Sebelum 365 Hari

Sebelum 365 Hari
72. Njlimet


__ADS_3

Mawar dan Bambang segera masuk ke dalam rumah. Mereka mencari Pak Ruman dan juga Bu Saras. Sementara para tetangga hilir mudik mulai masak-masak untuk selametan.


"Bi, Bapak sama Ibu kemana?" tanya Mawar kepada Bi Minah.


"Oh, mereka berdua pergi nyari catering, Mbak! Sama mengunjungi kerabat-kerabat dekat katanya," jawab Bi Minah.


"Oh begitu. Bi saya mau bicara sebentar sama bibi. Kita bisa ke depan, Bi?" tanya Mawar dengan sopan.


"Mau bicara apa, Mbak? Saya disuruh Bapak untuk mengatur masakan hari ini,"


"Sebentar saja koq,"


Bi Minah terdiam sejenak ia kemudian menyetujui permintaan majikan mudanya.


"Baiklah, Mbak! Sebentar yah, saya tak bilang orang dapur dulu," jawab Bi Minah kemudian langsung pergi ke dapur.


Sementara Bambang dan Mawar langsung kembali duduk di teras depan rumah.


"Wati, Wat!" seru Bi Minah kepada Wati.


Wati yang tengah sibuk mengupas bawang sambil mengobrol, kemudian mendongakan wajahnya mencari sosok yang memanggilnya.


"Sini sebentar, Wat!" ucap Bi Minah dari ambang pintu.


Wati menghentikan aktifitasnya, kemudian berdiri dan menghampiri Bi Minah.


"Ada apa, Bi?" tanya Wati.


"Ini, saya ada urusan sebentar. Kamu handle masalah dapur yah. Kentangnya itu nanti di potong dadu, terus tambah kacang kapri. Pake cabe ijo nyerong. Di lodeh seperti biasa,"


"Oh, iya iya. Terus itu bikin serundeng juga gak?" tanya Wati.


"Bikin, tapi jangan banyak-banyak. Oh iya, ayamnya ada di kulkas, suruh Neni dan yang lain untuk menyucinya. Abis itu jangan lupa langsung di rebus. Bikinin bumbu sekalian,"


"Ah, kalo bikin bumbu gak bisa, Bi. Bibi aja yang bikin bumbu ntar,"


"Ya sudah gak papa, nanti saya yang bikin bumbunya. Yang penting udah dibersihkan yah,"

__ADS_1


"Siap!"


"Saya mau ke depan sebentar," ucap Bi Minah saambil berlalu dari pandangan Wati.


Wati akhirnya memberitahu teman-temannya untuk melaksanakan tugas yang sama persis dengan perintah Bi Minah.


Bi Minah menemui Bambang dan Mawar di teras.


"Ada apa, Mbak? Koq kelihatannya serius sekali," ujar Bu Minah yang langsung duduk di anak tangga teras.


"Benar, Bi. Ini sangat penting. Tapi jangan bicara di sini. Kita perlu pergi keluar," terang Mawar membuat Bi Minah heran.


"Kenapa harus keluar, Mbak? Nanti kalo ada yang nyariin saya gimana?" tanya Bi Minah.


"Cuman sebentar koq, Bi. Kita pergi ke warung bakso depan yah," ajak Mawar.


"Waduh, jauh itu mah. Kenapa gak di sini saja, Mbak! Saya yakin gak ada yang denger koq," jawab Bi Minah.


"Bi, tadi memangnya Pak Ruman ngasih undangan ke saya?" tanya Bambang menyela.


"Eh, Mas Bambang! Iya, koq sampean sudah di sini saja! Cepet banget nyebar undangannya," ucap Bi Minah yang baru menyadari kehadiran Bambang.


"Bi, itu jelas bukan saya. Saya sedari tadi bersama, Mbak Mawar!" jawab Bambang.


"Loh! Bagaimana bisa seperti itu, Mas?" tanya Bu Minah.


"Kalo bibi mau tau, kita harus bicara. Tapi jangan di sini," ujar Mawar lagi.


Setelah berfikir cukup lama, Bi Minah akhirnya mau diajak keluar untuk membicarakan masalah nek Jamilah dan Mada.


Mereka kemudian menaiki sepeda motor dengan berboncengan. Posisi Bi Minah berada di tengah, dan Mawar berada di belakang.


Setelah sepuluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai. Mawar memesan tiga mangkok bakso untuk mereka makan sambil berbincang. Mawar mengutarakan semua hal yang menimpanya di rumah. Demikian juga dengan Bambang. Mereka saling terbuka menceritakan setiap kejadian yang menimpa mereka masing-masing.


Bi Minah terperanjat mendengarkan kisah Mawar, dan juga Bambang. Bakso yang ia pesan hampir tidak ia sentuh karena saking seriusnya ia bercerita.


"Jadi, sebenarnya ada kejadian besar apa di masa lalu, Bi?" tanya Mawar perlahan.

__ADS_1


Bi Minah menghela nafas panjang menceritakan kejadian saat Saras melahirkan dulu. Mawar terbelalak mendengar rentetan cerita yang cukup mengerikan itu. Bambang tak kalah merindingnya dengan Mawar.


"Jadi, sebenarnya saya punya saudara, Bi?" tanya Mawar cukup kaget.


Bi Minah mengangguk lemas, "iya, Mbak!"


"Tapi, kenapa bapak tidak pernah mau cerita! Lalu dimana kuburan saudara saya itu?" tanya Mawar kembali.


"Saya sendiri juga tidak tau. Soalnya yang menguburkan ari-ari dan Mada, itu ayahnya Pak Ruman, Mbak!"


"Kenapa tidak bertanya, Bi?" tanya Mawar geram.


"Belum sempat bertanya, Mbah Kakung sudah meninggal duluan saat menggendong, Mbak Mawar! Mungkin tenaganya habis atau apa saya tidak tau,"


Mereka bertiga terdiam sejenak berkutat dengan pikiran masing-masing.


"Apa pernikahan ini harus di tunda atau bagaimana ya, Bi? Soalnya, nenek itu menemui Mawar, dan mengatakan akan menjadi sinden. Dia akan menukar tubuh Mawar dengan cucunya. Apakah yang dia anggap cucu itu, Mada?" tanya Mawar yang tidak paham.


"Iya, Mbak! Mada yang dianggap cucu oleh Nek Jamilah. Sebab, Mada pernah bercerita soal itu kepada saya," terang Bambang.


"Lalu, kenapa dia ingin menukar tubuhku?" tanya Mawar kembali.


Mereka terdiam kembali mencoba merangkum setiap cerita yang telah mereka ucapkan satu sama lain.


"Oh iya, apa karena Nek Jamilah, ingin mengambil kembali ari-ari yang belum sempat ia habiskan itu ya?" tanya Mawar lagi.


"Iya benar, Mbak! Menurut saya juga begitu. Karena memang dulu, kata tetangga yang melihat, pada saat pertarungan Mbah Kakung dan Nek Jamilah, ari-ari itu posisinya sudah berada di mulut Nek Jamilah, sebagian masuk ke dalam mulutnya, sebagian berhasil di rebut Mbah Kakung," terang Bi Minah.


"Lalu, kenapa Nek Jamilah bisa bebas dari jeratan itu, Bi?" tanya Mawar.


"Bibi tidak tau, mungkin posisinya pas saat pencarian, Mbak Mawar dulu. Kan lewat rawa-rawa yang dijadikan penjara itu, Mbak! Tanpa sengaja, dengan dibukanya rawa itu kembali, berarti sama saja membebaskan Nek Jamilah. Mungkin seperti itu. Saya juga kurang paham, soalnya saya tidak ikut. Coba saja, Mbak Mawar tanya sama, Bapak atau ibu. Barangkali, saat mereka melewati rawa, ada hal ganjil yang mereka alami," tutur Bi Minah.


Mawar menganggukan kepalanya tanda mengerti. Ia memang berencana untuk menanyakan hal itu kepada orang tuanya. Mawar berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Berarti kita harus lebih waspada! Takut jika Nek Jamilah akan merubah diri, menyerupai salah satu diantara kita. Soalnya kejadian ini sudah berulang kali untuk mengecoh kita semua. Untung saja, kita mau terbuka satu sama lain. Jika kita saling tertutup, saya tidak yakin bisa menemukan jalan keluar," terang Bambang.


"Iya benar apa yang kamu katakan, Mas Bambang. Ngomong-ngomong, kamu bisa menemui Mada kembali? Gali lah lebih banyak informasi darinya, katakan dimana ia tinggal sekarang!" ucap Mawar.

__ADS_1


"Iya, jika ada kesempatan, saya akan bertanya pada dirinya. Tapi, kali ini, Mada berubah menjadi seram lagi. Ia marah. Mbak ingat saat berdebat dengan Pak Ruman masalah tamu undangan? Dan barang-barang dapur berantakan, itu semua karena Mada marah. Mungkin dia iri karena Pak Ruman selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Mbak Mawar. Sedangkan ia sendiri, rumah yang nyaman pun tak punya," ucap Bambang.


__ADS_2