
"Mawar, Mawar. Bangun, Mawar!"
Mira mengguncang tubuh Mawar agar segera bangun dari pingsannya.
Mawar kemudian membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pening. Ia kemudian segera terbangun dan memeluk Mira dengan erat. Mawar menangis sesenggukan di pelukan Mira. Mira tersenyum dan mengelus punggung Mira.
"Kamu tidak apa-apa kan, Mir?" tanya Mawar sambil mengusap air matanya.
"Tidak apa-apa, War! Ayo, sebaiknya kita segera temukan makam Raden K, mumpung Ndoro Kusuma masih bertarung dengan Patih," ucap Mira.
"Iya, Mir! Ayo, kita bersama-sama saja yah!" ucap Mawar sambil menggenggam tangan Mira erat.
"Tidak, War! Sebaiknya kita berpencar saja. Kamu carilah ke depan sana, aku akan mencarinya di sekitar sini," tolak Mira dengan halus dan melepaskan tangan Mawar.
"Tapi, Mir! Aku takut jika ada makhluk menggangguku, bagaimana kalo nanti aku pingsan kembali?" tanya Mawar.
"Tenang saja, sudah tidak akan yang mengganggumu, cepat lah, War! Kamu harus segera menyatukan pusaka Naga itu,"
"Tapi, Mir?"
"War, aku akan menghalau mereka, jika ada yang berani mengganggumu lagi, aku percaya padamu," ucap Mira dengan tegas.
Dengan berat hati, Mawar kemudian berlari meninggalkan Mira sendirian. Mira tersenyum senang, ia kemudian mulai mencari makam Raden K, disekitarnya. Sedangkan Mawar, ia berjalan ke arah barat untuk mencari makam Raden K.
Mawar mencoba untuk membaca tulisan yang berada di nisan kayu, hurufnya membuat matanya pusing.
"Aduh, bagaimana mungkin aku bisa menemukannya, aku saja tidak tau aksara Jawa. Hanacaraka, Hanacaraka ... Apa kelanjutannya?" Mawar mengacak rambutnya sendiri, ia tampak kebingungan.
Mawar mencoba untuk mengingat setiap huruf aksara Jawa yang pernah ia pelajari di bangku sekolah dasar hingga SMK dulu. Tapi tetap saja, pikirannya buntu.
"Kenapa tadi aku tidak bertanya pada, Mira saja soal ini," ucap Mawar kesal.
Mawar melihat ke arah Mira. Mira tengah fokus, membaca setiap nama yang terukir di kayu.
Tapi anehnya, Mira tidak beranjak dari sana. Ia hanya fokus dengan satu makam.
Suara samar Pak Kyai mulai terdengar kembali di telinga Mawar.
"Mawar, kau mendengarku? Jika kamu sudah berada di makam, carilah makam yang di jaga oleh pria bertubuh kekar dengan mata merah, memakai mahkota, dan membawa tombak. Di situlah, makam Raden K berada. Kau tidak perlu takut, penjaga makam Raden K, tidak akan menyakitimu, kamu langsung masuk saja, setelah menemukan makam tersebut,"
"Ke arah mana, saya harus berjalan?" tanya Mawar, namun, suara tersebut sudah hilang kembali.
__ADS_1
"Pak! Pak! Dapatkah anda mendengar suara saya? Kemana saya harus berjalan?" tanya Mawar kembali.
Mawar frustasi, dia lalu berjalan kembali, sambil memicingkan matanya. Tiba-tiba saja, Ndoro Kusuma muncul di depannya.
Mawar kaget hingga ia terjatuh.
"Astaghfirulloh, Ndoro!" seru Mawar dengan nafas yang ngos-ngosan kembali.
"Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Mawar! Kembalikan pusaka itu padaku!" ucap Ndoro Kusuma dengan berang.
Mawar kemudian melihat ke arah pertempuran tadi, di sana, masih banyak prajurit yang bertarung. Bahkan, Patih masih bertarung juga.
Mawar kemudian mengerahkan seluruh tenaganya, biarpun ia merasa ketakutan yang luar biasa, ia mencoba untuk berdiri, kemudian berlari kembali, mencari makam Raden K.
Ndoro Kusuma kemudian menghilang. Mawar melihat ada satu makam di kejauhan sana, makamnya terlihat berbeda, seperti pepunden. Makam tersebut dijaga oleh Pria yang dimaksud oleh Pak Kyai.
"Sudah tidak salah lagi, itu pasti makam Raden K. Aku harus segera cepat sampai ke sana," ucap Mawar sambil mengatur nafasnya.
Tiba-tiba saja, Mira sudah berada di samping Mawar. Mira menawari bantuan kepada Mawar.
"Kalau kamu lelah, aku bisa membantumu membawa pusaka itu, Mawar!" ucap Mira mengagetkan Mawar.
"Mira? Sejak kapan kamu ikut berlari bersamaku, Mir?" tanya Mawar heran, tanpa berhenti berlari.
Mawar merasa ragu, ia kemudian mencoba menengok ke belakang mencari sosok Mira yang lain.
Dengan pandangan yang tidak jelas, Mawar melihat, bahwa siluet Mira masih terlihat di sana. Itu artinya, orang yang sedang berlari dengannya, adalah Ndoro Kusuma.
"Aku tidak akan pernah memberikannya padamu, Mir! Biar aku saja yang membawanya," kata Mawar mempercepat langkah larinya.
Mira sontak merasa marah, ia mendorong tubuh Mawar hingga tersungkur membentur nisan.
"Aduh!" Mawar mengaduh, kepalanya mengeluarkan darah segar.
Benturan di kepalanya begitu keras. Ia mencoba untuk bangun perlahan, tapi Mira malah menariknya dan memukul wajahnya dengan membabi buta.
Mawar merasa kesakitan, ia kemudian melawan Mira. Mawar mengepalkan tangannya. Tatapanya kini berubah menjadi beringas, seperti serigala. Mawar menjambak rambut Mira dengan kuat, kemudian menggigit lehernya.
"Aargghhh," Mira mengerang.
Mawar kemudian berhasil keluar dari cengkeraman Mira. Mawar segera mempercepat laju larinya, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
__ADS_1
Nafasnya semakin berat. Rasa haus sudah mencekat di tenggorokannya. Ingin sekali ia menjatuhkan dirinya, pasrah, dan menyerah. Tapi dia teringat, langkahnya semakin dekat dengan kepulangannya.
Mawar kemudian sampai di makam Raden K.
Tatapan sang penjaga, membuat nyali Mawar ciut untuk masuk ke dalam.
"Mohon maaf, niat saya kemari, ingin mengembalikan pusaka Raden K. Jangan sakiti saya," Mawar menunduk dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Sang penjaga menatapnya dengan tajam. Wajahnya tegas dan menyeramkan. Namun, ia sama sekali tak mengganggu Mawar.
Dengan langkah perlahan, Mawar masuk ke dalam makam Raden K. Suara Ndoro Kusuma dari jauh melolong, memanggil Mawar.
"Mawar! Kembalikan pusaka itu padaku, jika kamu masih ingin hidup," seru Ndoro Kusuma dengan berang.
Mawar tak mengindahkan Ndoro Kusuma. Penjaga yang menjaga makam Raden K, bertarung dengan Ndoro Kusuma dengan sengit.
Mawar mulai mengorek-ngorek nisan Raden K, yang terlihat berbeda dari yang lain. Ukurannya bahasa jawanya, berbeda dari makam yang lain.
"Dimana, aku harus melengkapi potongan pusaka ini?" tanya Mawar kepada dirinya sendiri.
Mawar mencoba mencari diberbagai sudut. Ia tak menemukan apapun. Mawar berhenti sebentar dari aktifitasnya. Ia kemudian mendekati makam Raden K kembali. Mawar berjongkok di belakang kayu nisan Raden K.
Ia memperhatikan kayu tersebut, ada lobang di bawah kayu tersebut.
Mawar kemudian mencoba merabanya dengan perlahan. Ia takut jika tiba-tiba ada tangan yang menariknya.
Mawar memicingkan matanya, ia melongok ke dalam lubang tersebut. Gelap, tidak ada apapun. Lobang tersebut sebesar kepalanya.
"Lobang apa ini? Apakah ini potongan pusaka nya?" ujar Mawar dalam hati.
Lobang tersebut seperti laci yang tak mempunyai tutup, tapi tak bisa ditarik. Mawar kemudian, mencoba meraba dengan kakinya yang panjang.
Satu mata kaki, hingga lututnya, Mawar belum bisa merasakan ada benda di sana, Mawar kemudian mendorong kakinya lebih dalam lagi. Kemudian, ia merasakan ada benda di sana. Mawar mencoba menarik benda tersebut dengan kakinya. Ia berusaha payah mengambil benda tersebut, namun belum juga berhasil. Sementara, pertarungan antara Ndoro Kusuma dan penjaga, masih terdengar sengit dan menyeramkan. Berbagai jurus saling bertabrakan, menimbulkan suara seperti ledakan petasan, membuat Mawar, bolak balik kaget.
"Ya Alloh, tolong lah, hamba–Mu ini. Bantu hamba, menarik benda ini," ucap Mawar dalam hatinya.
Dengan tenaga yang hampir habis, keringat yang terus membasahi tubuhnya, penerangan yang minim, dengan mengandalkan sinar rembulan yang tidak terang, Mawar akhirnya bisa menarik benda tersebut. Perlahan, tapi pasti, Mawar dapat meraih benda itu dengan tangannya, ia merasa bahagia, ketika benda setengah badan Naga itu dapat ia tarik keluar.
Mawar terus mengembangkan senyumnya. Ia menurunkan Puasaka Naga yang ada dalam gendongannya.
"Mawar!" seru Ndoro Kusuma di ambang pintu makan Raden K.
__ADS_1
Mawar membulatkan matanya, hatinya berdebar lebih kencang, hampir saja ia berhasil, Ndoro Kusuma berhasil masuk ke makam Raden K.