Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
76. Pak Ahmad Rupanya Pintar


__ADS_3

"jadi, tadi saya dan Mawar, melihat suami saya dibelakang sedang mengitari sebuah pohon mangga, Pak! Mulutnya komat Kamit sambil menebarkan sesuatu, yang tidak kami ketahui apa itu. Lalu tiba-tiba saja, suami saya datang dari belakang kami. Jadi, setalah itu, saya segera membawa pergi suami saya kemari. Sebab, saya yakin orang yang tengah mengitari pohon mangga itu bukanlah suami saya," tutur Bu Saras.


Ruman yang mendengarkan penuturan istrinya menjadi mengerti. Ia kemudian menghela nafas lalu menganggukan kepalanya perlahan.


"Iya iya. Pilihan ibu sudah tepat. Orang yang menyerupai wajah Pak Ruman, dia sebenarnya nenek itu. Dia sudah mulai proses penukaran jiwa Mawar," ucap Pak Ahmad.


"Apa, Mawar memang mempunyai saudara kembar, Pak, Bu,?" tanya Pak Ahmad lagi.


"Punya, Pak! Tapi, dia sudah meninggal ketika dilahirkan. Waktu itu, ada Nenek yang bernama Jamilah, membantu proses melahirkan istri saya. Waktu itu, saya seperti di jebak olehnya. Sehingga mau tidak mau saya harus membawanya pulang ke rumah. Nek Jamilah mengincar ari-ari dari kedua anak saya, Pak! Nek Jamilah berhasil memakan separuh ari-ari itu. Separuhnya lagi, berhasil diselamatkan oleh Ayah saya. Tapi, saya tidak tahu dimana tempat penguburan ari-ari dan anak saya yang meninggal itu. Sebab, setelah ayah saya berduel dengan Nek Jamilah, dan berhasil menguburkan anak saya, beliau tidak cerita apa-apa, beliau keburu meninggal," terang Pak Ruman.


"Itulah mengapa, anak bapak yang meninggal menjadi cucu dari Nek Jamilah. Siapa nama anak bapak yang meninggal itu?" tanya Pak Ahmad.


"Mada, Pak!" jawab Ruman lagi.


"Mada. Sebenarnya pada saat itu dia masih hidup, tapi sudah dikendalikan oleh Nek Jamilah. Nek Jamilah sudah menguasai dirinya. Sehingga pada saat ari-ari itu dimakan, Mada pun meninggal," tutur Pak Ahmad.


"Tapi, kejadian itu sudah sangat lama, Pak! Kenapa tiba-tiba bisa kembali lagi si nenek itu!" tanya Saras.


"Saya tanya dulu. Dimana tempat Ayah Pak Ruman, memenjarakan nek Jamilah?"


"Menurut warga, di rawa yang sekarang sudah menjadi kawasan, Pak!" jawab Ruman.


"Apa rawa itu, jalur yang kalian gunakan untuk mencari Mawar, dulu?" tanya Pak Ahmad.


"Iya, benar sekali, Pak!" jawab Saras.

__ADS_1


Marsel dan Mawar masih menyimak saja. Belum ikut andil memberi suara.


"Nah, itu dia. Sebenarnya, keselongnya Mawar, waktu itu memang sudah direncanakan oleh Nek Jamilah. Waktu kalian melewati rawa itu, kalian pasti melihat suatu keganjilan di mata kalian. Benar kan?"


"Iya benar, Pak Ahmad. Saya memang melihat Mada waktu itu dengan tatapan yang sangat marah dan menyeramkan. Tapi, saya hanya bisa diam karena Pak Ridwan mewanti agar tidak bicara," jawab Saras.


"Benar, saya juga melihat Nek Jamilah bersama Mada waktu itu, mereka bilang akan segera datang waktu itu," sambung Ruman.


"Dan, kamu, Marsel!" tanya Pak Ahmad.


Marsel yang tengah diam mendadak terkejut atas pertanyaan bapaknya.


"Aku, aku hanya disuruh untuk tetap memejamkan mata, Pak! Pada saat kembali, saya merasakan ada benda padat kenyal, berlendir dan bau amis. Dia bergerak-gerak. Saya juga mendengar suara Mawar, itu saja!" jawab Marsel.


Pak Ahmad tersenyum, dia mengerti sekarang. Pak Ahmad mengelus janggutnya sambil tersenyum. Pak Ruman dan Saras saling memandang tidak mengerti dengan sikap Pak Ahmad. Mereka juga tidak menyangka kalau calon besaan mereka ternyata pintar dan mengetahui banyak hal.


Penjelasan Pak Ahmad, membuat semua orang yang mendengarnya tak percaya.


"Tapi Pak, kenapa Mada, bisa jatuh cinta kepada Marsel?" tanya Mawar.


"Sebab, dia memang dikendalikan oleh Nek Jamilah. Kalo kamu menikah, dia juga akan menikah. Sebenarnya, dari bayi Mada sudah dikuasai oleh Nek Jamilah. Sebab ari-arinya itu," terang Pak Ahmad.


"Lalu, bagaimana agar kami terbebas dari Nek Jamilah itu, Pak!" tanya Ruman.


"Mohon maaf sebelumnya, Pak Ruman. Acara pernikahan ini sebaiknya diadakan secara sederhana saja. Yang penting sah,"

__ADS_1


"Loh, kenapa seperti itu, Pak!"


"Ini untuk menghindari kecemburuan Mada terhadap Mawar. Setiap bapak ingin meramaikan pernikahan Mawar secara besar-besaran, Mada akan marah. Itulah mengapa, pada saat itu, ada suara barang pada jatuh di dapur Pak Ruman. Itu sebenarnya Mada, yang melakukannya," tutur Pak Ahmad.


"Apa benar, Pak? Tapi, kenapa Mada bisa melakukan itu? Dia kan sudah meninggal," ucap Ruman.


Pak Ahmad menghela nafasnya. "Seperti yang saya bilang sebelumnya, Pak. Saya tidak akan menjelaskan untuk kalimat yang sudah saya ucapkan. Saya akan menjelaskan tentang hal lain, agar jiwa Mawar tidak jadi di tukar oleh Nek Jamilah," ucap Pak Ahmad.


"Ta ...."


Bu Saras meremas tangan Ruman, sebagai kode agar diam dan menurut.


"Kata Marsel, nek Jamilah akan jadi sinden diacara pernikahannya. Tentu saja kalo Pak Ruman menanggap campursari. Tapi, kalo acaranya dibuat sederhana tanpa ada pertunjukan apapun, Nek Jamilah tidak akan bisa menukar jiwa Mawar. Karena mantranya dari ia menyinden itu. Saya tau, sekarang Nek Jamilah masih melakukan ritual pembangkitan Mada supaya jiwanya terus melayang. Tapi, dengan adanya Mawar, disini, Nek Jamilah akan sedikit kesusahan. Kalo saja kalian tidak datang malam ini, mungkin sampai acara pernikahan selesai pun, kalian tidak akan bisa keluar lagi. Terlebih lagi, Mawar. Mawar akan terpenjara selamanya dalam alam baka. Dia akan menjadi budak di sana. Sementara Mada, dia hidup sebagai Mawar, namun seperti orang mati. Saya sarankan agar kalian tetap di sini. Saya curiga, jasad Mada, dan ari-ari Mawar, terpendam di bawah pohon Mangga itu. Karena ari-ari itu adalah milik Mawar, selain Mada, Mawar juga bisa mengambilnya," terang Pak Ahmad.


Mereka semua yang mendengarnya merasa merinding. Terlebih lagi, Mawar.


Pak Ruman berpikir keras. Dia orang berada, dan juga sebagai bos. Kalo acara hanya dilakukan sederhana, apa kata orang nantinya. Terlebih lagi undangan yang sudah tersebar.


"Apa tidak ada cara lain, Pak? Masa acara pernikahannya sederhana. Saya malu nanti," terang Ruman.


"Bapak tinggal pilih saja. Mau Mawar mati dan jadi budak, diganti dengan Mada yang sudah jelas mati. Atau mementingkan ego bapak. Tapi satu kerugian besar yang akan bapak terima. Jika rencana nek Jamilah berhasil, dia akan hidup enak, awet muda, dan akan mengincar ari-ari dari bayi kembar lagi,"


"Sudah lah, Pak! Kita nurut saja. Kita bisa memeriahkan acara pernikahan Mawar, jika masalah ini sudah selesai. Yang terpenting sekarang adalah untuk menghindari si nenek Jamilah itu," ucap Saras memberi pengertian.


"Nah, benar apa yang dibilang Bu Saras. Seperti itu lebih baik, jika bapak malu," ucap Pak Ahmad.

__ADS_1


Pak Ruman masih diam. Yang dikatakan Saras memang benar. Daripada ia kehilangan anaknya untuk selamanya, lebih baik dia membatalkan acara meriahnya itu.


__ADS_2