
Kang Ridwan tampak resah.
"Semoga, belum terlambat, ya Alloh," batin Kang Ridwan.
"Kyai, coba, Pak Kyai meditasi, cari lah, Mamat! Saya merasa khawatir. Padahal saya sudah berjanji, sehabis, Mawar ditemukan, saya akan segera menyusulnya ke Pantai. Tapi, saya malah lupa!" kata Kang Ridwan merasa bersalah.
"Tenang, Kang! Jangan panik seperti itu. Jika memang ini bukan takdir Mamat, dia pasti akan selamat," kata Pak Kyai mencoba menenangkan Kang Ridwan.
"Iya, tapi tetap saja, saya merasa bersalah, Kyai!"
"Bismillah, saya akan mencoba meditasi. Tapi, saya tidak tau bin–nya si, Mamat!" kata Pak Kyai tiba-tiba.
"Astaghfirulloh," Kang Ridwan menepuk kepalanya sendiri.
"Tanya sopir yang lain, Kang! Barangkali ada yang tau," ucap Pak Kyai.
"Ya sudah, di sana saja nanti meditasinya," jawab Kang Ridwan.
Kang Ridwan terus bedo'a dan berdzikir untuk keselamatan Mamat.
"Loh, tongkat delimanya dimana!" seru Kang Ridwan sedikit kaget.
"Kamu tidak membawanya, Kang! Tadi saya lihat, kamu senderkan di dekat sofa ruang tamu," ucap Pak Kyai.
"Ya Robbi! Maafkan hamba mu ini. Hamba banyak dosa, sehingga mudah lupa," ucap Kang Ridwan yang merasa cemas karena memikirkan Mamat.
"Sabar, Kang! Jangan panik begitu! Njenengan kan bisa menerawang hal-hal masa lalu, dan juga masa yang akan tiba, coba saja diterawang pake mata batin njenengan. Si Mamat dimana sekarang! Supaya ada sedikit pencerahan," kata Pak Kyai.
"Tidak bisa, Kyai! Pikiran saya sedang kacau,"
"Kalau kamu merasa kacau, bagaimana caramu untuk menyelamatkan, Mamat!" tutur Pak Kyai.
"Astaghfirulloh! Astaghfirulloh,"
"Sabar, Kang! Hiruplah nafas, dan keluarkan perlahan. Lakukan berulang," ucap Pak Kyai.
__ADS_1
Kang Ridwan menuruti perintah yang diucapkan Pak Kyai. Setelah beberapa kali melakukannya, ia merasa tenang.
Aziz dan Dimas hanya diam menyimak obrolan antara Pak Kyai dan juga Kang Ridwan, tanpa bertanya apapun.
Kang Ridwan kemudian menghirup nafas panjang, ia menahan nafas tersebut, kemudian memejamkan matanya dengan dilihatnya Mamat bersama siluman Bayong.
Setelah melihat pemandangan itu, pandangan tersebut kemudian hilang, dan digantikan dengan sebuah tulisan-tulisan Jawa kuno.
"Siluman Bayong adalah penunggu rawa Babakan, yang sudah ada pada abad kuno. Orang yang sudah mengganggu di rawa tersebut, akan di makan oleh ikan Bayong, dan akan di keluarkan di pantai Selatan. Ikan Bayong merupakan anak buah Nyi Roro kidul yang bertugas menjaga rawa Babakan. Orang yang berhasil di bawa oleh Bayong, bisa menjadi budak dan menetap di sana selamanya, jika orang tersebut memakan suguhan yang diberikan oleh Bayong. Atau, orang itu bisa kembali, dengan tawaran pesugihan. Atau tidak keduanya, tetapi pulang dalam keadaan tak bernyawa. Orang yang tenggelam di laut, tidak akan bisa selamat, meskipun orang tersebut bisa mengarungi lautan,"
(Ini hanya fiksi karangan author, jadikan hiburan saja, yah)
Kang Ridwan kemudian membuka matanya. Dia menghembuskan nafas panjangnya, yang sedari tadi telah di tahan.
"Bagaimana, Kang! Apa yang kamu dapat?" tanya Pak Kyai penasaran.
"Berdo'a saja, Kyai, semoga masih ada waktu. Kita serahkan semuanya kepada sang Khaliq. Mungkin ini sudah menjadi jalan bagi Mamat," ucap Kang Ridwan lesu.
Sementara di dalam mobil Pak Ruman.
"Maaf ya, Tun! Si Mamat masih ada tugas dari bos, jadi belum bisa pulang. Kebetulan orangnya gak sama aku,"
"Oh begitu, tapi kenapa nomornya tidak bisa dihubungi ya, mas Juned?" tanya istri Mamat dari seberang sana.
"Mungkin batreynya habis, dan lupa buat ngecas,"
"Oh, nanti kalo mas Juned ketemu sama suami saya, tolong dibilangin ya, Mas, kalo saya nelpon. Kalo boleh minta tolong, bisakah Mas Juned, meminjami saya uang terlebih dahulu? Untuk kontrol anak saya, Mas!" ucap Atun dengan sendu dari seberang sana.
Juned menghela nafasnya. Ia sendiri tengah butuh uang. Dengan pekerjaan yang diberikan Pak Ruman, dan bayaran yang lumayan besar, rencananya, Juned akan membeli sepeda motor, guna antar jemput anaknya sekolah. Supaya istrinya tidak perlu capek lagi jalan kaki, mengantar anaknya dengan jarak jauh.
"Iya, Tun, nanti saya bilang sama Mamat ... Kalo soal uang, mohon maaf, Tun, saya belum bisa meminjami, maaf ya ...." ucap Juned menahan rasa tidak enaknya.
"Memangnya, berapa uang yang dibutuhkan istrinya Mamat, Jun?" tanya Ruman tiba-tiba menyela.
Juned menengok ke belakang sebentar melihat Pak Ruman, Juned kemudian bertanya kepada Atun. "Eh, Tun, kalo boleh tau, berapa uang yang kamu butuhkan?"
__ADS_1
"Sekitar satu juta, Mas! Untuk biaya kontrol dan menebus obat," jawab Atun dengan penuh harap.
Juned menjauhkan teleponnya, kemudian menjawab Pak Ruman, "butuhnya satu juta, Pak! Untuk kontrol dan juga tebus obat,"
"Oke, saya akan tranfer sekarang juga, kirim nomor rekeningnya," jawab Pak Ruman sambil mengeluarkan hape dari dalam saku celananya.
"Tun, kirimkan nomor rekeningnya sekarang ya! Saya tutup dulu teleponnya ... Iya, Tun ... Iya, baiklah ... saya lagi nyopir soalnya ... Iya, iya, iya, Tun! ... Wa'alaikumsalam,"
Juned mengakhiri percakapannya dengan istri Mamat dengan salam. Ia menghela nafas lega, tapi juga tidak enak karena harus berbohong.
Klunting!
Nomor rekening sudah Atun kirim. Mamat kemudian membacakan nomor tersebut kepada Pak Ruman. Lalu, uang senilai 1.500.000 berhasil dikirimkan oleh Pak Ruman.
Tak berapa lama lagi, pesan dari Atun masuk kembali.
"Mas Juned, terimakasih ya. Tapi ini jumlahnya kebanyakan, saya perlunya satu juta, kenapa jadi satu juta limaratus?"
Juned membaca pesan tersebut kemudian bertanya kepada Pak Ruman, "Pak, bapak kirim satu juta limaratus?"
"Iya, bilang saja, itu uang bayaran Mamat, lebihnya akan saya tranfer nanti," jawab Pak Ruman.
Juned mengangguk, ia kemudian membalas pesan Atun.
"Sebenarnya, itu bayaran Mamat, Tun. Lebihnya akan di tranfer nanti," balas Juned.
Juned mengakhiri percakapan pesan tersebut, ia kemudian memegang kepalanya yang berdenyut. Bambang yang sebenarnya tengah menyopir, melirik Juned.
"Semoga, Mamat baik-baik saja ya, Jun!" ucap Bambang sambil menyetir.
"Amin, Mbang!" jawab Juned sambil melihat ke luar jendela.
"Saya merasa kasihan sama dia. Kemaren, sebelum ada project dari Pak Ruman, Mamat cerita, kalo anaknya sakit jantung, dan harus sering kontrol. Karena ia tidak mampu buat pasang ring yang sangat mahal itu. Terlebih lagi, ia punya cicilan bank. Dia juga bilang, kalo dia diminta–i uang oleh istrinya, saat tak ada duit sama sekali, ia hutang ke rentenir. Dan hutang itu sekarang telah berbunga. Kasihan pokoknya, Mbang!" jawab Juned kepada sopir yang bernama Bambang itu.
Bambang belum punya istri, apalagi anak.
__ADS_1
Ruman merasa kasihan mendengar cerita Juned. Dalam hatinya, ia ada maksud untuk menambah bayaran Mamat, nanti jika ia sudah bertemu dengan Mamat, dan akan memberikannya langsung. Ruman merasa bersalah juga kepadanya, karena menghilangnya Mamat, gara-gara dirinya yang memakai jasanya. Untuk ikut andil dalam pencarian Mawar.