." Ruman memeluk Marsel dan menepuk punggungnya. Marsel mengangguk dan tersenyum kepada Ruman.


"Kalo Mawar bisa kembali, saya akan segera menikahkan kalian berdua, saya janji" kata Ruman kembali dengan perasaan trenyuh.

__ADS_1


"Iya terimaksih Om, yang terpenting Om dan Tante jangan harapan, dan terus berdo'a untuk kepulangan Mawar yah."


Ruman mengangguk mendengar penuturan Marsel. Marsel, Adam, dan Wulan mengenakan mantol mereka kembali, lalu pergi meinggalkan rumah Mawar. Sepeninggal kepergian Marsel dan teman-temannya, Ruman tampak berpikir dengan mematung didepan pintu sambil memandangi gerbang rumahnya yang terus diguyur air hujan. Selintas bayangan Mawar muncul, membuat Ruman shock dan menyebut nama, "Mawarrrrr!" Ruman mencoba ingin meraihnya, namun bayangan itu sudah hilang. Ruman menjadi merinding, kemudian ia segera menutup pintu rumahnya dan masuk kedalam menemui istrinya.


__ADS_2