Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
Bab 17 : Tidak Kuat


__ADS_3

Pertunjukan memakan gadis, terulang kembali. Kali ini, Mira mengajak Mawar untuk menuju ke belakang panggung, saat acara pertunjukan selesai.


"War, ingat yah, nanti setelah Ndoro Kusuma habis makan, kita langsung berlari menuju belakang panggung." perintah Mira kepada Mawar. Mawar menganggukan kepalanya.


Begitu gamelan di tabuh, semua para gadis ikut menari mengikuti sang penari yang berada di atas panggung.


Saat musik berhenti mereka serentak mematung, dan saat musik kembali di tabuh, mereka kembali berjoged.


Tiba saatnya Ndoro Kusuma untuk memakan satu gadis lagi. Ndoro Kusuma berubah menjadi barong, dan terbang di atas para gadis, memilih siapa yang akan di lahapnya kali ini.


Setelah Ndoro Kusuma mendapatkan gadis yang ia inginkan, kembang api keluar dari dalam mulutnya, gamelan di tabuh lagi. Semuanya berjoged kembali. Mira dan Mawar segera berlari melalui jalan samping supaya tidak di lihat oleh Burhan dan Dayang yang lainnya.


Mereka berlari tanpa alas kaki. Untunglah tenaga mereka masih full. Mawar dan Mira telah sampai di belakang panggung, mereka kemudian berlari masuk ke dalam hutan. Baru saja menapakan kakinya di dalam hutan, ribuan pocong menyerbu mereka, suara kuntilanak bersahutan di atas pohon. Segala bangsa dedemit muncul disana. Setan bermuka rata, hantu tanpa kepala, hantu walang kedepleng, dan masih banyak jenisnya. Bahkan Mak lampir ikut serta mengejar mereka.


"Mau kemana? Anak manis ... Mari ikut dengan kami ... Ahihihihi ..." suara Mbak Kunti terdengar melengking.


"Mir, aku sudah tidak kuat berlari Mir." Kata Mawar yang berlari di samping Mira dengan nafas tersengal-sengal. Tenggorokannya sudah terasa kering.


"Kita terus berlari, War. Tahanlah sebentar. Apapun yang terjadi, kamu jangan menengok ke belakang." Mira mengingatkan Mawar.


"Mawar,"


Mawar berhenti dan kemudian langsung menengok ke belakang karena mendengar suara yang familiar seperti suara Ibunya, Namun, ternyata suara itu hanya suara dedemit, Mawar kemudian di lilit dengan rambut panjang yang menyerupai Wewe Gombel. Mira terkejut karena Mawar telah di tangkap oleh Wewe Gombel.


Mawar ketakutan begitu melihat wajah demit itu yang seperti monster. Bertaring panjang, dengan mulut menganga terlihat gigi-gigi hitamnya sebesar biji salak. Matanya bulat besar berwarna merah hampir keluar, seluruh badanya berwarna hitam, dia memiliki sungut. Mawar tidak kuat menatap dedemit itu, kemudian Mawar pun pingsan. Para dedemit di sana tertawa kegirangan. Mira kemudian terus berlari, Namun tiba-tiba ada sabetan dari belakang, sehingga ia pun terjatuh dan seketika pingsan juga.


Para dedemit bersorak kegirangan. Suara tawa mereka menyeruak memenuhi isi hutan.


Pak Kyai tengah bermeditasi di atas sajadahnya di ruangannya sendiri, sambil memutar-mutar tasbihnya dan berdzikir menyebut nama Alloh. Dia berusaha untuk merogoh sukmo.


Jiwa Pak Kyai tiba di sebuah ujung jalan yang kanan kirinya menjulang tinggi pohon berumur. Pak Kyai tidak tau sampai mana ujung jalan ini, tapi sepertinya ujung jalan tersebut akan menuju sebuah petilasan karena diujung jalan tersebut ada sebuah anak tangga yang sudah berlumut. Jarak berdiri antara Pak Kyai dan ujung jalan itu sangat jauh, Namun, Pak Kyai bisa melihatnya dengan jelas.


Pak Kyai tidak melanjutkan perjalannya menuju petilasan tersebut. Pak Kyai lebih tertarik dengan jalan setapak yang ada disebelah kiri jalan itu. Pak Kyai kemudian masuk kedalam jalan setapak tersebut. Hawa dingin dengan aura negatif langsung terasa. Lima meter dari tempatnya berdiri, Pak Kyai melihat sebuah motor yang meringkuk di semak-semak.


Pak Kyai berjalan menghampiri motor tersebut, meski badanya sudah mulai terasa panas dan pegal, ia tetap melanjutkan langkah kakinya. Pak Kyai tahu, ada banyak mata yang mengintainnya. Namun, para mata tersebut tidak berani keluar untuk melawan Pak Kyai.

__ADS_1


Setelah sampai di samping motor tersebut, Pak Kyai memeriksa kondisinya, motor itu sudah di lilit oleh banyak akar, dan warna cat motor tersebut juga sudah luntur. Tiba-tiba datang serangan dari belakang yang membuat tubuh Pak Kyai terpental jauh membentur pohon besar.


"Ouhg, ough" Pak Kyai terbatuk hingga mengeluarkan darah. Beliau kemudian menarik nafas panjang dan mulai fokus hati dan pikirannya. Beliau memejamkan mata dan mulai merapalkan do'a.


"Hahahahahha ... " Suara tawa menggelegar terdengar, Namun wujudnya tidak terlihat.


"Kamu mau mengantar nyawamu ke sini, Pria Bersorban? Hahahaha, do'amu tidak mempan. Hahahaha."


Mahluk dengan tinggi besar seperti monster, dengan mata bulat merah dan taringnya yang panjang sebesar pohon kelapa tiba-tiba menampakan diri. Lidahnya terjulur hingga menyentuh tanah.


Pak Kyai terus berdo'a dengan khusyuk. Nafasnya kini mulai tersengal. Mahkluk tersebut menatap Pak Kyai dengan tatapan marah.


"Kamu tidak akan mampu melawanku, berani menatapku saja, matamu akan buta, hahahaha."


Suara tersebut begitu memekikan telinga. Demit tersebut hanya perlu menunduk sedikit sudah bisa melihat Pak Kyai dengan jelas. Pak Kyai hanya bisa melihat hidungnya saja yang mengeluarkan lendir, ketika ia membuka mata. Hidung Pak Kyai mengeluarkan darah, tenaganya kini habis, Pak Kyai kemudian segera pergi, jiwanya kembali ke dalam raganya. Dedemit itu tertawa penuh kemenangan.


"Dasar, manusia kemaren sore mencoba melawanku, hahahaha." Kata Demit tersebut dengan suara yang bisa menggetarkan bumi.


Pak Kyai terpental, dan memuntahkan darah segar dari dalam perutnya. Hidungnya pun mengeluarkan darah. Beliau terkulai lemas, tenaganya benar-benar habis.


"Inalillahiroji'un, Abah,"


Bu Nyai segera memanggil asistenya untuk membersihkan darah segar yang memenuhi sajadah.


"Rina, tolong kamu bawa sajadah ini, segera di cuci yah,"


"Baik, Nyai."


"Tolong panggilkan Aziz dan Dimas juga. Segera ya, Rin." Bu Nyai terlihat begitu khawatir melihat kondisi Pak Kyai yang sudah pucat.


Bu Nyai mengelap darah yang keluar dari dalam hidung Pak Kyai. Aziz dan Dimas kemudian datang.


"Sendiri dawuh, Bu Nyai ... Inalillahi, Pak Kyai kenapa, Bu?"


Aziz kaget dan berlari ketika melihat kondisi Pak Kyai, demikian juga dengan Dimas. Mereka kemudian ikut bersimpuh.

__ADS_1


"Tolong bawa Pak Kyai ke kamar yah, jangan lupa, gantikan jubahnya." Perintah Bu Nyai.


"Nggeh, Bu Nyai."


Aziz dan Dimas membopong Pak Kyai untuk di rebahkan di ranjang, kemudian, mereka mengganti pakaian Pak Kyai.


Bu Nyai ke dapur untuk mencuci tangannya yang terkena darah Pak Kyai, sekaligus ingin mengambil air hangat, untuk menyeka hidung Pak Kyai, dan juga segelas air hangat untuk beliau minum.


"Abah, bangun dulu, ayo minum dulu, Abah,"


Aziz dan Dimas membantu tubuh Pak Kyai untuk setengah berdiri supaya bisa minum. Ketika sudah minum, Pak Kyai di rebahkan lagi.


Mereka bertiga belum berani bertanya, mereka hanya bisa memandang tubuh Pak Kyai yang terkulai lemas, bibirnya terus menyebut asma Alloh.


"Tolong beri aku selimut, tubuhku kedinginan." Perintah Pak Kyai dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar karena menggigil. Bu Nyai dengan cekatan mengambil selimut tebal dan menyelimuti tubuh Pak Kyai.


Mereka bertiga sangat khawatir dengan kondisi Pak Kyai.


"Aziz, Dimas, jangan sampai kabar ini bocor keluar yah, saya khawatir para santri nanti malah panik. Cukup kita saja di sini yang mengetahuinya. Dimas, tolong ambilkan minyak kayu putih," kata Bu Nyai dengan lembut, Namun, terdengar khawatir.


"Nggeh, Nyai." jawab Dimas sambil berlalu pergi.


"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Pak Kyai, Bu?" Aziz mencoba bertanya kepada Bu Nyai.


"Saya sendiri juga tidak tau, Ziz, saya kaget saat mendengar suara Pak Kyai terbatuk, saya langsung masuk karena saya dari tadi menunggu beliau di luar pintu. Saya shock saat melihat Pak Kyai sudah memuntahkan darah, hidungnya juga mengeluarkan darah." Terang Bu Nyai.


"Kondisi, Pak Kyai setelah perjalanan kemaren masih belum stabil, Bu Nyai, beliau kurang sehat." kata Aziz.


Aziz dan Dimas anak didik Pak Kyai yang sudah dari kecil menemani perjalanan Pak Kyai kemanapun, Pak Kyai pergi. Jadi, Aziz dan Dimas tau betul kondisi Pak Kyai dari luar maupun dalam.


Dimas kemudian datang dengan membawa minyak kayu putih. Tanpa di suruh lagi, Dimas mengolesi minyak kayu putih, ke telapak kaki, tangan, dan tiap siku di tubuh Pak Kyai.


"Pak Kyai menggigil, Ziz." Kata Dimas.


"Iya, sepertinya beliau melawan mahkluk yang tidak biasa, Dim." jawab Aziz.

__ADS_1


Mereka bertiga berdiri menunggu Pak Kyai membaik sambil terus berdo'a.


__ADS_2